Yamaha Aerox

Menjadi Ibu Bangsa Gampang? Ini Caranya

  Sabtu, 22 Desember 2018   Dadi Haryadi
Ilustrasi Hari Ibu.(pixabay)

Setiap tanggal 22 Desember bangsa Indonesia memperingati hari ibu. Pemilihan tanggal 22 Desember sebagai hari ibu di Indonesia didasari pada tanggal pelaksanaan Kongres Perempuan Indonesia pertama tanggal 22-25 Desember 1928.

Yang kemudian diresmikan oleh Presiden Soekarno di bawah Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 316 Tahun 1959 tanggal 16 Desember 1959. Tanggal tersebut dipilih untuk merayakan semangat perempuan Indonesia dan untuk meningkatkan kesadaran berbangsa dan bernegara.

Pada peringatan hari ibu tahun 2017 lalu, presiden RI Joko Widodo pada pidatonya menyatakan "Jadilah ibu bangsa wahai perempuan Indonesia".

Pada kesempatan yang sama ketua kowani (kongres perempuan indonesia) Giwo Rubianto menjelaskan "Sesungguhnya peran ibu bangsa bukan sebuah beban melainkan suatu kehormatan yakni berupa tugas mempersiapkan generasi muda yang unggul, berdaya saing, inovatif, kreatif dan memiliki wawasan kebangsaan yang militan".

Dengan demikian, sesungguhnya pendidik yang pertama dan utama adalah ibu. Peran lembaga pendidikan sebaik dan semahal apapun hanyalah sebagai penunjang saja.

Untuk menjadi seorang ibu diperlukan kesiapan yang matang, baik secara biologis maupun psikologis. Dikutip dari laman Go Dok, usia ideal secara biologis untuk menikah adalah akhir 20-an atau awal 30-an karena pada umur ini hormon dan organ reproduksi sudah siap.

Dengan kesiapan biologis ini diharapkan akan mengurangi resiko bagi kesehatan terutama mengurangi kematian baik bagi ibu ataupun bayinya. Secara psikologis, pada usia ini umumnya seseorang sudah paham arti komitmen dan berani mengambil keputusan hidup dengan bijaksana dan penuh tanggung jawab.

Menurut UU Perkawinan No. 1 Tahun 1974 batas minimal bagi perempuan untuk diijinkan menikah adalah 16 tahun dan harus disertai ijin tertulis dari orang tua jika usia kurang dari 21 tahun dan menurut UU No. 52 Tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga adalah 20 tahun untuk perempuan, dan 25 tahun untuk laki-laki. Pembatasan usia perkawinan pertama pada kedua undang-undang ini tentunya dengan mempertimbangkan banyak aspek.

Namun pada kenyataanya masih ada sebanyak 14,18% perempuan Indonesia yang menikah pertama kali dan 6,21% yang hamil pertama kali saat usianya di bawah 16 tahun (BPS, 2017). Kenyataan ini perlu menjadi perhatian semua pihak karena akan berimbas pada masa depan bangsa.

Pentingnya pendidikan ibu kepada anaknya pada masa ini juga semakin banyak tantangannya baik dari sisi kuantitas maupun kualitasnya. Secara kuantitas yaitu lamanya seorang ibu mendidik anaknya di rumah banyak yang semakin berkurang, terlebih bagi yang memilih bekerja.

Sejatinya bekerja bagi seorang perempuan terlebih seorang ibu masih menjadi polemik yang tidak berkesudahan karena ada banyak motivasi dan latar belakangnya.

Namun faktanya ada sebanyak 48,12% penduduk perempuan Indonesia usia di atas 15 tahun pada tahun 2017 memiliki kegiatan utamanya bekerja, sedangkan yang mengurus rumah tangga hanya 37,86% (BPS, 2017).

Di mana dari sebanyak perempuan bekerja itu yang memiliki rata-rata jumlah jam kerja seminggu lebih dari 35 jam ada sebanyak 60,17%. Ini artinya ada banyak perempuan yang meninggalkan anaknya untuk bekerja lebih dari 5 jam sehari, ini belum termasuk waktu yang diperlukan untuk sampai di tempat kerjanya.

Lalu siapa yang menggantikan dalam mendidik anak selama ditinggalkan ibunya? Ini harus menjadi perhatian besar agar setidaknya pola asuh tetap sama dan terarah.

Kemudian dari sisi kualitas tentunya seorang ibu harus memiliki tingkat pendidikan yang memadai. Untuk menjadi seorang pendidik di suatu lembaga pendidikan saja, seseorang diharuskan menempuh pendidikan yang cukup tinggi dengan memakan waktu dan biaya cukup banyak.

Hal ini dimaksudkan agar pendidikan yang diberikan memiliki kualitas yang baik. Lalu, bagaimana dengan pendidikan seorang ibu sebagai pendidik pertama & utama generasi bangsa ini?

Pada tahun 2017, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) 28,24% perempuan Indonesia yang berumur 15 tahun ke atas memiliki ijazah tertinggi SD/MI sederajat. Yang memiliki ijazah DIV/S1/S2/S3 hanya 5,78% saja.

Hal ini sangat disayangkan, seorang guru yang mendidik anak selama beberapa beberapa jam dalam seminggu, beberapa tahun saja dalam seumur hidupnya, disyaratkan minimal memiliki ijazah S1.

Sedangkan seorang ibu yang mendidik anak sejak dalam kandungan masih banyak yang hanya memiliki ijazah SD/MI sederajat bahkan tidak memiliki ijazah (19,66%, BPS 2017). Lalu, akan seperti apa para ibu ini mendidik anak-anaknya? Pengetahuan yang dimilikinya pun hanya sedikit.

Nampaknya cara pandang bangsa Indonesia terhadap pentingnya pendidikan bagi seorang perempuan masih banyak yang sesuai dengan selorohan “untuk apa sekolah tinggi-tinggi kalau akhirnya hanya menjadi seorang ibu rumah tangga” atau “sayang sekali sekolah lama, keluar biaya banyak tapi ijazahnya tidak dipakai untuk bekerja”.  

Hal ini terlihat dari besarnya persentase perempuan yang kegiatan utamanya mengurus rumah tangga yang tidak/belum pernah sekolah dan tidak tamat SD/sederajat yakni 20,14%, tamat SD/sederajat 27,87% dan tamat sekolah menengah (SMP-SMA/sederajat) 46,71%. Sedangkan untuk yang tamat D1 ke atas hanya 3,33%.

Padahal seorang perempuan, seorang ibu, sebagai pendidik pertama dan utama generasi bangsa dituntut memiliki pengetahuan yang sangat banyak dan sangat luas. Andaikan ada lembaga pendidikan yang mendidik seorang perempuan untuk menjadi seorang ibu pendidik, belum bisa terbayang berapa mata pelajaran/mata kuliah yang harus diikuti, berapa lama waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan studinya sehingga lulus menjadi seorang ibu yang profesional dan kompeten.

Hal ini karena banyak pengetahuan yang diperlukan dalam mendidik anak sejak masih di dalam kandungan, mulai dari pengetahuan perkembangan fisik anak hingga psikologis anak sehingga ibu akan tepat dalam memberikan materi pendidikannya, tidak terlalu cepat dan juga tidak terlambat.

Perhatian pemerintah dan masyarakat akan pentingnya pendidikan bagi perempuan agar menjadi “ibu bangsa” yang berkualitas sangat diharapkan demi masa depan generasi bangsa yang unggul, berdaya saing, inovatif, kreatif dan memiliki wawasan kebangsaan.

Pendidikan memang tidak harus yang bersifat formal atau yang memberikan sertifikat, karena ilmu pengetahuan dapat diperoleh dari mana saja.

Buat semua “ibu bangsa” dan para calon “ibu bangsa”, jangan pernah berhenti belajar, mencari ilmu, membekali diri dengan banyak pengetahuan dan wawasan. Karena di tanganmu-lah masa depan generasi bangsa ini.

Tita Sisriannita, SST (Statistisi Ahli Muda, Badan Pusat Statistik Kota Tasikmalaya)

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar