Yamaha Mio S

Mengapa Daya Juang dan Kreatifitas Tak Muncul di Desa?

  Selasa, 04 Desember 2018   Dadi Haryadi
(Pixabay.com)

Ada banyak alasan mengapa sebuah negara lebih maju dari yang lain. Republik Federasi Jerman yang GDP-nya tahun nomor empat terbesar di dunia, maju karena sebelumnya kerajaan-kerajaan saling bersaing menjadi yang terbaik. Maka ketika republik terbentuk, negara ini menjelma menjadi raksasa manufaktur.

Faktor alam juga mempengaruhi. Penduduk di negara-negara empat musim berusaha menyesuaikan diri dengan musim yang berganti-ganti dari dingin, semi, panas sampai gugur. Jika salah mengantisipasi maka mereka lebih menderita dari yang lain. Lantaran hal itu, maka mereka sangat peduli dengan waktu.

Bila Jerman mempunyai empat musim dengan alam yang subur, Korea dan Jepang nasibnya lebih buruk karena tidak mempunyai sumber daya alam. Meskipun begitu Korea menduduki peringkat ke sebelas GDP terbesar di dunia, sedangkan Jepang nomor tiga, China di posisi kedua dan AS di urutan pertama.

Kondisi alam yang sulit dan kekurangan sumber daya alam membuat rakyat Korea dan Jepang berjuang keras. Konon, kemajuan ini berkat peran AS yang menjadikan Korea Selatan sebagai etalase keberhasilan dunia demokrasi dalam Perang Dingin.  

Faktor penentu keberhasilan tentu tidak satu. Ada peran pemerintah, bentuk sistem politik dan sebagainya, tetapi faktor dominan tetap manusianya. Bagaimana manusia menanggapi kondisi lingkungan, serta langkah-langkah yang diambilnya.

AYO BACA : Mengapa AS Cemaskan Ekspansi Utang Tiongkok?

Di pihak lain, masyarakat yang yang tinggal di alam subur dan mengalami dua musim saja, kerap tak mempunyai daya juang sekuat masyarakat yang menetap pada daerah yang kering kerontang. Mereka yakin situasi besok, minggu depan atau lima, sepuluh tahun mendatang sama saja. Sudah kepalang dimanja alam.

Mereka baru tersentak setelah mendapati keburukan ekonomi pasar ditambah dengan pemilikan luas lahan yang makin menyusut. Pertanian atau perkebunan tidak bisa lagi menjadi andalan hingga harus mencari pendapatan lain, itu berarti pindah ke kota.

Muncul Setelah Kepepet

Yang menarik, daya juang dan kreatifitas muncul saat tinggal di perkotaan. Menjual gado-gado dengan pendapatan bersih Rp300 ribu-Rp500 ribu setiap hari. Berdagang sate ayam dengan sasaran anak-anak sekolah, satu tusuk seribu rupiah. Modalnya seekor ayam utuh Rp30 ribu per ekor.

Masyarakat Korea atau Jepang maju karena tidak mempunyai sumber daya alam yang memadai, budaya lokal yang menjunjung pendidikan, kejujuran, kerja keras dan hidup hemat. Mereka juga didukung birokrasi pemerintah yang efektif dan efisien.

AYO BACA : Mengalirkan Rezeki Bandara Kertajati untuk Semua

Kalangan pebisnis di Jepang dengan cerdik membuat produk-produk ukuran kecil dan praktis untuk disesuaikan kondisi rumah yang rata-rata 83 meter persegi. Sofa di ruang tamu yang bisa diubah menjadi tempat tidur sudah jamak sejak dulu kala.

Mereka memproduksi kaos kaki berharga mahal dengan mereknya tertulis di bawah betis. Alasannya, orang Jepang harus membuka sepatu bila akan duduk di tatami jadi orang lain akan melihat, betapa mahal harga kaos kakinya.

Mungkin sudah hukum alam kalau kepepet baru kreatif, tetapi bisakah daya juang dan kreatifitas itu muncul di desa yang nyaman, subur dan tentram?

Dalam konteks ini, pembaharu dapat muncul dari penduduk desa yang berfikiran jauh ke depan yang berkategori keluar dari kenyamanan. Lebih bagus bisa disertai birokrasi desa yang berfikiran sama. Kombinasi diantara keduanya akan mampu memanfaatkan potensi mulai hal-hal yang kecil sampai berskala menengah.

Di Jepang, penduduk lokal dengan bangga memamerkan sejenis ikan sidat yang hidup tak terganggu di selokan. Belum lagi pohon bambu yang berumur ratusan tahun dan sebagainya. Semuanya menjadi obyek wisata.

Di pedesaan Indonesia terbuka peluang untuk tumbuh dan berkembang. Bank Indonesia misalnya, dapat membantu sebuah desa atau kecamatan berswasembada, sebagai bagian dari upaya menekan inflasi dari aspek biaya.

Farid Khalidi

AYO BACA : Dana Desa dan Sektor Wisata Jabar, Tangkal Dampak Pelemahan Rupiah

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar