Yamaha

Jangan Serahkan Perawatan Lansia ke Robot

  Selasa, 25 Desember 2018   Adi Ginanjar Maulana   Netizen
Ilustrasi lansia di panti jompo

Sejumlah negara menghadapi dilema karena penduduknya menua karena tidak produktif dan menjadi beban  bagi pembayar pajak. Untuk mengatasinya, dikeluarkan kebijaksanaan yang antara lain memberi insentif bagi keluarga yang mempunyai anak banyak.

Jepang merupakan negara yang komposisi penduduknya tidak berimbang karena generasi muda malas menikah atau sekalipun sudah menikah enggan mempunyai anak. Dengan berbagai alasan, generasi muda tidak bisa merawat orang tuanya dan memilih mengirimkan ke panti jompo atau dirawat di rumah sakit.

Pemerintah secara selektif membuka kran bagi pekerja asing untuk merawat orang tua. Sebelum dikirim ke Jepang, mereka diseleksi, mengikuti pelatihan dan kursus bahasa Jepang agar mampu bercakap-cakap.Mereka diperkenalkan pula dengan budaya dan kehidupan sehari-hari masyarakat Jepang.

Indonesia lumayan berhasil memanfaatkan kebutuhan perawat tersebut.  Berdasarkan perjanjian antar pemerintah kedua negara, sejak tahun 2008 dikirim TKI baik pria maupun wanita, umumnya Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (Stikes),  untuk menjadi perawat di panti jompo atau tenaga medis di rumah sakit.

Menurut data BNP2TKI, setiap tahun rata-rata sekitar dua ratusan TKI dikirim untuk bekerja di rumah sakit atau panti jompo. Jumlah ini lebih banyak dibandingkan dengan yang dikirim Philipina Vietnam.Penyebabnya, penguasaan bahasa Jepang yang lebih baik , kultur nyaris sama dan telaten.

Perusahaan-perusahaan Jepang juga urun rembug dengan membuat robot. Makin lama kemampuan robot ini akan menyerupai manusia  (robot humanoid) yang bertubuh seperti manusia, bisa mengangkat, menolong membuat minuman atau menghibur dengan berlagak marah, bernyanyi bahkan bicara.

Konon,  budaya Jepang bisa menerima benda bukan manusia yang bertingkah laku seperti manusia. Jadi kemungkinan aki-nini tidak keberatan dirawat robot, sambil menunggu anaknya menjenguk seminggu sekali.

Durhaka Merawat Ortu Dengan Robot

Penduduk Jawa Barat hingga tahun 2018 diperkirakan mencapai 48,68 juta. Sejumlah 33,16 juta diantaranya merupakan usia produktif (15-64 tahun), sedangkan 15,52 juta lagi termasuk tidak produktif (0-14 tahun dan 65 tahun ke atas), menurut  Badan Perencanaan Pembangunan, Badan Pusat Statistik dan United Population Fund.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengkategorikan umur 60 – 74 tahun sebagai lanjut usia, 75-90 tahun masuk kategori lanjut usia tua dan kategori sangat tua adalah mereka yang berusia diatas 90 tahun. Mereka yang berusia lanjut bisa saja masih produktif, misalnya Donald John Trump kini  berusia 72 tahun tapi masih produktif.

Di Indonesia tidak mudah mendapatkan manula setua Trump tapi masih produktif dalam arti masih mandiri atau mampu memnghasilkan sesuatu yang membuatnya tidak bergantung kepada orang lain, termasuk anaknya. Kebanyakan Lansia, 25 dari seratus Lansia di Indonesia terkena penyakit darah tinggi, diabetes, radang sendi,  stroke dan yang berkaitan dengan paru-paru. Penyakit-penyakit yang bila tidak diobati akan membuat kesehatan memburuk dan tak jarang menjadi komplikasi.

Di Indonesia, mengurus Lansia yang sekalipun sakit parah akan dianggap sebagai ladang pahala. Palagan balas budi anak terhadap orang tua, walaupun upaya itu tidak akan dapat  membalas sepenuhnya jerih payah orang tua membesarkan anaknya, mulai dari kandungan sampai ke jenjang perkawinan.

Ajaran agama maupun budaya, menekankan anak harus mengurus orang tua karena surga di telapak kaki ibu. Jadi mustahil para Lansia yang sulit mengurus dirinya itu akan diserahkan kepada robot humanoid.

Farid Khalidi

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar