Yamaha Lexi

Lipkhas: Seluk Beluk Kolumbarium, Tempat Penyimpanan Rumah Abu

  Sabtu, 15 Desember 2018   Fathia Uqimul Haq
Seluk Beluk Kolumbarium, Tempat Penyimpanan Rumah Abu. (ayobandung.com/Fathia Uqimul Haq)

BANDUNG KULON, AYOBANDUNG.COM--Kolumbarium adalah istilah yang digunakan untuk rumah abu. Di Bandung, Kolumbarium terdapat di Yayasan Dana Sosial Priangan (YDSP), Jalan Nana Rohana. 

Kolumbarium dua lantai itu kini telah dipenuhi ribuan abu dari orang yang telah meninggal. Apalagi lantai pertama kolumbarium YDSP sudah tak layani penjualan tempat penyimpanan lantaran sudah penuh. 

AYO BACA : Lipkhas: Menelusuri TPU Cikadut, Makam Tionghoa Terbesar di Kota Bandung

Dosen Bahasa dan Budaya Tionghoa UNPAD, Sugiri menerangkan ada kolumbarium lain di Bandung di sebuah gereja Katolik. Artinya rumah abu tersebut khusus beragama Katolik. 

"Ini YDSP bebas. Saya pernah mendokumentasikan, salah satu suaminya Tionghoa kepercayaan tradisional, mantunya muslim pernah ikut ritual di sini," katanya, Kamis (13/12/2018).
 
Sugiri mengungkapkan, alasan keluarga meninggalkan abu di kolumbarium supaya bisa ikut terdoakan ketika ada yang sembahyang di sana. Kalau ada abu yang disimpan di kelenteng itu adalah komunitas masyarakat orang tradisional. 

AYO BACA : Lipkhas: Kremasi, Cara Akhiri Raga yang Telah Mati

Dulu ada tangga-tangga yang berundak hingga 9 tingkat. Abu nenek moyang tertua disimpan di paling atas. Kalau penuh, abu paling atas diangkat dan hilang terganti. Biasanya setelah terganti, papan nama nenek moyang akan ditaruh atau dibakar di kelenteng. 

"Jadi 7 sampai 9 generasi yang bisa dijalankan di rumah, sesudah itu ya udah. Nah itu yang pribadi, kalau yang di kelenteng,  nomor satu ya para dewa itu yang ada patung-patung," ujarnya.

Sementara itu ada pula titipan kertas merah yang disimpan di kelenteng. Sebelumnya kertas merah itu untuk disimpan di rumah. Namun karena orang rumah tidak mau melaksanakan peringatan sehingga dititiplah kertas itu di kelenteng supaya disembahyangi bersama pada tanggal 1 dan 15 imlek. 

Setiap bulan Maret ada peringatan Ceng beng atau Ching Ming, suatu hari ziarah tahunan bagi etnis Tionghoa. Warga Tionghoa akan datang ke makam kuburan orang tua atau leluhurnya sembari membawa buah-buahan, kue, dan karangan bunga. Kata Ching sendiri berarti hijau dan Ming adalah cahaya. Sehingga di bulan sekira Maret dan April adalah waktu di mana matahari paling terang sehingga cuaca lebih hangat. 

"Setiap Ceng Beng itu karena orang-orang ada yang enggak punya makam mereka datang ke kolumbarium untuk melaksanakan peringatan itu," kata dia.

AYO BACA : Lipkhas: Menyambagi Rumah Abu Yayasan Dana Sosial Priangan Nana Rohana

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar