Yamaha Mio S

Hiburan Kaum Milenial: Tren dan Mengenang Masa Lalu

  Kamis, 20 Desember 2018   Rizma Riyandi
Ilustrasi Milenial

Selera konsumen Indonesia bisa jadi memang selalu berubah dalam hitungan hari. Kemarin masyarakat menyukai A, lusa barangkali akan menyukai B. Lantas, itu semua akan dilupakan begitu saja. Fase itu pun berulang entah sampai kapan, itulah circyle

Mengapa itu bisa terjadi? Karena sasaran produsen adalah kaum milenial yang menjadi pangsa pasar besar dalam industri hiburan.

Diklasifikasikan secara keilmuan, kaum millenial disebut generasi Y dan generasi Z yang dibekali nalar kreativitas yang baik sehingga punya skill berkarya dan membaca tren yang selalu berputar tadi.

Kaum milenial sendiri menjadi pangsa pasar paling seksi di Indonesia, sehingga banyak yang melirik termasuk dalam ranah Politik.

Konsultan pendidikan asal Amerika, Marc Prensky, menyebut generasi Y dan Z yang lahir di era di pesatnya teknologi bisa langsung mengakses dan memanfaatkan teknologi itu sendiri. Selanjutnya generasi Baby Boomers disebut Digital Migrant sebab mereka mengalami dua periode yakni analog dan beralih ke digital.

Alhasil, setiap hari karya yang ciptakan oleh generasi Y dan generasi Z mayoritas diciptakan tanpa adanya intervensi, semua mengalir seperti air sehingga membuat mereka produkif dan kreatif.

Namun, salah satu kelemahan dari generasi millenial adalah cepat bosan. Hal ini merujuk pada hasil riset yang dilakukan di Amerika.

Untungnya, media sosial yang telah ada dengan berbagai platform dan dianggap tidak membosankan membuat karya mereka lebih cepat muncul di khalayak.

AYO BACA : Polres Bandung Musnahkan Puluhan Ribu Botol Miras

Eksploitasi Masa Lalu

Berbicara soal tren, dilirisnya film tentang perjalanan grup musik Queen yang diambil dari salah satu hitsnya, Bohemian Rhapsody, pada Oktober lalu memunculkan sebuah tren baru dalam industri hiburan.

Bagaimana tidak, setelah meninggalnya Freddy Mercury sebagai frontman grup band asal Inggris itu, ia seakan-akan “dihidupkan” kembali.

Sontak, dalam beberapa hari film yang memunculkan Rami Malek sebagai Freddy mercury itu langsung melejit di box office.

Tren ini sudah berlangsung lama dan berlaku di Indonesia.

Sebelumnya, film "Warkop DKI Reborn" yang digarap kembali oleh Falcon Pictures telah ditonton oleh 6,8 Juta orang dan menjadi film paling banyak ditonton di Indonesia kedua setelah Dilan 1990, setelah sebelumnya film Ada Apa Dengan Cinta 2 melakukan hal serupa dan juga sukses.

Terbaru, film Suzzanna: Bernapas dalam Kubur telah ditonton lebih 2 juta penonton.

Selain peran dari rumah produksi yang gencar melakukan promosi, kualitas aktor dan aktris pun menjadi nilai jual yang membuat orang tertarik untuk berbondong-bondong ke bioskop.

AYO BACA : Sandi Dugaan Suap Meikarta, Dari Tina Toon sampai Indomie

Dalam dunia film, dikenal dengan sequel, namun perlu diketahui bersama bahwa sejak dulu industri film memang selalu mencari waktu yang pas untuk meluncurkannya. Misal film super hero yang digarap oleh rumah produksi asal Amerika Seikat, Marvel, yang meluncurkan film The Avengers. Ada jeda waktu yang dibuat mengikuti pasar agar tidak bentrok waktu tayang dan mengakibatkan interest penonton terbagi dua. Pun celah ini juga bisa fatal jika kompetitor lebih membaca pasar.

Di sisi lain, tren terlahir kembali menjadi suatu komoditas yang seksi bagi pelaku hiburan.

Bagaimana tidak, sesuatu yang dicintai pada masanya, kemudian mati suri, dan lahir kembali di masa kini menjadi sebuah pilihan alternatif selain pada point "beda" yang dijelaskan tadi.

Sudah jelas, pangsa pasar dalam tren ini adalah generasi "mapan" yang bernostalgia, atau kids zaman now yang mendengar legendarisnya mereka. Ini sebuah kombinasi yang menyedot massa.

Pandji Pragiwaksono dalam materi stand up comedy mengatakan "Sesuatu yang beda itu lebih baik daripada lebih baik dari yang baik". Benar saja, ini yang menyebabkan kenapa Via Vallen dan Nella Kharisma digandrungi. Mereka membuat kaum milenial menyukai koplo dan menyedot puluhan juta penonton di YouTube. Di dunia nyata, mereka bisa dapat miliaran rupiah per bulannya.

Dunia musik juga melakukan hal serupa, Band Padi yang sebelumnya vakum selama tujuh tahun dan personelnya sudah berseliweran di sana-sini memilih untuk komitmen dan bersatu kembali.

Dengan nama baru "Padi Reborn", mereka gencar melakukan berbagai konser ke berbagai kota di Indonesia dan sukses menyedot banyak penonton.

Tak ada yang berbeda dengan konsep yang mereka usung. Sheila On 7, grup yang seangkatan dengan Padi pun tetap abadi digemari. Atau dengan konsep remake yang dilakukan Band Noah terhadap lagu-lagu lawas yang membuat telinga kaum milenial menjadi tak asing lagi. Apakah hal di masa lalu yang melegenda dan dikenang akan terlahir kembali?

Asep Aang Hidayat
Mahasiswa Jurnalistik UIN SGD Bandung

AYO BACA : BMKG: Amblesan Tanah di Surabaya Bukan Akibat Gempa

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar