Yamaha Lexi

Bidang Komunikasi Penuh Persaingan, Ini Tantangannya

  Minggu, 16 Desember 2018   Adi Ginanjar Maulana
Ilustrasi: Kampus Fikom Unpad.(unpad.ac.id)

Di era informasi dan komunikasi saat ini, lulusan ilmu komunikasi memiliki posisi strategis dan menentukan. Prospek lulusan komunikasi terbuka lebar, misalnya dalam bidang manajemen, narasumber/orator, konsultasi, penulis/wartawan, produser, sutradara, peneliti, ahli strategi, dosen/guru, dan web developer. Syaratnya lulusan komunikasi harus memiliki kompetensi yang baik. (Pikiran Rakyat, 27/10)

Kompetensi yang baik mutlak harus dimiliki oleh lulusan komunikasi. Persaingan di bidang komunikasi akan semakin ketat. Hal tersebut tidak terlepas dari  ilmu komunikasi yang semakin diminati. Di Universitas Padjadajaran (Unpad), jumlah peminat ilmu komunikasi pada SBMPTN 2017 sebanyak 4.937. Pada 2018, jumlah itu meningkat menjadi 5.347. Data itu hanya untuk prodi ilmu komunikasi, belum lagi prodi lain di bidang komunikasi. Semuanya mengalami peningkatan peminat.

Setelah lulus dan berjuang mencari kerja, lulusan komunikasi tidak hanya akan bersaingan dengan sesama lulusan komunikasi. Lulusan dari bidang studi lain akan meramaikan persaingan ini. Belum lagi di era revolusi industri 4.0, teknologi digital semakin berkembang melalui kecerdasan buatan. Mereka semua memiliki potensi untuk “menggusur” lulusan komunikasi.

 Persaingan dengan lulusan dari bidang lain dapat terjadi karena bidang komunikasi bukan bidang yang eklusif. Bidang komunikasi tidak seperti kedokteran,  yang ingin menjadi dokter harus menempuh pendidikan dokter. Dalam bidang komunikasi, siapa saja, dari bidang apa saja, dapat menjalani profesi di bidang komunikasi.

Lulusan bidang lain yang terjun ke bidang komunikasi tidak dapat dipandang sebelah mata. Mereka nyatanya dapat bersaing dengan lulusan  komunikasi. Banyak nama-nama hebat di bidang komunikasi yang pendidikannya berasal dari bidang lain. Sebut saja, Najwa Shihab, Tina Talisa, Rosiana Silalahi, dan masih banyak nama lainnya.

Najwa Shihab, wartawan senior yang kini memiliki acara talkshow (gelar wicara) sendiri ini merupakan lulusan S1 Fakultas Hukum Universitas Indonesia (UI). Begitu pun dengan Tina Talisa, meski berlatar penndidikan dokter gigi ia dapat menjadi pembawa acara di televisi. Rosiana Silalahi, alumni Sastra Jepang juga mempunyai program gelar wicara di salah satu televisi swasta.

Ketatnya persaingan ini harus disadari oleh lulusan komunikasi. Tak cukup hanya mengandalkan kemampuan dasar dalam komunikasi (menulis, berbicara, mencari, mengolah, dan menyajikan informasi). Kemampuan tersebut pastilah dimiliki oleh semua lulusan komunikasi. Bila hanya memiliki kemampuan dasar, maka siap-siap untuk ditinggalkan.

Untuk itu, pengembangan diri harus dilakukan. Pengembangan diri dapat dilakukan dengan berbagai cara. Pertama, melalui sarana yang disediakan oleh kampus. Pihak kampus menyediakan unit kegiatan mahasiswa (UKM) untuk pengembangan diri mahasiswanya. Ada juga berbagai macam organisasi yang dapat diikuti oleh mahasiwa komunikasi. Sarana tersebut sebaiknya dimanfaatkan oleh mahasiswa komunikasi, agar kemampuan yang mereka miliki tidak hanya kemampuan dasar komunikasi saja.

Mahasiswa komunikasi juga dapat mengembangkan diri secara autodidak. Caranya dengan banyak membaca sumber bacaan yang bermutu, agar kekayaan intelektual bisa bertambah. Sahala Tua Saragih, Dosen Prodi Jurnalistik Unpad pernah mengatakan, tinggi rendahnya kualitas tulisan, tergantung dari kekayaan intelektual penulisnya. Bila kalimat itu saya ubah sesuai dengan konteks tulisan ini maka, “kualitas diri seseorang, tergantung dari kekayaan intelektual yang ia miliki.”

Pengembangan diri tidak hanya dibutuhkan untuk bersaing dengan sesama lulusan komunikasi dan lulusan bidang lain. Namun juga dibutuhkan untuk bersaing dengan kecerdasan buatan. Teknologi yang identik dengan industri 4.0 ini sudah menjalar ke bidang komunikasi, jurnalisme robot misalnya.

Jurnalisme robot menggunakan kecerdasan buatan untuk menyusun sebuah berita dari data-data yang tersebar di internet. Di Indonesia, jurnalisme robot diterapkan oleh Beritagar.id. Mereka menggunakan jurnalisme robot untuk membuat berita langsung terkait pasar saham dan hasil pertandingan sepak bola.

Tulisan yang dihasilkan oleh kecerdasan buatan sudah menggunakan struktur penulisan berita langsung yang rapih. Piramida terbalik bahkan diterapkan dengan baik. Kualitas tulisan itu bahkan mungkin lebih baik dari mahasiswa jurnalistik yang sedang belajar penulisan berita langsung.

Pemimpin redaksi Beritagar, Yusro M Santoso, dalam sebuah wawancara pernah mengatakan kepada saya, “Kalau kamu hanya bisa menulis berita langsung, berita remeh-temeh, kamu akan digantikan oleh robot.” Pernyataan ini menurut saya ada benarnya.

Robot dapat menulis berita langsung dengan rapih. Robot dapat bekerja lebih lama dari manusia, dan yang terpenting tidak memerlukan upah seperti halnya manusia. Lulusan komunikasi yang ingin menjadi jurnalis, tapi hanya dapat menulis berita langsung sangat mungkin akan tergeser oleh robot.

Untuk itu pengembangan diri mutlak harus dilakukan oleh mahasiswa komunikasi jika tidak ingin digeser oleh robot. Mahasiswa komunikasi harus menjadi orang yang kreatif, karena kreatifitas inilah yang tidak dimiliki oleh robot. Mereka bekerja dengan program yang dibuat oleh manusia. Sementara itu, manusia bekerja dengan akalnya, dengan kreatifitasnya. Tentu kreatifitas itu harus dilatih agar semakin tajam dan dapat diandalkan.

Dalam menghadapi ketatnya persaingan dalam bidang komunikasi, lulusan komunikasi jangan bersikap pesimis. Sikap optimis harus tetap dipertahankan. Bila lulusan bidang lain saja mampu mempelajari bidang komunikasi dengan baik, lulusan komunikasi pasti lebih mampu. Lulusan komunikasi juga pasti mampu mengembangkan diri mempelajari bidang lain. Syaratnya harus mau untuk mengembangkan diri. Seperti sebuah ungkapan yang terkenal, “Di mana ada kemauan, di situ ada jalan.”

Naufal Ikbar

Mahasiswa Jurnalistik Fikom Unpad

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar