Yamaha

Sastra Bukan Hanya Bahasa

  Sabtu, 22 Desember 2018   Dadi Haryadi   Netizen
(Pixabay.com)

“Ah enak jadi anak Sastra. Setiap hari cuma belajar bahasa. Sama aja kayak di sekolah”. Sering mendengar stereotip macam begitu? Ya. Ujaran seperti itu rasanya sudah akrab di telinga kita, khususnya mahasiswa jurusan sastra. Banyak yang beranggapan bahwa menjadi mahasiswa jurusan sastra itu mudah. Kesehariannya hanya mempelajari bahasa, seperti belajar bahasa Indonesia, Inggris, atau bahasa lainnya di sekolah. Benarkah sesederhana itu?

Jawabannya, tidak. Di KBBI daring pun tertulis bahwa pengertian sastra adalah bahasa (kata-kata, gaya bahasa) yang dipakai dalam kitab-kitab (bukan bahasa sehari-hari). Dapat digarisbawahi bahwa sastra juga mempelajari gaya bahasa. Sapardi Djoko Damono dalam bukunya Novel Sastra Indonesia Sebelum Perang memaparkan bahwa sastra itu adalah lembaga sosial yang menggunakan bahasa sebagai medium. Bahasa itu sendiri merupakan ciptaan sosial. Sastra menampilkan gambaran kehidupan, dan kehidupan itu sendiri adalah suatu kenyataan sosial. Jadi, sastra juga bisa bicara soal kehidupan dengan bahasa sebagai mediumnya. Bahasa dan sastra itu saling berkaitan.

AYO BACA : Buku Halte Sastra, Refleksi Penantian di Setiap Halte

Sastra juga sama dengan ilmu-ilmu lainnya yang memiliki cabang ilmu, yakni teori (pengertian, aliran, hakikat sastra), sejarah (perkembangan dan pertumbuhan sastra dari masa ke masa), dan kritik (analisis, penafsiran, dan penilaian terhadap karya sastra). Macam-macam ilmu sastra pun beragam, ada sastra bandingan, sastra umum, sastra daerah, sastra dunia, dan lain-lain. Masih ingin berkata bahwa sastra hanya soal bahasa?

Bicara soal kekuatan sastra dalam kehidupan sehingga tak bisa diremehkan, erat kaitannya dengan Undang-undang yang mengatur tentang sastra. Dalam UU RI Nomor 5 Tahun 2017 Tentang Permajuan Kebudayaan pasal 5 telah diatur bahwa bahasa dan sastra, khususnya karya sastra merupakan Objek Permajuan Kebudayaan. Di pasal 1 pun telah dijelaskan bahwa Permajuan Kebudayaan berarti upaya meningkatkan ketahanan budaya dan kontribusi budaya Indonesia di tengah peradaban dunia melalui Pelindungan, Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan. Dengan kata lain, bahasa dan sastra itu sangat penting bahkan harus selalu dilindungi dan dikembangkan. Sastra dan bahasa pun saling berkaitan. Namun, bukan berarti sastra dan bahasa itu sama alias jika berbicara soal sastra, berarti hanya bicara soal bahasa.

AYO BACA : Kedai Kopi Berbalut Sastra

Tak lengkap jika membicarakan sastra namun tak menyinggung soal karya sastra. Karya sastra pun banyak macamnya, puisi, cerpen, novel, dan lain sebagainya. Bahkan, karya sastra pun termasuk karya yang dilindungi oleh Hak Cipta sebagaimana dijelaskan dalam UU RI Nomor 28 Tahun 2018 Tentang Hak Cipta yang diperkuat pada Pasal 1 dan Pasal 40, menerangkan bahwa karya sastra termasuk ciptaan yang dilindungi. Jadi, sastra maupun karya sastra tak boleh lagi diremehkan. Sama seperti ilmu lainnya, sasta memiliki tingkat kemudahan dan kesulitan tersendiri, tak selalu mudah dan tak selalu sulit.

Tak dapat dipungkiri bahwa salah satu penyebab stereotip itu muncul adalah kurangnya literasi mengenai sastra. Jika literasi mengenai sastra diperbanyak maka masyarakat Indonesia akan teredukasi dan semakin paham tentang seluk-beluk sastra. Sehingga, streotip yang mengarah pada mahasiswa jurusan sastra pun tak lagi ada. Stereotip ini meski terlihat sepele, tetap tidak dapat dibenarkan dan dapat merusak citra sastra karena selalu diremehkan.

Selain itu, sastra juga bicara soal keindahan. Bagaimana suatu kreasi berupa imajinasi dapat dilukiskan dengan indah dalah salah satu ‘pekerjaan’ sastra. Pernah membaca karya sastra yang begitu memikat hati, bukan? Meski secara keseluruhan dapat menimbulkan persepsi bahwa karya sastra hanya berupa permainan bahasa, kenyataannya, ada hal yang perlu dipelajari selain hanya permainan bahasa tersebut. Mengemas karya sastra yang indah tak cukup hanya dengan permainan bahasa atau kata-kata indah saja.

Kedepannya, sterotip tersebut nampaknya harus dilihat sebagai permasalahan serius dengan memikirkan solusi yang efektif. Para penyair, novelis, sastrawan terdahulu pasti lah kecewa karena hal ini. Bagaimana tidak? Pasti untuk menghasilkan suatu karya sastra, memerlukan waktu, tenaga, dan pikiran yang tak sedikit. Bahkan, dapat dikatakan bahwa karya sastra dapat membuat seseorang menjadi terkenal. Tak luput dari ingatan nama-nama besar seperti Chairil Anwar, Pramoedya Ananta Toer, dan WS Rendra. Terkadang, sastra juga dapat membuat seseorang di penjara seperti yang dialami Pramoedya dan Widhji Tukul. Jadi, meski sudah banyak pengorbanan yang dilakukan demi sastra, masih pantaskah jika sastra diremehkan?

Nurul Amanah
Mahasiswa Jurnalistik Unpad

AYO BACA : Yuk Nikmati Seni dan Sastra di Galeri Haikuku

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar