Yamaha

Petani Majalengka Sulap Kulit Kopi Jadi Minuman Teh

  Senin, 10 Desember 2018   Nur Khansa Ranawati
Kasie Perkebunan Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Majalengka, Tati Nuridah memperlihatkan teh kopi cascara pada Hari Perkebunan 2018 di Gedung Sate akhir pekan lalu.(Nur Khansa/ayobandung.com)

BANDUNG WETAN,AYOBANDUNG.COM--Salah satu hal yang menarik perhatian Ayobandung.com pada bazar peringatan Hari Perkebunan 2018 di Gedung Sate, Sabtu hingga Senin (8-10/12/2018) yakni tenda milik sejumlah kelompok tani dari Kabupaten Majalengka. 

Di atas meja produk mereka terdapat sejumlah kemasan teh yang isinya sekilas seperti makanan lain. Salah satunya bahkan berbentuk bulat kecokelatan.

Kasie Perkebunan Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Majalengka Tati Nuridah kemudian menjelaskan teh bulat kecokelatan tersebut--yang terbuat dari kulit kopi--diproses. 

"Jadi setelah kopi dilepaskan kulitnya lewat mesin depulper, kulitnya tersebut diambil dan dimanfaatkan. Setelah diambil langsung dijemur di bawah matahari saja," jelasnya akhir pekan lalu.

Setelah dijemur, kulit yang dipisahkan dari cherry (buah) kopi, yang asalnya berwarna merah, berubah menjadi cokelat. Teh kulit kopi ini juga dikenal dengan sebutan cascara. Sebagian orang mengenal cascara sebagai alternatif kopi bagi orang yang memiliki asam lambung, karena kadar kafeinnya sangat rendah. 

AYO BACA : Mencicipi Manisan Kopi Khas Gunung Palasari

Ketika Ayobandung.com mencicipinya, rasanya terbilang cukup pekat, dan memiliki after taste seperti yang kerap muncul pada saat meminum kopi, meskipun tidak memiliki unsur rasa pahit. 

Tati mengatakan, hal tersebut terjadi karena lendir tanaman kopi tidak dikeringkan dari kulit, masih terbawa saat dijemur sehingga aromanya meresap. 

Tak hanya bisa dinikmati oleh penderita mag, cascara juga memiliki berbagai khasiat lainnya. 

Petani kopi Kecamatan Lemahsugih, Kabupaten Majalengka, Aim Ali Iman, mengatakan, cascara salah satunya bermanfaat untuk menurunkan berat badan.

"Cascara bisa menurunkan berat badan, lalu menurunkan asam lambung, rasanya kecut seperti lemon tea, cocok kalau pakai gula dan air dingin," ungkapnya. 

AYO BACA : Kopi Sunda Buhun Palintang, Cita Rasa Khas Disukai Pasar Internasional

Di samping itu, cascara juga dapat menurunkan sembelit, pengobatan batu empedu, hingga kanker.

Teh Proses Alami

Selain cascara, Kecamatan Lemahsugih juga memproduksi teh gelang, yakni daun teh yang diproses dengan cara manual. Teh gelang yang dibuat oleh Kelompok Tani Sadesari ini memanfaatkan daun teh hitam untuk kemudian digelang atau gerakan remas-giling-gulung.

Pertama, daun teh yang telah dipetik harus dilayukan. Daun teh layu lalu disangrai dengan api kecil sambil diaduk. Pembakaran yang digunakann adalah pembakaran kayu dengan wadah tanah liat.

"Setelah itu lalu digelang, dibilas, dan dimasukkan ke tampah sampai minyaknya keluar. Setelah dingin, dipanaskan lagi sambil diaduk, digelang hingga berwarna kecokelatan," jelas Tati.

Karena prosesnya yang alami, teh gelang memiliki aroma yang lebih kuat dan lebih pekat dari teh biasa. Teh ini diproduksi di dataran tinggi Desa Cipasung dengan ketinggian lebih dari 1.000 mdpl.

AYO BACA : Mengenal Kopi Arjasari yang Disangrai Tradisional

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar