Yamaha Lexi

Salsabilla, Tunarungu dari ITB yang Buat Komik Sendiri

  Selasa, 11 Desember 2018   Fathia Uqimul Haq
Salsabilla, Tunarungu dari ITB yang Buat Komik Sendiri (Humas ITB)

COBLONGAYOBANDUNG.COM--Meski terlahir sebagai penyandang tuna rungu, Salsabilla Rasika Sumekto tak mau ketinggalan unjuk gigi dalam berkarya. Ia berhasil membuat komik berjudul "Wavelength" yang ditayangkan dalam web Ciayo Comics yang sudah mencapai 25 episode. 

Wavelength bercerita soal tunarungu yang bersekolah di sekolah inklusi dan bertemu empat temannya. Namun, dia melawan keterbatasan dengan beradaptasi dengan masalah sehari-hari. 

"Karya komik Salsabilla bisa dilihat di ciayo.com. Cerita di komik tersebut belum tamat, masih ada beberapa episode lainnya yang akan terbit," katanya, melansir laman itb.ac.id, Selasa (11/12/2018). 

Mahasiswa Tahap Persiapan Bersama (TPB) di Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB ini melawan keterbatasan dengan menyalurkan dirinya lewat komik. Meski hanya mampu mendengar suara di atas 90 sampai 110 desibel semenjak lahir, Salsabilla menjadikan komik sebagai media menyampaikan pesan dari gagasan yang dimilikinya. 

Sejak dini, wanita asal Jakarta itu gemar membaca komik dan menganalisis teknik penggambarannya. Saat kelas 4 SD ia membuat komik pertamanya. Sejak saat itulah ia hobi menggambar, hingga dia memilih FSRD ITB sebagai tempat mencari ilmu lebih dalam. 

AYO BACA : 7 Webtoon Recommended dari Berbagai Genre dan Bahasa

Ditanya soal menciptakan tokoh dalam komik, ia mengaku membuatnya autodidak. Tak heran, dia pun sering menjuarai lomba menggambar dan bertekad menjadikan aktivitas ini sebagai profesinya di masa yang akan datang.

"Dari situ Salsabilla dikontrak menjadi asisten komikus Pinakes dengan komik Aldnoah Zero yang diadaptasi dari anime Jepang. Pinakes merupakan seorang komikus profesional. Saya dapat banyak ilmu dari Pinakes. Makanya sekarang saya masih suka bikin komik," jelasnya. 

Wavelength menceritakan soal meningkatkan kesadaran terhadap orang yang memiliki kebutuhan khusus untuk membantu mereka saat kesulitan. Menurutnya, orang sering menganggap tunarungu itu bodoh. Padahal kecerdasannya sama, namun cara komunikasi saja yang berbeda. 

"Gerakan bahasa isyarat sedang diperjuangkan oleh komunitas-komunitas tuli saat ini," ujarnya. 

Salsabilla pernah duduk di sekolah berkebutuhan khusus, yaitu TKLB Santi Rama dan SDLB Santi Rama di Jakarta. Namun, saat kelas 4 SD dia pindah ke sekolah umum. Kemudian dia melanjutkan studinya ke SMPN 226 Jakarta dan SMA Negeri 1 Depok. Melalui SBMPTN, Salsabilla  diterima di FSRD ITB.

AYO BACA : 5 Tips Agar Liburan Panjangmu Tetap Aktif dan Fit

Dia mengaku tak ada kendala yang berarti selama kuliah. Namun, ada saja kesulitan saat dosen tengah menerangkan teori di saat penjelasannya melalui lisan. Maka dari itu, ia meminta tolong temannya untuk menerjemahkan ulang secara tertulis. 

"Saya terbantu kalau dosen menulis di papan tulis. Sebab sejak lahir saya mengandalkan 'vision' jadi kadang tidak mengerti atau tidak menangkap gerakan bibir," katanya.

Soal pertemanan, ia melihat banyak teman mahasiswa yang ingin berkenalan lebih dekat namun terkendala dengan cara berkomunikasi. Terlebih mereka belum mengerti bahasa isyarat.

Miskomunikasi pun kerap terjadi ketika yang didengar teman-teman dan dosen berbeda ketika ada suatu perintah. Oleh sebab itu, bahasa isyarat adalah hal penting yang harus dipelajari, bukan cuma bagi tunanetra tapi yang dikaruniai pendengaran normal, supaya bisa berkomunikasi dengan lancar.

Salsabilla berpesan keterbatasan bukanlah hambatan, tapi sebuah hal yang harus disyukuri. 

"Tonjolkan kelebihan masing-masing. Saat ada kesusahan pasti ada kemudahan dan jalannya tersendiri," kata dia. 

AYO BACA : Ajang Saling Jegal antara Napoli, PSG, dan Liverpool

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar