Yamaha Lexi

Kanzia Perlu Bantuan, Kena Rubella Sejak Lahir dan Perlu Operasi Pendengaran

  Minggu, 02 Desember 2018   Nur Khansa Ranawati
Kanzia (Dok. Ririn)
CIMENYAN, AYOBANDUNG.COM--Kanzia Nafisa Dhia, anak perempuan berusa 1 tahun 3 bulan, sejak lahir telah mengalami kondisi yang berbeda dengan bayi pada umumnya. Dia didiagnosa terkena penyakit Rubella Syndrome, yang menyerang sejumlah organ tubuhnya meliputi mata, jantung, hingga pendengaran yang menyebabkan hambatan pertumbuhan secara menyeluruh.
 
Di usia bayi tersebut, Kanzia telah mengalami operasi katarak kongential sehingga dirinya perlu menggunakan kacamata plus-25 setiap hari, bocor jantung  (yang sudah mulai membaik), pengobatan Tuberkulosis (TB/TBC), serta membutuhkan oksigen untuk meringankan sesak napas sehari-harinya hingga saat ini.
 
Namun, ada salah satu kondisi dampak virus Rubella pada Kanzia yang saat ini belum ditangani, yaitu gangguan pendengaran. Setelah mengantri jadwal pemeriksaan di Rumah Sakit Hasan Sadikin selama satu tahun, Kanzia didiagnosa memerlukan alat bantu dengar serta operasi implan koklea bilateral untuk kedua telinganya.
 
Hal tersebut disampaikan sang ibu, Ririn Kinanti, ketika dihubungi ayobandung.com lewat sambungan telepon, Sabtu (1/12/2018).
 
"Hari Rabu (28/11/2018) kemarin Kanzia tes pendengaran, hasilnya kurang baik, kata dokter kedua pendengarannya rusak parah dan jalan satu-satunya harus lewat operasi (implan koklea), bila sudah bisa mulai dengar harus terapi wicara," ungkapnya.
 
Namun, tak mudah bagi wanita yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga serta sang suami, Rizki Pribadi Komaran, yang sehari-harinya berjualan kue basah di pasar tersebut untuk menyetujui tindakan operasi.
 
Pasalnya, untuk membeli peralatan implan koklea bilateral, Ririn mengatakan, diperlukan biaya antara Rp 176 juta hingga Rp 300 juta per telinga. Untuk tindakan operasi implan, dibutuhkan Rp 40 juta.
 
Hal tersebut belum termasuk biaya pembelian alat bantu dengar seharga Rp 26.400.000 per telinga.
 
"Saya kan pengguna BPJS UHC (Universal Health Coverage), kata dokter biaya yang bisa dibantu BPJS hanya pembelian alat bantu dengar sebesar Rp 500.000, yang lainnya tidak bisa, itu kebijakan dari BPJS-nya. Akhirnya saya tunda dulu karena enggak punya uang," ungkapnya.
 
Selama ini, Ririn mengatakan, biaya operasi katarak, pengobatan jantung dan TBC telah dibantu BPJS termasuk biaya kontrol rutin yang masih berlangsung hingga saat ini di tiga rumah sakit yang berbeda. Keluarganya hanya menanggung biaya obat-obatan. Namun, biaya operasi implan dan pembelian alat bantu dengar tidak termasuk pada tanggungan BPJS secara penuh.
 
Berdasarkan informasi yang Ririn terima, BPJS maksimal hanya dapat menanggung hingga Rp 2 juta untuk pembelian alat bantu dengar.
 
Selain biaya perawatan Kanzia, Ririn dan sang suami juga harus menafkahi anak pertamanya yang masih duduk di kelas 1 Sekolah Dasar. Pendapatan bersih dari berjualan kue basah di Pasar Tilil dan menitip dagangan di warung-warung hanya mencapai rata-rata Rp 60 ribu per hari. Dengan kondisi ekonomi tersebut, Ririn sangat berharap keluarganya mendapat uluran tangan dari para dermawan yang berkenan untuk membantu.
 
Rujukan Online BPJS Dinilai Memberatkan
 
Sistem rujukan online alias daring untuk pasien BPJS yang tengah berada dalam masa uji coba dinilai memberatkan oleh Rini. Pasalnya, kini peserta tidak dapat langsung dirujuk menggunakan BPJS ke rumah sakit yang diinginkan. Peserta harus dirujuk ke lima jenis rumah sakit, yakni Tipe A (terlengkap dengan dokter spesialis paling banyak) hingga tipe D sesuai dengan kondisi masing-masing pasien. Bila dinilai masih memungkinkan ditangani di rumah sakit tipe C, misalnya, peserta tidak dapat langsung berobat ke rumah sakit tipe A.
 
Padahal, Ririn mengatakan, selama satu tahun belakangan, pengobatan paru-paru Kanzia telah dilakukan di salah satu Rumah Sakit Tipe B di Kota Bandung, yakni RS Lanud Dr. M. Salamun. Namun, lewat sistem ini, Kanzia harus terlebih dahulu berobat ke RS tipe C (RS Santo Yusuf).
 
"Kontrol paru-paru dari puskesmas sekarang harus ke RS Santo Yusuf dulu, baru ke RS Salamun, selama ini kan sudah ditangani di RS Salamun selama 1 tahun, kalau ditangani di rumah sakit berbeda takutnya ada perbedaan (perawatan)," jelasnya.
 
Belum lagi, Ririn menilai jalur penggantian rujukan tersebut cukup menguras tenaga.
 
"Dengan kondisi anak saya yang enggak bisa terlalu capai, tolong lebih diperhatikan lagi, anak saya kena angin selalu sesak. Kasihan dia kalau sudah sesak bisa sampai biru (wajahnya)," tuturnya.
 
Hanya Dapat Berbaring
 
Sehari-harinya, tabung oksigen selalu disiapkan bila sewaktu-waktu Kanzia sesak napas. Dia hanya dapat berbaring ke kanan dan ke kiri, bahkan tidak dapat membedakan siang dan malam karena penglihatannya terbatas.
 
Hal tersebut, Rini mengatakan, memengaruhi siklus biologis tubuh Kanzia hingga pola makannya sangat tidak teratur.
 
"Sehari-hari dia tidur, bangun sebentar, tidur lagi, pola makan semauanya dia, kadang tidur, lalu bangun jam 1 malam, lapar lagi. Dia enggak bisa bedakan mana siang dan malam," ungkapnya.
 
Meski demikian, dirinya mengatakan akan senantiasa berjuang demi kesehatan sang buah hati meski dalam keadaan ekonomi yang terhimpit.
 
"Kasihan saya juga lihatnya, saya kan ibu, air mata sudah keluar. Tapi saya berusaha kuat dan berusaha yakin, Allah kasih penyakit pasti ada obatnya walaupun berat dan harus berjuang kesana kemari," pungkasnya dengan nada lirih.
 
Sehari-harinya, Ririn beserta suami dan Kanzia tinggal di sebuah rumah kontrakan di Jalan Pasirkaliki Reuma Nomor 44, RT 01/ RW 19, Gang Reuma Kidul 1 Kecamatan Coblong, Kelurahan Sadang Serang, Kota Bandung.
   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar