Yamaha Lexi

Miskin Subtansi, Media Diminta Stop Blow Up Gimik Kampanye Pilpres 2019

  Sabtu, 01 Desember 2018   Nur Khansa Ranawati
Dadang Rahmat Hidayat dan Bagir Manan (tengah) beserta penampil hiburan selepas acara diskusi Gerakan Media Bermartabat untuk Pemilu Berkualitas di Gedung Sate, Jumat (30/11/2018). (ayobandung.com/Nur Khansa)

BANDUNG WETAN, AYOBANDUNG.COM--Menjelang Pemilihan Umum Presiden April 2019 mendatang, masing-masing kubu kini tengah gencar-gencarnya melancarkan kampanye masing-masing. Namun, riuh kampanye yang tertangkap media belakangan ini dinilai miskin substansi. Pasalnya, porsi pemberitaan lebih banyak menyoroti gimik-gimik kampanye seperti munculnya istilah 'tampang boyolali' hingga 'politik genderuwo'. 

Hal tersebut disampaikan oleh pengamat politik sekaligus Dekan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjajaran, Dadang Rahmat Hidayat pada diskusi Gerakan Media Bermartabat untuk Pemilu Berkualitas di Gedung Sate, Jumat (30/11/2018).

"Sudahlah media itu jagan tonjolkan lagi perbedaan yang tak penting dan remeh-temeh, 'boyolali' atau 'genderuwo' itu enggak penting lagi, hal yang penting itu apa yang ditawarkan keduanya, disajikan dengan data yang tepat sehingga kita memilih karena tau kebenarannya," ungkapnya.

Sebelumnya, Dadang sempat bertanya pada para peserta yang hadir di Aula Barat Gedung Sate Malam itu--mayoritas mahasiswa--perihal pengetahuan mereka terhadap program-program para paslon Pilpres 2019.

"Dari kubu satu dan dua, sudahkah Anda dapat pesan yang clear?" tanya dia yang lantas dijawab "belum" oleh peserta secara serempak.

AYO BACA : Bandung Pisan: Kecamatan Batununggal Buat Buku Iqro Sendiri

Meskipun maraknya pemberitaan mengenai gimik tersebut tak terlepas dari realita kampanye di lapangan yang mengedepankan hal serupa, Dadang mengatakan media harus mampu menggali substansinya sehingga dapat mencerahkan publik.

"Secara politik itu tugas tim kampanye, tapi secara sosial itu tugas media juga. Beberapa media saya tanya, yang dimuat bukan substansi, tapi perbedaan-perbedaan tadi yang bahkan membuat saling tunjuk, akhirnya yang ditonton masyarakat itu perseteruannya," jelasnya.

Terlebih, dia menilai bahwa media konvensional masih menjadi rujukan utama masyarakat untuk mencari informasi seputar Pemilu 2019 meskipun penggunaan media sosial sudah masif.

"Walaupun secara teknis masing-masing paslon punya website dan visi-misi mereka ada di situ, media sosial juga sudah dominan dipakai masyarakat, tapi apa mereka mengecek visi misi tersebut lewat media sosial? Mereka masih berharap pada media konvensional," ungkapnya.

Dalam kesempatan tersebut, Plt Ketua PWI Jawa Barat, Hilman Hidayat juga menyampaikan harapannya agar media massa tetap independen dalam meliput Pilpres 2019.

"Saya berharap banyak media tetap lurus, tidak berpengaruh untuk berpihak ke mana, media punya tanggung jawa ke publik. Kebebasan itu bukan milik media, tapi milik publik," ungkapnya.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar