Yamaha NMax

Sejak Kapan Malam Pergantian Tahun Baru Masehi Dirayakan Umat Islam Indonesia?

  Selasa, 18 Desember 2018   Rahim Asyik
Kliping berita mengenai perayaan pergantian tahun baru Masehi di Bogor (Sipatahoenan, 15 Januari 1930).

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM – Sejak kapan malam pergantian tahun baru Masehi dirayakan umat Islam Indonesia?

Pertanyaan itu menarik karena banyak dari kita yang menganggap, merayakan malam tahun baru Masehi merupakan sesuatu yang lazim dari zaman dahulu kala. Bahkan pihak yang melarangnya dianggap aneh, intoleran, dan melenceng dari kelaziman.

Sebagai misal pemerintah daerah di Aceh yang sering dituding intoleran lantaran sejak tahun 2013 melarang perayaan tahun baru Masehi dengan "membakar mercon, lilin, dan meniup terompet". Negara yang melarang perayaan yang sama seperti Arab Saudi, Somalia, Tajikistan, dan Brunei Darussalam pun kerap dipandang dengan cara negatif yang sama.

Tulisan ini tidak mencoba mencari jawaban benar atau salah atas pilihan yang diambil Aceh, Brunei Darussalam, dan lainnya. Tulisan ini sekadar menunjukkan bukti bahwa kebiasaan umat Islam Indonesia merayakan malam pergantian tahun baru Masehi sebetulnya belum berlangsung satu abad.

Kesimpulan semacam itu muncul kalau kita membaca tulisan berjudul ”Oleh-oleh” yang dibuat oleh Bakrie Soeraatmadja, pemimpin redaksi Sipatahoenan. Tulisan bersambung itu sebetulnya laporan perjalanan Bakrie mengelilingi Jawa Barat.

AYO BACA : Malam Tahun Baru di Alun-alun Bandung

Perayaan Pergantian Tahun Baru Masehi Mulai Ramai di Bogor Tahun 1930-an

Dalam tulisan keempatnya yang dimuat tanggal 15 Januari 1930, Bakrie menceritakan pengalamannya mengunjungi Bogor. Kebetulan Bakrie Soeraatmadja tiba di Bogor pada malam pergantian tahun baru Masehi, 31 Desember 1929.

Berbeda dengan daerah lainnya, tulis Bakrie, banyak ”Indonesiers” yang terlibat dalam kemeriahan malam tahun baru itu, baik untuk sekadar mencari nafkah maupun untuk sengaja merayakannya.

Padahal di daerah lainnya, yang meriah adalah perayaan pergantian tahun baru Hijriyah, meski masih di bawah keramaian perayaan Idulfitri. Dengan sinis Bakrie menyamakan tahun baru Masehi itu sebagai ”taoen baroe Walanda”. Tak elok rasanya orang yang terjajah merayakan tahun baru penjajahnya.

Kenyataannya tak sedikit penduduk pribumi, tulis Bakrie, “anoe tjetaan, anoe poepoedjieun gila kabelandaan”, banyak tingkah, haus pujian gila kebelanda-belandaan. Alih-alih menonton orang Belanda berpesta, mereka malah menggelar pestanya sendiri.

AYO BACA : Fakta tentang Tahun Baru Hijriah

Dalam kesan Bakrie Soeraatmadja, sejumlah orang Indonesia di Bogor sudah kehilangan empatinya. Soalnya sehari sebelumnya, kantor Partai Nasional Indonesia digeledah pemerintah Hindia Belanda dan para pengurusnya, termasuk Soekarno, ditangkap dan dijebloskan ke penjara.

Di Kampung Istal, Pesta Pergantian Tahun Baru Masehi Dikaitkan dengan Takhayul

Bukannya turut prihatin, sejumlah orang Indonesia di Bogor malah larut dalam pesta tahun baru. Sebagian di antaranya sampai melakukan hal-hal nista yang menurunkan derajat orang Indonesia sendiri.

Di Kampung Istal, kata Bakrie, perayaan tahun baru Masehi bahkan dikaitkan dengan takhayul. “Madjar lamoen henteu pesta teh, baris aja matakna noe koerang hade”. Kejadian buruk akan menimpa kalau mereka tidak menggelar pesta.

Mengapa bisa demikian? Salah satu alasannya, suasana pergerakan kebangsaan di Bogor saat itu tak sedinamis daerah lainnya. Memang ada dua organisasi, Paguyuban Pasundan dan Budi Utomo. Bukannya bahu-membahu, keduanya malah ribut oleh urusan pemilihan ”lid Prov. Raad”.

Sementara banyak ”Indonesiers” menjadikan orang Belanda dan tingkah polahnya sebagai simbol kemajuan atau modernisme. Baru bisa ngomong “ik en jij” saja, mereka sudah sok-sokan membaca koran Belanda yang isinya setiap hari menjelek-jelekkan kelakuan orang Indonesia dan organisasinya.

Menurut Bakrie Soeraatmadja, saling memberi ucapan selamat kepada bangsa apapun merupakan tindakan yang baik. Namun kenyataannya, jarang sekali bangsa Belanda yang datang mengucapkan selamat kepada bangsa Indonesia yang sedang merayakan Lebaran.

AYO BACA : Perlukah Membuat Resolusi Tahun Baru?

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar