Yamaha Aerox

Kaleidoskop 2018: 2 Gempa Besar Mengguncang Indonesia

  Senin, 17 Desember 2018   Fathia Uqimul Haq
Seorang warga berdiri ditengah puing rumah dan bangkai mobil akibat gempa yang meluluhlantakan Palu, (28/9/2018). (Reuters)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM--Sejumlah gempa berkekuatan besar mengguncang beberapa wilayah Indonesia mengakibatkan sedikitnya 2000-an warga tewas. Gempa juga mengakibatkan kerugian lebih dari Rp20 triliun.

Gempa juga memicu perhatian dan bantuan dunia internasional. Musibah ini menjadi peringatan bagi manusia untuk tetap waspada akan kekutaan alam yang amat dahsyat. 

Berikut bencana gempa yang terjadi setahun terakhir di tahun 2018
1. Lombok
Sejak gempa berkekuatan 7,0 Skala Richter pada Minggu (5/8/2018) malam, Lombok terus diguncang gempa susulan. Hingga Selasa (7/8/2018), sebanyak 230 kali gempa susulan mengguncang Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Tercatat terjadi gempa bumi susulan berkekuatan 5,5 SR pada pukul 01.21 WIB di wilayah Sumbawa dengan episenter terletak pada 8,18 Lintang Selatan dan 116,29 Bujur Timur dengan kedalaman 10 kilometer.

Sementara gempa bumi dengan kekuatan yang semakin kecil juga terus terjadi setelahnya, tercatat pada pukul 04.00 hingga pukul 06.00 WITA terjadi sembilan kali gempa susulan.

Gempa bumi 7,0 SR yang melanda Pulau Lombok dan Sumbawa juga dirasakan hingga ke Bali dan Jawa Timur. Gempa tersebut disebut BMKG sebagai gempa utama dari rangkaian gempa yang terjadi di Lombok sebelumnya yaitu pada 29 Juli 2018 yang juga merusak dan menimbulkan korban jiwa jika dilihat dari episenternya yang relatif sama.
Lagi-lagi, gempa bumi kembali mengguncang wilayah Lombok berkekuatan 6,5 SR sekira pukul 11.10 WIB, Minggu (19/8/2018).

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisikasi (BMKG) menyebut titik gempa berada di kedalaman 10 kilometer 8.24 LS-116.66 BT Lombok Timur. Namun gempa ini tidak berpotensi tsunami. 

Sebelumnya, Lombok diguncang beberapa kali gempa. Bahkan, awalnya, tsunami kecil sempat menghantam beberapa daerah di Lombok.

2. Palu - Donggala
Gempa bumi sebesar 7,7 SR melanda Kota Palu dan Donggala Sulawesi Tengah. Selain beberapa orang tewas, kondisi jaringan telekomunikasi pasca-gempa bumi pada pukul 17:02 WIB, Jumat (28/9/2018) pun terputus.

Hingga pukul 18.00 WIB, hasil pemantauan Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Pos dan Informatika terdapat 276 base station yang tidak bisa digunakan.
Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami PVMBG Sri Hidayati menyebutkan Palu dan Donggala termasuk dalam zona merah. Artinya rawan bencana gempa bumi tinggi dengan intensitas guncangan di atas VIII MMI.

Wilayah tersebut termasuk dalam wilayah dengan potensi bencana gempa bumi kategori tinggi. Gempa bumi tersebut dipicu aktivitas patahan Palu Koro. Patahan ini memanjang dari sebelah barat Donggala sampai Teluk Palu. Tidak hanya di Palu ke utara, tapi juga ke selatan. Patahan Palu Koro pun termasuk patahan aktif. 

Tak henti di sana, usai gempa,  Palu dan Donggala diterjang tsunami dengan ketinggian 50 cm-1 meter. Bandara Mutiara Sis Al Jufri, Palu Sulawesi Tengah ditutup untuk sementara menyusul adanya gempa bumi 7,4 SR yang melandang Kabupaten Donggala dan wilayah Palu. Penerbangan menuju Palu dari berbagai daerah pun terpaksa harus dibatalkan.

Melansir detik, pemerintah merencanakan pembangunan 1.200 hunian sementara untuk warga terdampak gempa, tsunami, dan likuifaksi di Palu, Sigi, dan Donggala, Sulawesi Tengah. Kini sudah 458 hunian sementara yang dibangun, dan 120 di antaranya telah siap ditinggali pada 17 Desember mendatang.

Gambar mungkin berisi: teks dan luar ruangan

3. Lebak, Banten
Gempa tektonik berkekuatan 6,4 Skala Richter di Kabupaten Lebak Provinsi Banten sekitar pukul 13.34 WIB, Selasa (23/1/2018), tidak berpotensi tsunami.Menurut laman BMKG, gempa tersebut berpusat di barat daya Lebak dengan kedalaman 10 kilometer. Gempa tersebut terasa di beberapa luar Provinsi Banten seperti Bandung dan Jakarta.

Kemudian, pada 7 Juli 2018, Kabupaten Lebak Banten kembali diguncang gempa bumi sebanyak tiga kali. BMKG mencatat gempa pada pukul 11.01 WIB berkekuatan 4,1 SR dengan kedalaman 5 kilometer di 42 kilometer tenggara Lebak. Sedangkan pukul 12.18 berkekuatan 4,5 SR berada di 46 kilometer tenggara Lebak dengan kedalaman 6 kilometer.

Gempa terjadi lagi pada pukul 12.23 WIB dengan kekuatan 4,4 SR di 47 kilometer tenggara Lebak kedalaman 5 kilometer. Sebelumnya, gempa terjadi di Lebak sekitar pukul 10.53 WIB dengan kekuatan 4,4 SR.

Kemudian, gempa berkekuatan 5 pada skala Richter mengguncang kawasan Lebak Banten pada 7 Desember 2018  pagi pukul 06.43 WIB.

Berdasarkan data yang diperoleh dari Badan Meteorologi, Klimataologi dan Geofisika (BMKG) pusat gempa berada di laut 83 Km Barat Daya Lebak-Banten pada kedalaman 19 kilometer. 

Gempa terasa hingga kawasan Pelabuhan Ratu dan Pandeglang. 

Disitat dari akun Twitter resmi Kepala Pusat Data, Informasi, dan Hubungan Masyarakat di BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, tidak ada korban dan kerusakan. Aktivitas masyarakat tetap berjalan normal dan kondisi aman.

Gambar mungkin berisi: 4 orang, teks 

4. Mentawai
Gempa bumi terjadi pada hari Rabu, 12 Desember 2018, pukul 00:20 WIB. Disitat dari vsi.esdm.go.id, pusat gempa bumi terletak pada koordinat 98,65° BT dan 1,65° LS, dengan magnitudo M 5,2 pada kedalaman 21 km, berjarak 109 km baratlaut Kepulauan Mentawai.

 GeoForschungsZentrum (GFZ) Jerman melalui GEOFON program menginformasikan bahwa gempa bumi berpusat di koordinat 98,80° BT dan 1,61° LS dengan kekuatan 4,9 Mw dan kedalaman 18 km. The United States Geological Survey (USGS), Amerika, menginformasikan bahwa pusat gempa bumi terletak pada koordinat 98,776° BT dan 1,513° LS, dengan magnitudo M 5,3 pada kedalaman 28,3 km.

Pusat gempa bumi berada di Samudera Indonesia di perairan barat daya Pulau Siberut, Kepulauan Mentawai. Berdasarkan tatanan tektonik Pantai Barat Sumatera dipengaruhi oleh zona tunjaman lempeng Indo-Australia ke bawah lempeng Eurasia, sehingga memberikan kontribusi tektonik di laut maupun di daratan Pulau Sumatera. 

Berdasarkan posisi pusat gempa bumi dan kedalamannya, kejadian gempa bumi berasosiasi dengan aktifitas penunjaman lempeng Indo-Australia ke bawah Lempeng Eurasia di lokasi tersebut.

Gempa bumi ini tidak menyebabkan tsunami, karena meskipun berpusat di laut namun energinya tidak cukup kuat untuk memicu tsunami. Hingga tanggapan ini dibuat, belum ada informasi intensitas guncangan maupun kerusakan yang diakibatkan gempa bumi ini.

Gambar mungkin berisi: teks

5. Perairan Selatan Jawa Barat
Gempa bumi terjadi pada hari Minggu, 9 Desember 2018 pukul 09:50 WIB. Berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), pusat gempa bumi berada pada koordinat  9,12°LS dan 108,48°BT (160 km sebelah Barat Daya Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat), dengan magnitudo 5,0 SR pada kedalaman 10 km.

Berdasarkan informasi dari The United States Geological Survey (USGS), Amerika, pusat gempa bumi berada pada koordinat  9,058°LS dan 108,465°BT dengan kekuatan M 4,8 pada kedalaman 34,6 km.

Menyitat laman vsi.esd.go.id, berdasarkan lokasi pusat gempa bumi dan kedalamannya, gempa bumi berasosiasi dengan aktivitas penunjaman Lempeng Indo-Australia ke bawah Lempeng Eurasia.

Gempa bumi ini tidak menyebabkan tsunami, karena meskipun berpusat di laut namun energinya tidak cukup kuat untuk menyebabkan deformasi di bawah laut.

Gambar mungkin berisi: orang berjalan, teks dan luar ruangan 

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar