Yamaha NMax

Indonesia, Banggalah dengan Bahasamu!

  Minggu, 23 Desember 2018   Adi Ginanjar Maulana
Ilustrasi Bahasa Indonesia

Belakangan ini tak asing kita mendengar Orang Indonesia fasih berbahas Inggris. Ya, tentu itu merupakan sebuah prestasi. Namun bagaimana jika timbul stigma bahwa menggunakan bahasa asing adalah sesuatu yang ‘gaya’ dan menjadi ajang untuk unjuk diri bagi Masyarakat Indonesia itu sendiri? Menggunakan Bahasa Indonesia sudah bukan lagi menjadi suatu kebanggaan bagi Masyarakat Indonesia.

Saking terbiasa dan inginnya seorang Warga Indonesia menggunakan bahasa asing, kini percampuran dua bahasa dalam kehidupan sehari-hari pun mudah kita temui. Contohnya, yang kini tengah menjadi buah bibir di masyarakat yaitu omongan-omongan khas anak Jakarta Selatan seperti “which is”, “literally” dan lain-lain. Mereka  menggabungkan Bahasa Indonesia dan bahasa asing dalam kegiatan komunikasinya sehari-hari.

Penggunaan istilah-istilah bahasa asing tersebut kini sudah semakin akrab dengan terlinga kita. Bahkan tanpa kita sadari ada beberapa kata yang lebih kita mengerti jika menggunakan bahasa asing, seperti “posting” (dalam bahasa Indonesia mengunggah) dan “selfie” (dalam bahasa Indonesia swafoto). Lantas jika sudah begini bagaimana nasib Bahasa Indonesia?

Terapkan Sejak Dini

Saat kecil, saat kita masih belum bisa berbicara, tentu bahasa orang-orang disekitar kita dan bahasa yang diajarkan kepada kitalah yang pertama kali kita pelajari. Tentu kebiasaan orang Indonesia berbeda satu sama lain untuk memilih bahasa apa yang mau mereka ajarkan pertama kali untuk anaknya. Umumnya memang bahasa Indonesia, ada juga yang bahasa asing atau bahasa daerah.

Maka tak heran jika sekarang kita sering mendengar anak kecil sudah fasih berbahasa asing, bahkan lebih fasih dari orang dewasa. Percampuran bahasa asing dan bahasa Indoenesia sendiri sudah lazim di kalangan anak kecil. Seperti beberapa waktu yang lalu penulis sempat bertemu dengan seorang anak kecil yang sedang berbicara kepada ibunya “mama, lihat daunnya warna green”.

Di era gobalisasi seperti ini memang bahasa asing harus kita kuasai agar kita dapat bersaing tanpa memiliki batas, karena memang bagi sebagian orang Indonesia bahasa asing menjadi kendala tersendiri dan penghambat mereka untuk bersaing. Hanya bukankan lebih baik jika kita juga menggunakan Bahasa Indonesia dengan baik dan benar terlebih dahulu?

Perlunya kesadaran orang tua untuk membiasakan menggunakan Bahasa Indonesia dan menanamkan rasa bangga terhadap Bahasa Indonesia itu sendiri sejak kecil, menjadi salah satu cara untuk menangani masalah ini. Kedua hal tersebutlah yang perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari sejak dini.

Bahasa, Salah Satu Poin Sumpah Pemuda

Salah satu poin yang ada dalam  sumpah yang dibacakan pada saat Sumpah Pemuda adalah “Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia”. Dalam sumpah tersebutlah seharusnya kita bisa menyadari tugas kita sebagai warga Indonesia, khususnya pemuda Indonesia.

Sumpah yang telah dibacakan oleh pejuang-peuang kita dulu tentu menjadi tanggung jawab dan sumpah kita juga sekarang. Bagaimana kita hendak menjalankan tanggung jawab tersebut jika kita sendiri tidak akrab dengan Bahasa Indonesia dan merasa bangga saat menggunakannya?   

Jika kita tidak menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar dalam kehidupan kita sehari-hari, lantas akan bagaimana nasib bahasa kita? Disaat orang asing dengan senang dan giatnya belajar Bahasa Indonesia, maka mengapa kita sebagai warga Indonesia tidak bangga akan Bahasa Indonesia? Banggalah dengan bahasamu sendiri, karena kalo bukan kita yang bangga dan menjaganya, siapa lagi?

Vichela Regina Aprillia

Mahasiswa Jurnalistik Fikom Unpad

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar