Yamaha Aerox

AIDS Masih Menggerogoti Anak Bangsa

  Rabu, 28 November 2018   Andres Fatubun
Ilustrasi AIDS/HIV. (informed)

Apa yang terbayang ketika mendengar AIDS? Tentunya kengerian pada penyakit tersebut dan kematian yang mendekat. Acquired Immuno Deficiency Syndrome alias (AIDS) merupakan penyakit yang menyerang sistem pertahanan tubuh yang disebakan oleh virus Human Immunodeficiency Virus (HIV).

Virus ini menyerang T cell dan merusaknya. T cell adalah salah satu bagian dari sel darah putih yang memiliki peran penting dalam sistem kekebalan tubuh untuk melawan kuman, bakteri, dan virus yang masuk. Ketika T cell diserang, tubuh sudah tidak mampu menahan bahkan mengenali kuman, bakteri bahkan virus yang masuk ke dalam tubuh.

AIDS sudah sejak lama menyerang generasi bangsa, perilaku dan gaya hiduplah yang merupakan faktor utama penyebaran virus HIV hingga mengakibatkan penderita AIDS meningkat dari tahun ke tahun, dan jumlah yang meninggal pun sudah tak terhitung jari.

Berdasarkan Data Kemenkes RI Tahun 2018, mulai dari tahun 2008 sudah terdapat 15.136 kasus AIDS di Indonesia. Hingga tahun 2017 mencapai 97.942 kasus secara kumulatif.

Lebih lanjut, terdapat 9.215 kasus baru pada tahun 2015, 10.146 kasus baru pada tahun  2016, dan sedikit menurun pada tahun 2017 yaitu terdapat 4.555 kasus baru.

Dari 10.164 kasus baru tahun 2016, 66,9 persennya adalah laki-laki dan 36 persen penderita berumur 30-39 tahun. Jumlah kasus terbanyak yaitu terdapat di Provinsi Papua yang mencapai 19.036 kasus hingga tahun 2017.

Untuk Provinsi Jawa Barat terdapat 5.316 kasus hingga tahun 2017. Sementara itu, merujuk data dari BPS Provinsi Jawa Barat yang bersumber dari Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat terdapat 18.106 orang dengan HIV/AIDS/pasien HIV hingga tahun 2016. Terdapat perbedaan antara keduanya karena pada dasarnya antara HIV dan AIDS pun keduanya berbeda.

Seperti yang dikatakan dokter Adyana Esti, tenaga medis Klinik Angsamerah, Jakarta kepada Kompas bahwa orang dengan HIV masih bisa hidup normal dan mengejar mimpi mereka, asal mendapat pengobatan yang cepat dan tepat. HIV tidak selalu berakhir dengan AIDS, namun orang dengan AIDS sudah pasti terserang virus HIV.

AYO BACA : Papa Reji, Ayah Super Bagi Anak-Anak Pengidap HIV/AIDS

Kasus meninggal karena AIDS sampai tahun 2011 sebanyak 5.056. Sementara itu, CFR (Case Fetality Rate) akibat AIDS dari tahun ke tahun cenderung menurun yaitu 4,12 persen pada tahun 2011 hingga mencapai 1,1 persen pada tahun 2016.

Virus HIV ini dapat menular lewat hubungan seksual, suntikan, tato, dari ibu yang hamil kemudian menular ke janin yang dikandungnya dan juga proses transfusi darah.

Pada tahun 2016 terdapat 0,6 persen penderita AIDS dengan umur kurang dari 1 tahun yang diindikasi tertular dari ibu penderita AIDS. Selain itu, terdapat penularan melalui Napza suntikan (IDU) sebanyak 109 kasus baru pada tahun 2017. Ketika satu orang di usia produktif terkena virus HIV maka dapat dengan mudah ditularkan kepada pasangannya.

Tahun 2016 penderita AIDS di Indonesia mengalami penularan melalui kegiatan seks dari pasangan hetoroseksual yaitu sebanyak 74 persen sedangkan untuk penularan melalui hubungan seks sesama jenis sebesar 15,8 persen.

Dengan jumlah kasus yang terus meningkat secara kumulatif diindikasikan masih kurangnya pengetahuan akan bahaya virus HIV apalagi di daerah yang kurangnya layanan konseling, serta mengendapnya ketakutan dalam diri dan rasa malu yang menyebabkan keputusasaan sehingga proses pengobatan tidak dijalani secara optimal dan lebih jauh lagi tidak semua orang yang terkena virus HIV menyadari bahwa dirinya terinfeksi.

Badan Pusat Statistik mencatat berdasarkan Survei Demografi Kesehatan Indonesia Tahun 2017 tingkat pengetahuan remaja wanita (15-24 tahun) terhadap HIV-AIDS sebesar 92 persen sedangkan pada remaja pria hanya 86 persen.

Tingkat pengetahuan akan HIV-AIDS lebih tinggi di daerah perkotaan dibandingkan perdesaan, yaitu 94,7 persen untuk remaja wanita perkotaan dan 91 persen untuk remaja pria di perkotaan, sementara di pedesaan sebesar 87,6 persen untuk remaja wanita dan 80,2 persen untuk remaja pria.

Pemikiran bahwa semua penyakit dapat diobati adalah salah besar untuk penyakit yang satu ini. Sampai saat ini belum ada obat khusus yang dapat menyembuhkan penderita AIDS, tetapi ada cara yang dapat ditempuh untuk memperpanjang harapan hidup yaitu terapi Anti Retroviral (ARV). Terapi ini dapat menekan perkembangan virus HIV, menjaga kekebalan tubuh, dan mencegah penularan terhadap orang lain. Jadi dalam hal ini, upaya pencegahan adalah hal utama yang harus digencarkan.

AYO BACA : Ini Upaya Pemkab Bandung Cegah HIV/AIDS

Tingkat pengetahuan tentang pencegahan pun perlu terus ditingkatkan.

Berdasarkan SDKI 2017,51 persen remaja wanita dan 58 persen remaja pria mengatakan bahwa HIV-AIDS dapat dicegah dengan menggunakan kondom setiap kali melakukan hubungan seksual. Cara pencegahan HIV-AIDS yang lain adalah dengan membatasi hubungan seksual dengan satu pasangan dan metode ini diketahui oleh 74 persen remaja wanita dan 64 persen remaja pria.

Implementasi dari pengetahuan mengenai pencegahan adalah sikap terhadap hubungan seksual pranikah khusunya untuk remaja. Persentase remaja pria umur 20-24 tahun yang setuju bila pria melakukan hubungan seksual pranikah (10,9%) lebih tinggi dibanding dengan remaja wanita (6,5%). Sementara itu, remaja wanita (20-24 tahun) yang setuju hubungan seksual pranikah untuk wanita dan pria masing-masing sebesar 1,6 persen.

Pada Mei 1994 dibentuk Komisi Penanggulangan AIDS Nasional melalui Keputusan Presiden 36/1994. Komisi ini telah merancang Strategi dan Rencana Aksi Nasional Penanggulangan HIV dan AIDS (SRAN) tahun 2015-2019.

Program ini memiliki tujuan umum untuk percepatan pencapaian “3 Zero” (Zero infeksi baru, Zero kematian terkait AIDS dan Zero stigma dan diskriminasi) dengan cara mencegah penularan HIV; meningkatkan dengan segera akses pengobatan HIV, meningkatkan retensi pengobatan, meningkatkan hidup ODHA; mitigasi dampak sosial ekonomi epidemi HIV pada individu, keluarga dan masyarakat untuk menjaga produktivitas dan sumber daya manusia Indonesia. Namun, sayangnya, KPA Nasional tahun lalu sudah dibubarkan oleh pemerintah karena kinerja KPAN berbasis proyek.

Kasus AIDS yang semakin melonjak dan sudah tidak adanya komisi khusus yang melakukan tindakan penanggulangan terhadap AIDS perlu menjadi pemikiran bersama. Pemerintah harus membuat terobosan kembali untuk tindakan pencegahan dan tentunya berbagai sosialisasi tentang bahaya virus HIV yang dapat merusak generasi bangsa. Selain itu, mendengungkan kepada semua pihak agar bertindakan nondiskriminatif terhadap ODHA karena mereka masih memiliki hak yang sama dalam mengakses semua layanan publik dan memiliki hak suara untuk didengar.

Tindakan preventif secara personal pun harus dilakukan, dengan cara bagaimana mencegah mulai dari diri sendiri dan orang sekitar, mengubah perilaku seks bebas serta antisipasi terhadap penularan yang mungkin terjadi di sarana kesehatan dan melakukan cek medis bagi wanita hamil.

Bukan hanya di Indonesia, HIV-AIDS sudah menjadi masalah kesehatan secara global sehingga harus diperhatikan lebih seksama. Jika tercapainya penurunan prevalensi penderita AIDS di Indonesia artinya Indonesia telah menyumbang hal positif terhadap capaian kesehatan dunia sehingga SDGs tujuan ketiga yaitu mencapai kesehatan dan kesejahteraan bagi semua orang dapat terwujud.

Fitri Dwiyanti S.ST
PNS Badan Pusat Statistik Kota Banjar

AYO BACA : Masyarakat Didorong Periksa HIV/AIDS Sejak Dini

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar