Yamaha Aerox

Koruptor Anggap Enteng Neraka

  Jumat, 21 Desember 2018   
Ilustrasi

Indonesian Corruption Watch (ICW) mengungkapkan, sejak 2004 hingga 2018, KPK menangkap 104 kepala daerah karena korupsi dan terbanyak adalah bupati yakni 62 orang. Disusul gubernur 15 orang, wali kota 23, seorang wakil wali kota dan tiga wakil bupati.

Dari 104 kepala daerah itu, 45 persen diantaranya menerima suap, kerugian negara 30 persen, suap dan gratifikasi sebelas persen, gratifikasi lima persen, kerugian negara dan suap tiga persen, gratifikasi dan pencucian uang dua persen, suap dan pencucian uang satu persen dan pemerasan satu persen.

"Kepala daerah yang terjerat kasus korupsi paling banyak terjadi di Jawa Timur yakni ada 14 kasus. Sumatera Utara dengan 12 kasus, Jawa Barat sebelas kasus, Jawa Tengah delapan kasus, Sulawesi Tenggara enam kasus, Papua dan Riau masing lima kasus ," ujar Egi Primayoga , peneliti ICW pada Minggu, 16 Desember  2018 di Jakarta.

Nasi Liwet Tanda Kecewa

Sambutan masyarakat lokal terhadap penangkapan tokoh terkemuka di wilayahnya beragam. Di Cianjur masyarakat bergembira ria. Ramai berkumpul di Alun-alun, makan nasi liwet dengan ayam panggang dan berbagai bentuk kegembiraan lain.

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil menyebut aksi tersebut sebagai salah satu bentuk aspirasi, seraya mengingatkan agar tidak berlebihan sebab bupati pun punya pendukung.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), aspirasi berarti  harapan dan tujuan untuk keberhasilan pada masa yang akan datang. Penyampaian aspirasi dilakukan langsung oleh rakyat disebut demokrasi langsung, sementara demokrasi tidak langsung berbentuk penyampaian aspirasi melalui lembaga perwakilan rakyat.

Di Denpasar, Bali,  anggota masyarakat berbondong-bondong menyampaikan aspirasi sambil memainkan gamelan . Di Jakarta, aspirasi pada masa lalu disampaikan sambil merubuhkan gerbang komplek Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

Pada masa Mataram Kuno, penduduk yang ingin menyampaikan aspirasi duduk di bawah pohon beringin di alun-alun depan Istana Raja. Dia tidak akan beranjak pergi sebelum aspirasi diterima, sekalipun sudah berhari-hari. 

Pada masa Kerajaan Medang Mpu Sindok, konon rakyat berbondong-bondong pindah ke wilayah lain bila tidak menyetujui kebijaksanaan raja. Mereka lebih memilih pergi ketimbang memberontak atau mematuhi kebijaksanaan tersebut.

Tak Pernah Jera

OTT demi OTT, penangkapan demi penangkapan terhadap pelaku korupsi terus terjadi. Tak ada kata jera atau rasa malu karena para tertuduh yakin bisa mengendalikan hukum dan hidup nyaman dalam lembaga pemasyarakatan (Lapas). Keyakinan itu sudah terbukti karena sebagaimana disiarkan di media, ada tertuduh korupsi bisa keluar Lapas dan bersama perempuan bukan muhrimnya menginap di hotel.

Tiadanya rasa jera di kalangan tertuduh korupsi, menunjukkan vonis hukuman yang dijatuhkan terlalu ringan dan upaya pemiskinan tidak efektif. Tambahan pula sejumlah tersangka tak pernah diadili meskipun bukti-bukti sudah nyata. 

Ridwan Kamil menyebut, dirinya  bertugas menjalankan undang-undang memberikan bimbingan, nasihat, termasuk nasihat kepada diri saya sendiri untuk selalu mengingatkan. Tapi ujungnya itu pilihan, keputusan batin dari setiap individu.

Kemampuan individu menangkal perbuatan melanggar hukum mesti dimulai sejak awal. Hal ini disadari para pendidik dan penegak hukum dengan membuat kantin sekolah. Para pembeli, yang umumnya pelajar dituntut berlaku jujur karena tak ada kasir tetapi tak lama kantin  bangkrut.

Kasus tersebut menunjukkan perilaku jujur telah menjadi barang mahal dan serangkaian petuah tentang dosa –pahala, neraka-surga sangat diabaikan. Akhirnya tak tahu lagi kapan dan mulai darimana memutus perilaku tak jujur. Resikonya, kelak tabung lebih dipilih dibanding manusia.

Farid Khalidi

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar