Yamaha Aerox

Sutopo Inspirator Terbaik 2018 Penyintas Kanker Paru Indonesia

  Selasa, 18 Desember 2018   Andres Fatubun
Sutopo Purwo Nugroho saat menerima penghargaan dari Persatuan Dokter Paru Indonesia sebagai Inspirator Terbaik 2018 bagi penyintas/penderita kanker paru dalam melawan penyakitnya. (@Sutopo_PN)

JAKARTA, AYOBANDUNG.COM--Tahun 2018 adalah tahun bencana bagi bangsa Indonesia. Korban meninggal dan hilang akibat bencana selama tahun 2018 menjadi yang terbanyak sejak tahun 2007 hingga 2018.

Gempa beruntun di NTB, dan gempa bumi disusul tsunami dan likuifaksi di Sulawesi Tengah menyebabkan ribuan orang meninggal dunia dan hilang. Di tahun 2018 pula menjadi tahun bencana bagi Sutopo Purwo Nugroho. Pada Januari 2018, dirinya divonis dokter menderita kanker paru stadium 4B yang menyebabkan sakit fisik dan psikis.

Di tengah perjuangan hidupnya, Sutopo masih terus menyampaikan informasi bencana kepada media dan masyarakat.

Sutopo juga terus berbagi pengalaman dan menyarankan kepada penyintas kanker paru untuk tetap semangat, pantang menyerah, dan hidup sehat.

Melalui media sosial, dirinya sering mengunggah foto dan video kondisi tubuhnya untuk memberikan semangat penyintas kanker. Dirinya Juga memberikan nasihat kepada masyarakat umum untuk mengenali tanda-tanda kanker paru, serta menghindari hal-hal penyebab kanker.

Meski tahun ini cukup berat bagi Sutopo, Persatuan Dokter Paru Indonesia (PDPI) memberikan penghargaan Sutopo Purwo Nugroho sebagai Inspirator Terbaik 2018 bagi masyarakat Indonesia dalam bidang kesehatan, yakni bagi para penyintas penderita kanker dalam melawan penyakitnya, khususnya bagi penyintas/penyandang kanker paru.

AYO BACA : Kisah Sutopo yang Akhirnya Bertemu Jokowi

Penghargaan diberikan oleh Dr. Agus Dwi Susanto, Sp.P(K), FISR, FAPSR selaku Ketua Umum PDPI dalam acara Seminar Sehari tentang Kewaspadaan dan Deteksi Kanker Paru pada Layanan Primer, di Rumah Sakit Persahabatan, Jakarta, Minggu (16/12/2018).

Agus Dwi Susanto mengatakan, tindakan Sutopo telah menginspirasi penyintas kanker di Indonesia, khusus kanker paru.

"Tidak menyerah begitu saja namun tetap survive. Jumlah penderita kanker paru di Indonesia terus meningkat. Tentu ini juga terkait dengan perubahan gaya hidup. Setiap orang mempunyai risiko untuk terkena kanker paru. Kewaspadaan harus ditingkatkan pada orang-orang yang mempunyai faktor-faktor risiko,” jelasnya.

Kanker paru merupakan jenis kanker yang paling banyak didiagnosis di dunia. Kanker paru juga menjadi penyebab utama kematian akibat kanker yakni sebesar 18,4 persen dari total kematian karena kanker.

Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat, sepanjang tahun 2018 ini terdapat 2,1 juta kasus kanker paru baru dan 1,8 juta kematian karena kanker paru. Dengan kata lain, satu dari lima kematian pada kanker terjadi akibat kanker paru. Hal ini tidak lepas dari tingkat kesembuhannya yang hanya sekitar 16-18 persen saja.

Di Indonesia, angka itu tak jauh berbeda. Data dari Indonesian Cancer Information & Support Center (CISC) menunjukkan kanker paru merupakan kanker pembunuh nomor satu dengan total 14 persen dari kematian karena kanker. Angka kematian karena kanker paru di Indonesia bahkan mencapai 88 persen.

AYO BACA : Cara Hidup Sehat untuk Mencegah Kanker Payudara

Kanker paru masuk dalam golongan kanker paling mematikan lantaran sebagian besar terdiagnosis pada stadium lanjut. Angka harapan hidup pada penderita kanker paru lebih rendah dibanding kanker lain yakni hanya 12 persen. Oleh karena itu, deteksi dan diagnosis dini penting bagi penderita kanker paru. Kanker paru memiliki jenis mutasi yang berbeda-beda. Setiap jenis memerlukan penanganan yang berbeda pula.

Kanker paru dapat dideteksi dini dengan memahami gejala yang timbul. Namun, umumnya pada tahap awal kanker paru tidak menyebabkan gejala. Gejala baru muncul saat kanker sudah memasuki tahap tertentu. Gejala itu meliputi batuk yang berkelanjutan dan semakin parah bahkan berdarah, sesak napas, nyeri di dada, hingga kelelahan tanpa sebab.

Muncul pula pembengkakan pada muka atau leher, sakit kepala, dan sakit pada tulang. Gejala lain yang juga muncul adalah berat badan menurun, kehilangan nafsu makan, suara serak, sulit menelan, dan perubahan bentuk ujung jari menjadi cembung.

Risiko terkena kanker paru lebih tinggi pada orang yang memiliki faktor risiko. Faktor risiko itu di antaranya faktor usia di atas 50 tahun, genetik atau memiliki riwayat kanker paru di keluarga, terpapar karsinogen, dan gaya hidup tidak sehat seperti merokok.

Sekitar 85-95 persen penyebab kanker paru berhubungan dengan kebiasaan merokok.

Sutopo sendiri menyatakan tidak merokok, berpola makan sehat dengan banyak mengonsumsi sayur dan buah, rajin berolahraga, dan tidak ada keturunan langsung yang menderita kanker. Namun, mengapa terkena kanker paru stadium 4B? Sebagian besar pasien yang divonis kanker, apalagi sudah masuk stadium 4 yang sulit disembuhkan sesuai statistik medic, tentu akan syok. Apalagi ketika dokter mengatakan usia tinggal beberapa bulan atau tahun.

Tak hanya itu, kanker juga membuat kantong kering. Perlu biaya mahal, bahkan keuangan rumah tangga bisa bangkrut karena membutuhkan biaya yang besar dan pengobatan jangka panjang.

Sakit yang diderita juga luar biasa. Apalagi sudah metastase ke bagian tubuh lain. Untuk itulah, berhentilah merokok, atau kurangi merokok karena merokok lebih banyak mudaratnya dibandingkan manfaatnya. Terapkan gaya hidup sehat, kurangi makanan dan minuman yang berpengawet, berpewarna, bervetsin, dan bahan kimiawi lainnya. Mumpung belum telanjur, lakukan hidup sehat. Bagi penyintas kanker, jalani semua dengan ikhlas.

AYO BACA : Agar Tetap Sehat Lansia Harus Hindari Rasa Kesepian

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar