Yamaha Aerox

Refleksi Akhir Tahun: Perbaiki Pribadi Bagian dari Membangun Negeri

  Senin, 31 Desember 2018   Adi Ginanjar Maulana
Hendra Wiguna

Konvensi Montevideo tahun 1922 menyatakan bahwa syarat berdirinya suatu negara adalah dengan adanya rakyat, wilayah dan pemerintah yang berdaulat. Tokoh publik yang jadi perbincangan menjelang pencalonan pilpres Mahfud MD menyebutnya sebagai unsur konstitutif, adapaun tambahannya adalah unsur deklaratif.

Tidak terasa tahun 2018 segera berakhir dan berganti menjadi tahun 2019, melihat perjalanan negara ini di tahun 2018 tentu lain orang lain cerita. Namun, kebanyakan bersepakat bahwa Negara ini sedang tida dalam keadaan baik-baik saja.

Terlihat yang paling sederhana adalah berkurangnya tegur sapa karena lain pendapat, ataupun penggunaan bahasa yang katanya dimaksudkan untuk mengkritik malah terkesan seperti bahasa arogansi digang yang kelam.

Jika menelisik syarat suatau bangsa dengan adanya rakyat, wilayah dan pemerintah yang berdaulat secara sekilas memang kita masih menjadi kesatuan dalam sebuah negara.

Namun, jika didalami misalnya dalam kata rakyat saja yang memiliki arti sekelompok orang dengan ideologi yang sama. Tentu dalam lisan masih terucap sama yakni ber ideologi Pancasila, namun dalan nilai kehidupan sehari-hari sudahkah demikian? Yah, kebanyakan dari kita pasti menuntut hadirnya sila ke 5, namun kita acuh kepada sila –sila lainnya.

Mengambil intisari dari nasehat seorang budayawan populer Indonesia saat ini Cak Nun, bahwa dalam mencapai sila ke 5 kita harus memenuhi atau menjalankan sila-sila sebelumnya.

Pancasila itu berurutan dan harus tertib dijalankan. Silahkan merefleksikan diri, sudahkan kita memenuhi atau menjalakan sila demi sila yang ada didalam Pancasila?

Selanjutnya ada wilayah dan pemerintah yang berdaulat, penulis belum akan membahasnya karena berharap di awal tahun 2019 ini adanya perbaikan yang dimulai dari pribadi masing-masing.

Syukur-syukur jika tata nilai kehidupan berbangsa dan bernegara menjadi sebuah perhatian semua kalangan. Lembaran-lembaran adat istiadat yang berbudaya yang sudah  lama tertutup bahkan sampulnya sudah berdebu kembali dibuka dan didongengkan kepada generasi penerus bangsa atau bahkan kepada anak-anak usia dini sebelum mereka terlelap dalam tidurnya. Agar mimpi-mimpi mereka kelak sama, seperti halnya mimpi-mimpi para pendiri bangsa ini.

Hendra Wiguna/Penulis

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar