Yamaha Mio S

Bandoeng Baheula: Kisah Tragis DW Berretty, Aneta, dan Vila Isola

  Rabu, 05 Desember 2018   Rahim Asyik
Direktur kantor berita Aneta (Algemeen Nieuws-en Telegraaf-Agentschap) sekaligus pemilik Vila Isola Dominique Willem Berretty bersama anaknya, Dodo. Kisah raja media ini penuh dram dengan akhir tragis (Sumber: Sipatahoenan, 22 Desember 1934).

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM – Berikut kisah menarik di Bandoeng baheula. Kisah berkaitan dengan Dominique Willem Berretty, raja media sekaligus pemilik Vila Isola.

Foto di atas menunjukkan DW Berretty sedang bersama anaknya yang bernama Dodo. Koran Sipatahoenan tanggal 22 Desember 1934 menulis kalau Berretty adalah sosok yang terkenal.

”Kawentar koe hiroepna noe sesa seubeuh, kawentar koe mere-mawehna, kawentar koe... affaire-na.” Terkenal lantaran tak kenal kekurangan pangan, terkenal lantaran kedermawanannya, dan terkenal lantaran skandal-skandal asmaranya.

DW Berrety lahir di Jogjakarta pada 20 November 1890. Dia anak pasangan pengusaha Italia Dominique Auguste Leonardus Berrett dan Marie Salem, orang Jawa.

Kariernya dimulai sebagai korektor di Bataviaasch Nieuwsblad pada 1910. Namun dengan cepat melesat hingga berhasil mendirikan kantor berita Aneta pada 1 April 1917. Aneta boleh dikata merupakan cikal-bakal Antara.

Dalam usia belum genap 30 tahun, DW Berretty ”si raja rumor dari Bandoeng” ini sudah dikaruniai kekayaan melimpah. Seiring dengan kemakmurannya, kisah asmaranya pun tak kalah dinamisnya.

DW Berretty tercatat 6 kali menikah dan dikaruniai 3 orang anak. Yang paling menghebohkan adalah hubungan asmaranya dengan salah seorang anak Gubernur Jenderal Hindia Belanda Bonifacius Cornelis de Jonge yang tengah berkuasa.

Hubungan itu konon tidak direstui de Jonge dan bahkan ada yang mengaitkannya dengan meninggalnya DW Berretty.

AYO BACA : Bandoeng Baheula: Asal Usul Julukan Parijs van Java

Pesawat yang Ditumpangi DW Berretty Jatuh di Gurun

Pada tanggal 19 Desember 1934, DW Berretty bersama Profesor Walch dan Kort naik pesawat terbang Douglas DC-2 yang diberi nama Uiver. Pesawat yang mengangkut 51.000 surat itu berangkat dari Bandara Schiphol di Amsterdam, Belanda, dengan tujuan Indonesia.

Penerbangan ini sebetulnya penerbangan keduanya.

‏Uiver adalah pesawat yang dibeli maskapai penerbangan belanda, KLM, dari Amerika. Pada tanggal 20 Oktober 1934, pesawat dilombakan terbang jarak jauh.

Pesawat terbang sejauh 15.000 kilometer, dari London di Inggris menuju Melbourne di Australia. Uiver berhasil menjadi juara kedua dengan waktu tempuh 90 jam 13 menit atau 3 hari 18 jam 13 menit.

Keberhasilan Uiver ini dijadikan simbol kejayaan Belanda. Pesawat dibawa ke Indonesia dan dipestakan di mana-mana. Baru pada 21 November 1934, Uiver kembali ke hanggarnya di Belanda.

Terpicu keberhasilan sebelumnya, Uiver pun diterbangkan lagi ke Indonesia. Namun kali ini nasibnya nahas. Di tengah perjalanan, di antara Gaza dan Ruthbah, pesawat terganggu cuaca dan jatuh di gurun pasir.

Pesawat Uiver ditemukan pukul 13.30 waktu Indonesia pada tanggal 21 Desember 1934. Dilaporkan Sipatahoenan, ”noe ngamoedina, tiloe panoempang djeung 51.000 soerat2 keur ka Indonesia leboer djadi leboe.”

AYO BACA : Bandoeng Baheula: Soekarno Mengendorse Pengusaha Tionghoa

Pilot berikut tiga penumpang dan 51.000 surat-surat dengan tujuan orang-orang di Indonesia, hancur lebur jadi abu.

Nasib Vila Isola Sepeninggal DW Berretty

Praktis, DW Berretty tak lama menikmati Isola, bungalow mewahnya di Bandung. Vila Isola dibangun hanya sekitar 5 bulan, dari Oktober 1932 sampai Maret 1933.

Bangunan seharga 500.000 gulden itu dibuat arsitek ternama Prof. Charles Prosper Wolff Schoemaker.

Lalu bagaimana dengan nasib Vila Isola setelah Berretty meninggal? Tanggal 2 Februari 1935, beredar kabar bahwa Vila Isola akan dijual.

Namun entah karena apa, rencana penjualan itu batal. Sebagai gantinya, Vila Isola dibuka untuk umum. Siapa saja boleh masuk ke dalam Vila Isola untuk melihat-lihat. Akan tetapi, waktu dan jumlahnya ditentukan.

Pada pertengahan 1935, muncul rencana untuk mengubah Vila Isola menjadi hotel yang pengelolaannya berada di bawah manajemen Hotel Homann. Bagaimana persisnya, sulit mencari informasinya. Yang jelas, rencana itu terus dimatangkan.

Baru pada akhir tahun, yakni pada 11 Desember 1935, hotel mewah yang diberi nama Luxe-Dependance Isola dibuka. Kapasitas hotel terbatas, hanya menyediakan 15 kamar, tampaknya untuk menjaga orisinalitas bangunan aslinya.

Yang menarik, tamu yang menginap di hotel ini boleh makan di Hotel Homann dengan tanpa tambahan biaya lagi.

AYO BACA : Bandoeng Baheula: Ini yang Dilakukan Charlie Chaplin di Bandung

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar