Yamaha

Menelisik Sejarah Kesenian Bajidoran

  Kamis, 29 November 2018   Andres Fatubun
Salah satu pagelaran seni bajidoran di Kota Bandung. (Irfan Al-Faritsi/ayobandung)

BANDUNG, AYOBANDUNG.COM--Jawa Barat merupakan provinsi yang kaya akan kesenian daerah. Mulai dari tarian, lukisan, hingga lagu-lagu tradisional yang dimainkan dengan sepenuh hati dan selalu memikat penikmatnya.

Salah satu kesenian yang turut memikat penikmat seni yakni kesenian bajidoran. Kata bajidoran mungkin terdengar asing bagi masyarakat awam, tetapi lain lagi dengan kalangan seniman ataupun para penikmat seni. Bajidoran merupakan tampilan hiburan masyarakat yang kerap digelar di acara pernihakan, penyambutan, ataupun hajat lembur.

Bajidoran menampilkan sajian musik khas Sunda yang ditabuh sedemikian rupa menyesuaikan dengan konsep dan lagu yang dibawakan. Ada pula sinden yang melantunkan tembang-tembang Sunda, serta tak lupa juga penari jaipong yang melenggok ke sana ke mari mengikuti iringan kendang. 

Maka tidak heran setiap pagelaran bajidoran tidak pernah sepi penonton.

“Enggak pernah sepi kalau manggung, rame terus. Apalagi pekan lalu di kawasan Nagrog, Ujung Berung ada pagelaran grup bajidor terkenal, sampai jalan utama pun penuh oleh penonton, mobil saja enggak bisa lewat, ribuan lebih mungkin lautan manusia di sana”, tutur Soni Surya Atmaja, pegiat seni bajidoran di Kota Bandung.

Namun, bajidoran yang kini banyak dikenal khususnya di Bandung, merupakan adopsi dari kesenian kliningan yang berasal dari Karawang dan Subang.

Sajian kesenian kliningan tidak jauh berbeda dengan bajidoran, sama-sama menggunakan kendang, gamelan, sinden, juga penari. 

Penari dalam kliningan terbagi menjadi dua kategori. Pertama, penari dari grup kesenian yang yang mengadakan pagelaran kliningan. Keduaadalah bajidor yaitu penari simpatisan yang merupakan masyarakat yang ikut menari dalam pagelaran kliningan.

Menurut dosen sekaligus Ketua Prodi Penciptaan dan Pengkajian Seni Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Lilli Suparli, sebelum muncul istilah bajidoran, kata bajidor sendiri sudah ada dalam pagelaran kliningan di Subang dan Karawang. 

Bajidor sendiri pada prinsipnya merupakan orang yang gemar menari dalam pagelaran kliningan. Namun, tidak semua orang yang gemar menari dalam kliningan disebut bajidor. Bajidor digunakan untuk menyebut sosok orang yang suka menari dalam jaipongan dari kalangan penonton. 

“Yang jelas adalah sebelum adanya bajidor, orang-orang yang senang menari dalam berkesenian itu dari dulu itu sudah ada, seperti orang ketuk tilu yaitu para jawara ahli silat. Ada juga yang namanya ketuk tilu itu dari kalangan masyarakat yaitu disebut pamogoran. Hal ini berkembang di Subang,” kata Lili saat diwawancarai Ayobandung.com.

Dosen mata kuliah karawitan tersebut menjelaskan, seni kliningan Subang dan Karawang dipercaya sudah ada sejak tahun 1960-an, termasuk bajidor.

Terdapat satu bajidor yang sekaligus menjadi pencetus kesenian Jaipongan, yakni Gugum Gumbira.

Andil Gugum Gumbira dalam Kemunculan Bajidoran

Gugum Gumbira adalah seorang bajidor yang menguasai ketuk tilu dan pencak silat. Selain itu, ia juga merupakan sorang kreator. Melihat berbagai konteks dalam setiap pagelaran kliningan dan pengalamannya selama menjadi bajidor, membuat ia menjadi pencipta seni tari jaipongan yang ada saat ini.

Berawal dari tahun 1976, Gugum berproses menyusun tarian jaipongan, hingga tahun 1980 ia mulai mempublikasikannya. Masyarakat pun mulai mengenal kesenian Jaipongan gaya Gugum Gumbira.

AYO BACA : Pelaku Seni Bajidoran Minta Perhatian Pemerintah

Setelah jaipongan kian dikenal masyarakat, Gugum, yang merupakan penciptanya, kerap datang ke kliningan dengan membawa rekaman musik jaipongan dalam sebuat kaset. Kemudian dia meminta setiap grup kliningan untuk menghafalkan musiknya dengan bayaran tertentu, dengan perjanjian Gugum akan datang kembali untuk menyaksikannya.

Akhirnya pagelaran kliningan yang biasa membawakan musik garapannya, mulai memunculkan iringan musik jaipongan dengan gaya Gugum Gumbira. Dalam proses pembentukan jaipongan pun Gugum bekerja sama dengan penabuh kendang dan sinden yang berasal dari Karawang.

“Artinya, setelah jaipongan gaya Gugum ini disebarkan, maka kesenian Kliningan di Subang dan Karawang ini tergantikan oleh jaipongan gaya Gugum. Nah, maka muncul di Karawang dan Bandung istilah jaipongan. Orang Karawang dan Subang hingga tahun 90-an itu tidak menyebut bajidoran, tetapi dengan sebutan jaipongan, dalam beberapa pagelaran bajidoran pun tetap menggunakan nama jaipongan,” tutur Lili.

Munculnya Istilah Bajidoran

Timbul pertanyaan, mengapa disebut bajidoran padahal namanya jaipongan atau kliningan?

Sampai saat ini, kesenian bajidoran di Subang dan Karawang masih menggunakan sebutan jaipongan dalam pagelarannya. Akan tetapi, unsur bajidor masuk. Dengan begitu, karena ada lagi bajidor dalam jaipongan dengan konsep kliningan tahun 1970-an, akhirnya mereka menyebutnya bajidoran. Masyarakat Bandung menyebut jaipongan itu hanya untuk sajian dari gaya Gugum Gumbira saja.

“Bahkan saya pernah sekitar tahun 1988-an saat masih kuliah saya ke Subang, kemudian bertanya di mana lokasi pemilik sanggar bajidoran, tapi orang yang ditanya tidak tahu apa itu bajidoran. Akan tetapi, saat dijelaskan yang ada penari jaipongannya, barulah dia ngeuh dan menunjukkan lokasinya. Nah, itu karena masyarakat di sana pun mengagapnya kesenian itu adalah jaipongan, bukan bajidoran,” jelas Lili.

Hingga kini masyarakat Karawang, Subang, atau tempat lainnya pun menggunakan sebutan jaipongan, sehingga dalam spanduk ataupun tulisan yang dipasang dalam pagelaran ini adalah jaipongan, meskipun secara penyajian merupakan keseniam bajidoran, seperti Gebyar Jaipong atau Gibrig Jaipong. Oleh karena itu, konteks bajidoran adalah gaya pertunjukannya, yaitu adanya para bajidor, meskipun kini bajidor itu dianggap tidak lagi seperti 20 tahun lalu. 

Etika dan Estetika Kesenian Bajidoran

Menurut Dewan Kesenian Kota Bandung khususnya Komisi Tradisi, Abah Enjoem, dalam penyelenggaraan bajidoran terdapat pakem-pakem yang harus diterapkan.

"Ketika si Bajidor (penari simpatisan) tampil di depan panggung dengan lagu yang dia pinta, maka Bajidor yang lain tidak boleh turut serta. Harus nunggu sampai selesai," papar Abah Enjoem kepada Ayobandung.com.

Hal tersebut yang nantinya diharap akan menciptakan ketertiban saat digelarnya pertunjukkan bajidoran.

Dari awal mula kemunculan kesenian ini, lanjutnya, sang bajidor biasanya melakukan tarian di depan panggung, bukan di atas panggung.

Meski begitu, Abah Enjoem berpendapat, kesenian bajidoran yang berkembang di Bandung dan kesenian jaipongan yang berkembang di Subang serta Karawang, memiliki perbedaan yang sangat kontras, terutama dalam penerapan pakem-pakem yang telah dipaparkan sebelumnya.

Jika Subang dan Karawang masih menerapkan pakem yang telah dibentuk sejak kesenian tersebut ada, hal itu tidak diberlakukan dalam pagelaran bajidoran di kota Bandung. Maka, tak jarang jika kesenian ini berujung keributan.

Kesenian bajidoran juga kaya akan estetika. Hal tersebut dibuktikan dengan banyaknya jurus bela diri yang ditampilkan bajidor saat pagelaran bajidoran. Tak hanya itu, Abah Enjoem berpendapat, bajidoran bukan hanya sekadar memiliki nilai hiburan, namun juga memupuk rasa hormat, silaturahmi, dan kekeluargaan antara bajidor satu dan bajidor lainnya. (Siti Rahayu, Pandu Muslim, Wulan Apriani)

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar