Yamaha Lexi

Pelaku Seni Bajidoran Minta Perhatian Pemerintah

  Kamis, 29 November 2018   Andres Fatubun
Salah satu pagelaran seni bajidoran di Kota Bandung. (Irfan Al-Faritsi/ayobandung)

BANDUNG, AYOBANDUNG.COM--Kesenian bajidoran merupakan kesenian tari atau ngibing yang diiringi musik gamelan dan kendang serta sinden atau ronggeng.

Menurut sejarahnya, kesenian tersebut lahir di wilayah Pantura, khususnya Karawang dan Subang pada era 60-an. Seiring berjalannya waktu, pada era 90-an, kesenian bajidoran ikut eksis di kota Bandung. 

Eksistensi kesenian bajidoran di kota Bandung hingga saat ini masih terasa. 

AYO BACA : Menelisik Sejarah Kesenian Bajidoran

Tak sedikit masyarakat yang menggelar kesenian bajidoran sebagai pengiring acara pesta syukuran atau acara yang berkaitan dengan ritual. Meski demikian, pemerintah dinilai belum sepenuhnya mendukung kesenian tersebut.

Seorang pegiat seni yang sudah malang melintang di dunia bajidoran selama enam tahun, Soni Surya Atmaja, menjelaskan peran pemerintah dalam melestarikan seni bajidoran ini sangatlah penting. Namun, hingga saat ini pemerintah kurang mengakui kesenian bajidoran yang ada di Kota Bandung. 

"Pengakuan dari pemerintah merupakan hal yang penting karena identitas suatu negara diukur dari budayanya bukan dari aparat pemerintah, tentara, polisi dan sebagainya," jelasnya. 

AYO BACA : 2.500 Penari Bakal Goyang Jaipong di Bandung International Art Festival

Ia berharap pemerintah dan pelaku seni bajidoran bergotong royong membangun dan melestarikan seni bajidoran khas Bandung dan turut disertakan dalam setiap acara yang berhubungan dengan budaya. 

“Harapan saya ke depan pemerintah saling bergotong royong, dan harapan selanjutnya ketika ada event Bajidor khas Bandung turut meramaikan acara jadi ada daya pacu, semangat juang lagi, dan kekompakan,” jelasnya.

Pendapat lainnya disampaikan Abah Enjoem selaku Komite Tradisi Dewan Kesenian Kota Bandung. Ia menilai upaya melestarikan kesenian bajidoran masih dalam proses pendataan dan pemetaan.

“Secara aturan maksudnya sudah ada legalitas dari pemerintah minimal sampai akta notaris nanti pemerintah memantau komunitasnya jelas, keseniannya jelas, dan wajib pemerintah memberikan dana. Komite Tradisi tugasnya meregulasi anggaran tersebut,” jelas Abah Enjoem saat ditemui Ayobandung.com.

Berbeda dengan pernyataan Abah Enjoem, Hendi Rohendi sebagai Pamong Budaya Muda Bidang Kesenian, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung, menjelaskan hal yang pemerintah lakukan dalam melestarikan dan memelihara kesenian tradisional dengan cara pembinaan dan pengembangan dengan diadakannya pentas seni di ruang publik dan berbagai festival. 

“Dengan diadakannya pembinaan tersebut sudah bisa dikatakan berhasil, meskipun belum 100%,” pungkasnya. (Loisari Hoerunnisa, Yudianto Nugroho)

AYO BACA : Gugum Gumbira Daftarkan 10 Tari Jaipong ke HaKI

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar