Yamaha Aerox

AKSI: Gali Potensi Pelajar Lewat Pesona Kreativitas Siswa

  Sabtu, 22 Desember 2018   Fathia Uqimul Haq
Ketua Dewan Pembina Pusat Asosiasi Kepala Sekolah Indonesia, Asep Tapip Yani sedang memberi sambutan dalam acara Pesona Kreativitas Siswa 2018 di Universitas Sanggabuana, Sabtu (22/12/2018).

CIBEUNYING KIDUL, AYOBANDUNG.COM--Asosiasi Kepala Sekolah Indonesia (AKSI) menggelar Pesona Kreativitas Siswa 2018, Sabtu (22/12/2018), di Universitas Sanggabuana. Acara itu untuk menggali potensi baik secara kognitif dan talenta nonakademis kepada para pelajar SMA, SMK, dan MA se-Bandung Raya.

Kolaborasi antara AKSI, Forum Komunikasi Sekolah Swasta, dan Majalah Juara ini akan menelurkan duta pelajar yang bersaing dengan 50 siswa-siswi dari lima Kabupaten/Kota. Daerah yang ikut serta terdiri atas Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Kota Cimahi, dan Kabupaten Sumedang. 

Para pelajar merupakan finalis dari masing-masing kota yang telah disaring pada Februari hingga Oktober 2018. Sebanyak 50 siswa tersebut merupakan finalis dari 5 Kota/Kabupaten dengan jumlah masing-masing 10 siswa. 

Ketua Dewan Pembina Pusat AKSI Asep Tapip Yani mengatakan, Pesona Kreativitas Siswa 2018 ini merupakan acara rutin tahunan. Tahun ini adalah tahun kedua pelaksanannya. Sementara itu, peningkatan dari tahun sebelumnya yaitu jumlah kota yang terlibat. 

"Dulu cuma 3 kota/Kabupaten. Sekarang ada 5," katanya. 

Upaya yang dilakukan AKSI melalui acara ini adalah terjaringnya potensi siswa di luar akademis. AKSI ingin mengangkat potensi nonakademis siswa, yaitu bakat untuk menjalani hidup kelak.

"Enggak cuma terampil dari jurusan masing-masing di SMK aja, misalnya, tapi bisa tergali beberapa potensi utamanya yang berkaitan dengan budaya daerah," ujarnya.  

Pesona Kreativitas Siswa mengarah kepada penggalian cinta kepada kesenian lokal dan  budaya daerah. Karenanya, siswa-siswi dari daerah masing-masing bisa memunculkan kedaerahannya sebagai kebanggaan anak muda.

Menurut Asep, budaya asing kian banyak menguasai anak muda Indonesia. Dengan cara ini, anak-anak bisa memunculkan kembali budaya daerahnya melalui pakaian tradisional dan talenta berbasis kedaerahan. 

"Mereka yang punya talenta kedaerahan ada nilai lebih, talenta yang nasional dan internasional akan kalah sama mereka yang punya talenta unik. Karena sekarang jadi aneh anak-anak yang menguasai  talenta kedaerahan. Sesuatu  yang aneh jadi nilai tambah dan unik, sehingga jadi nilai jual. Yang  umum kan udah banyak saingannya Bakat unik ini jadi peluang meraih masa depan lebih baik," jelas Asep. 

Ajang ini mengarahkan siswa-siswi pada  penggalian talenta yang berbasis busana dan penampilan performa diri yang dikuatkan dengan talenta lain. 

Layaknya seorang duta, siswa-siswi akan diberikan pertanyaan. Gagasan dan cara menyampaikannya kepada publik menjadi nilai untuk meraih juara. 

Unjuk bakat juga ditampilkan para siswa, misalnya hafalan Alquran, menari jaipong, kawih sunda, pencak silat, dan lain-lain.  

"Mereka banyak yang memiliki talenta enggak cuma satu, bahkan dua, tiga," ungkapnya.  

Setelah keluar jadi pemenang, duta pelajar akan berkeliling ke tiap sekolah untuk menampilkan kreasinya. 

Duta Pelajar ini dituntut untuk punya kreativitas selain sisi intelejensi. Talenta unik itulah yang menjadi modal hidup ke depan bagi para finalis. 

Pemenang Pesona Kreativitas Siswa akan meraih beasiswa sarjana penuh berkuliah di Universitas Mercubuana dan Universitas Sanggabuana, serta tropi dan hadiah lain yang bisa memacu semangat para finalis untuk tampil semaksimal mungkin di hadapan para penonton.  

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar