Yamaha NMax

Pengalaman Nikah di KUA, Antara Saya, Kamu, dan Penghulu

  Selasa, 11 Desember 2018   Rizma Riyandi
Ilustrasi buku nikah.

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM--Jumat, tanggal 7, bulan 7, tahun 2017, menjadi hari yang paling membahagiakan bagi saya dan calon pasangan saat itu. 

Tepat pukul 09.00 kami sudah tiba di Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Selaawi, Kabupaten Garut, lengkap dengan keluarga dan para saksi yang akan menyaksikan akad nikah.

Pagi itu saya hanya mengenakan kerudung, atasan batik merah muda, dan rok abu-abu, tanpa riasan pengantin pada umumnya. Hanya ada bedak dan lipstik tipis yang menempel di wajah. Sementara itu, calon suami hanya memakai atasan kemeja, jas hitam, celana kain, dan kopiah. 

Tak lama, penghulu segera merapal kalimat sakti pengikat hubungan pernikahan. Lancar dan tanpa pengulangan, prosesi akad nikah yang mendebarkan itu ternyata hanya berlangsung kurang dari 5 menit. 

AYO BACA : Ini 4 Keunggulan Menikah di KUA

Seketika, status saya berubah menjadi istri orang. Hak dan kewajiban saya bertambah, tak lagi sama seperti sebelumnya. Begitupun dengan mempelai pria yang sekarang sudah sah menerima tanggung jawab sebagai suami saya, Umar Mukhtar.

Syukur pun kami ucapkan bersama-sama. Rencana akad nikah di Kantor Urusan Agama (KUA) yang sudah kami rencanakan beberapa bulan lalu akhirnya berjalan lancar dan Insyaallah penuh berkah. Tanpa diduga, saat kami hendak pulang, Kepala KUA Selaawi malah berterima kasih kepada kami.

Ia merasa terhormat lantaran kami telah mempercayakan KUA Selaawi sebagai tempat akad nikah. "Hatur nuhun parantos mercantenkeun akad nikah di dieu (terima kasih sudah melakukan akad nikah di sini)," katanya dengan senyum mengembang kepada bapak saya dan kakak suami saya dalam bahasa Sunda.

Usut punya usut, rupanya kami merupakan pasangan suami-istri pertama yang melangsungkan akad nikah di sana. Dengan begitu, harapannya, ke depan akan ada lagi warga yang menggelar akad nikah di KUA sehingga fasilitas negara yang ada di KUA dapat optimal dimanfaatkan.

AYO BACA : Ternyata Masih Banyak KUA Tak Punya Kantor

Saya dan suami memilih melangsungkan akad nikah di KUA atas beberapa pertimbangan, di antaranya suasana yang lebih kondusif dan bebas biaya administrasi pernikahan. 

Pasalnya, dengan melangsungkan akad nikah di luar KUA, kami harus membayar biaya administrasi paling sedikit Rp600.000. Ditambah dengan adanya oknum penyuluh Kementerian Agama (Kemenag) di perkampungan Garut Utara, biaya administrasi pernikahan bisa mencapai Rp1,5 juta untuk sekali akad.

Hal ini tentu saja membebani para calon mempelai. Terutama bagi mereka yang berasal dari kalangan menengah ke bawah. Alhasil, banyak masyarakat di kampung saya yang berhutang sana sini untuk menutupi biaya nikah. 

Beruntung, keluarga suami saya dapat diajak kompromi. Meski berasal dari ibu kota, mereka tak meributkan soal tempat akad dilaksanakan. Bagi keluarga saya dan suami, yang penting akad nikah kami berjalan lancar.

Alhamdulillah, apa yang kami lakukan dapat diterima masyarakat sekitar kampung. Karenanya, sekarang mereka tahu bahwa akad nikah bisa dilaksanakan di KUA tanpa biaya administrasi sepeser pun.

Beberapa bulan lalu, seorang tetangga sempat bertanya soal prosedur menikah di Kantor Urusan Agama. Beberapa minggu kemudian, ia dapat menikahkan adiknya di KUA tanpa harus berutang sana-sini.

AYO BACA : Ini Hadiah bagi Penghulu KUA yang Rajin Lapor Gratifikasi ke KPK

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar