Yamaha Aerox

Sedang Berada di Semarang? Ayo Kunjungi Tempat Ini

  Sabtu, 15 Desember 2018   Rizma Riyandi
Beberapa pengunjung mengeksplorasi objek Wosata Goa Kreo dan Waduk Jatibarang, Sabtu (15/12/2018). (Afri Rismoko/Ayosemarang.com)

GUNUNGPATI, AYOBANDUNG.COM--Objek wisata Goa Kreo dan Waduk Jatibarang menjadi salah destinasi wisata alam yang diminati pengunjung lokal dan luar daerah. Destinasi wisata yang berada di Kecamatan Gunungpati, Kelurahan Kandri itu tergolong unik.

Sebab, Kota Semarang yang merupakan kota metropolitan masih memiliki wisata alam yang bisa dikunjungi. Untuk tiket masuk ke Goa Kreo pengunjung cukup membayar tiket Rp4.500 di hari biasa dan biaya parkir Rp1.000 untuk roda dua dan Rp2.000 untuk mobil.

Di sana pengunjung akan disuguhi pemandangan alam yang masih asri dan Waduk Jatibarang. Selain itu juga banyak spesies monyet yang tinggal di wilayah tersebut. Wisatawan bisa juga memberi makanan kepada kera dengan membelinya di warung-warung yang berada di dalam objek wisata itu.

Menurut sejarah, Goa Kreo merupakan sebuah goa yang dipercaya sebagai petilasan Sunan Kalijaga saat mencari kayu jati untuk membangun Masjid Agung Demak. Ketika melewati area itu menurut legenda Sunan Kalijaga bertemu dengan sekawanan kera yang kemudian disuruh menjaga kayu tersebut.

"Pada awal-awal dibuka dulu Goa Kreo dan Waduk Jatibarang banyak dikunjungi wisatwan. Bahkan membuat jalan menuju wisata tersebut hampir setiap pekan macet karena dibanjiri pengunjung. Tapi lama kelamaan wisatawan ungkin sudah tidak penasaran, dan sekarang tidak seramai dulu, tapi kini tumbuh objek-objek baru yang menjadi pendongkrak tumbuhnya pariwisata di derah ini lagi," kata Laila Fitriana warga setempat.

AYO BACA : Nikmati Wisata Berkuda dan Memanah Akhir Pekan di Daarus Sunnah

Di sepanjang jalur masuk objek rekreasi tersebut juga tumbuh beberapa spot foto yang sengaja dibuat warga sekitar. Ada spot foto di beberapa tempat dengan tema berbeda misalnya ada tema awan, balon udara, rumah salju, bunga sakura, permen lolypop dan tema-tema lainnya. Ada beberapa paket tarif di spot foto tersebut mulai Rp5.000.

“Spot-spot foto tersebut tumbuh atas kreatifitas para pemuda di daerah ini dengan memanfaatkan latar belakang alam dan wduk yang masih alami. Spot-spot foto itu melengkapi objek Goa Kreo dan Waduk Jatibarang sekaligus memberdayakan pemuda setempat,” ujar Ari Sunarto warga Talun Kacang, Kandri.

Dia mengaku, keberdaan spot foto bisa kembali menarik para wisatawan. Sebab, dulu yang ditwarkan hanya wisata alam Goa Kreo dan Waduk Jatibarang. Kemudian lambat laun kunjungan wisatawan terus menurun karena rata-ata pengunjung sudat tidak penasaran lagi.

Ana Khoirul salah satu pengelola spot foto mengaku jika musim liburan dia kewalahan melayani pengunjung. Karena mereka harus antri untuk melakukan sesi foto tersebut.

Tarif pun dipatok mulai Rp 5.000 untuktiga kali foto, Rp10.000 untuk enam kali foto dan yang paling mahal Rp50.000 untuk 30 kali foto.

AYO BACA : Lama Tak Terdengar, Ini Dia Wajah Baru Wisata Batu Kuda

“Ada juga properti yang disewakan seperti boneka, payung dan lain-lain.Pengunjung cukup memberikan memory card ke petugas. Yang jadi kendala ketika ujan dan angin kencang kami tidak bisa beroperasi, karena spot foto di area terbuka, spot foto ini dimulai sejak Agustus 2017 lalu,” katanya.

Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi mengatakan di era digital ini, spot-spot foto yang menarik seperti ini memang penting sebagai penarik wisatawan. Karena menurut sebuah survei yang dilakukan oleh sebuah startup yang bergerak di bidang pariwisata, disebutkan bahwa 2/3 wisatawan tertarik datang ke sebuah tempat karena tempatnya instagrammable.

Di area waduk juga terdapat persewaan perahu motor/ boat dengan tarif Rp100.000 per orang untuk tujuh kali putaran di waduk. Jadi para wisatawan bisa menikmati sensasi naik perahumotor memutari Waduk Jatibarang.

Akibat pesatnya perkembangan wisata di daerah tersebut juga berdampak pada warga sekitar yang ramai-ramai memuat homestay. Saat ini ada sekitar ada sekitar 10 8 unit homestay yang berda di RW 1 (40), RW 2 (30) dan RW 3 (38).

“Home stay di sekitar Desa Wisata Kandri itu tidak perlu dibangun. Warga hanya menyediakan kamar-kamar yang standar. Yang penting nyaman bagi wisatawan lokal dan mancanegara,” ujar sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang, Kasturi.

Setiap tahun sebelum Lebaran diselenggarakan Sesaji Rewanda di Goa Kreo. Acara tersebut merupakan salah satu bentuk warga setempat yang kini terus dilestarikan sekaligus untuk menarik wisatawan. Hasil bumi palawija berupa buah-buahan dan nasi tumpeng serta sego ketek diarak warga saat upacara ritual tersebut.

AYO BACA : Liburan, Wisata Terasering Panyaweuyan Dipadati Pengunjung

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar