Yamaha Mio S

Kaleidoskop: Jatuhnya Lion Air JT610, Kecelakaan Paling Fatal di 2018

  Selasa, 18 Desember 2018   Andres Fatubun
Ilustrasi pesawat Lion Air. (Irfan Al-Faritsi/ayobandung)

BANDUNG, AYOBANDUNG.COM--Jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 rute Jakarta-Pangkal Pinang di laut di sekitar Karawang, Jawa Barat, menjadi kecelakaan paling fatal di tahun 2018.

Kecelakaan yang terjadi pada Senin (29/10/2018) pagi itu menewaskan 189 orang. Manifest mencatat 181 merupakan penumpang yang terdiri atas 124 laki-laki, 54 perempuan, satu anak-anak, dan dua bayi. Sementara itu, tujuh orang sisanya merupakan pilot, kopilot, dan lima awak kabin.

Upaya evakuasi penumpang dilakukan selama 25 hari sejak kecelakaan. Hasilnya sebanyak 125 jenazah berhasil dikenali, sedangkan 64 lainnya tidak teridentifikasi.

Pada 29 Oktober atau tepat satu bulan setelah kejadian, Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menyampaikan laporan pendahuluan penyebab jatuhnya JT610 berdasarkan data yang diperoleh dari Digital Flight Data Recorder (DFDR). Laporan tersebut bersifat data, bukan analisis.

Laporan itu dijabarkan dalam penjelasan sebanyak 15 butir yang menunjukkan bahwa sebelum jatuh, hidung pesawat Lion Air JT610 turun secara otomatis hampir 24 kali dalam 11 menit. Pilot dan kopilot berulang kali berupaya membawa pesawat naik kembali, namun gagal sebelum akhirnya kehilangan kontrol. Pesawat menukik dengan kecepatan sekitar 700 kilometer per jam dan menghantam laut.

AYO BACA : Cerita Korban JT610: Dhani Sayang Putri, Tapi Allah Lebih Sayang

Serpihan pesawat yang mengapung di atas permukaan laut ditemukan sekitar dua jam setelah laporan hilangnya JT610. Sementara itu, puing yang lebih besar dan mesin pesawat ditemukan di dasar laut saat hari kelima pencarian.

Sementara perangkat Cockpit Voice Recorder (CVR) yang merekam semua suara dalam pesawat, termasuk percakapan pilot, belum ditemukan. Pencarian pun terus dilakukan.

Kejadian ini mengundang perhatian dunia internasional. Terlebih JT610 layak terbang dan merupakan pesawat jenis terbaru yaitu Boeing 737 MAX 8 yang didatangkan oleh Lion Air pada Agustus 2018 atau tiga bulan sebelumnya. Selain itu, JT610 diterbangkan oleh pilot senior Kapten Bhavye Suneja yang sudah memiliki lebih dari 6000 jam terbang dan kopilot Harvino lebih dari 5000 jam terbang.

Penyidikan penyebab jatuhnya pesawat hingga kini masih terus berlangsung yang melibatkan KNKT, Lion Air, dan Boeing.  

Lion Air pun meneruskan usaha pencarian korban yang dihentikan oleh pemerintah pada 10 November 2018 dengan menggandeng perusahaan swasta asal Belanda. Pencarian terbaru yang diperkirakan akan dimulai pada Rabu (19/12/2018) menggunakan kapal MPV Everest akan berlangsung selama 10 hari dengan memakan biaya sebesar Rp38 miliar.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar