Yamaha Lexi

Pemuda Harapan Bangsa

  Minggu, 25 November 2018   Adi Ginanjar Maulana
Ilustrasi

Tan Malaka menyatakan tujuan pendidikan itu untuk mempertajam kecerdasan, memperkukuh kemauan serta memperhalus perasaan.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata pendidikan berarti proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan.

Sedangkan secara umum pendidikan terbagi menjadi tiga bagian. Pertama, pendidikan formal, yaitu pendidikan yang terselenggara atau dilakukan dalam lingkungan sekolah-sekolah pada umumnya. 

Kedua, pendidikan nonformal, yaitu pendidikan yang dilakukan di luar pendidikan formal, seperti lembaga kursus, kelompok belajar dan majelis taklim. 

Ketiga, pendidikan infomal, yaitu pendidikan yang terjadi di lingkup keluarga dan lingkungan yang dilakukan secara sadar dan bertanggung jawab, seperti proses belajarnya seorang balita untuk berbicara, kegiatan ini dilakukan secara informal dalam lingkup keluarga.

Di era milenial ini bagaimanakah kondisi pendidikan yang ada di Indonesia? Dilansir dari Edupost.id tanggal 28 April 2016 menyatakan pendidikan Indonesia menempati urutan ke 57 dari total 65 negara dalam peringkat pendidikan dunia versi OECD (Organisation foe Economic Co-operation and Development). 

Angka yang sangat jauh bagi Indonesia di mata dunia. Itu artinya, Indonesia menempati urutan ke 8 terendah dari 65 negara.  Urutan tersebut harus menjadi evaluasi penting bagi Indonesia untuk memajukan kualitas pendidikan yang ada.

Pembentukan pendidikan berkarakter individu kurang efektif di Indonesia. Ada empat faktor penyebab pendidikan di Indonesia masih terbilang rendah. Pertama, sistem pendidikan, merupakan faktor penting dalam berjalannya pendidikan di sebuah negara, termasuk Indonesia. 

Di Finlandia misalnya, guru-guru Finlandia punya sistem lain untuk menilai siswa, bukan dari ujian dan pekerjaan rumah. Semua anak pintar atau tidak, belajar di kelas yang sama. Anak-anak tak diperkenankan masuk sekolah dasar kalau umur mereka belum genap 7 tahun. 

Di Finlandia, pemerintahan lebih mendukung pendidikan yang diminati oleh siswanya. Sedangkan di Indonesia, kurikulum menekankan agar semua siswa mempelajari semua mata pelajaran, sehingga siswa tidak terfokus dalam apa yang diminati.

Sehingga sistem pendidikan di sebuah negara berpengaruh besar dalam keberlangsungannya siswa dalam belajar. Sedikitnya, pemerintahan Indonesia harus mencontoh sistem-sistem pendidikan di berbagai negara maju seperti Finlandia.

Kedua, rendahnya kualitas pendidik, di Indonesia tak semua guru lulusan S1 sedangkan di Finlandia semua guru harus bergelar master dan sepenuhnya disubsidi pemerintah.

Sehingga bila pendidiknya adalah orang yang berkualitas maka peserta didik atau siswa akan mendapat pengajaran yang lebih maksimal dengan pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki pendidik.

Ketiga, rendahnya minat peserta didik dan orang tua terhadap pentingnya pendidikan. peserta didik yang acun terhadap pentingnya pendidikan tidak akan melanjutkan pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi atau bahkan tidak ingin merasakan bangku sekolah. 

Dikutip dari Repubika.co.id menyatakan jumlah buta aksara di Indonesia mencapai 3,4 juta penduduk atau 2,07 persen dari jumlah penduduk. Angka yang sangat tinggi walaupun angka tersebut adalah penurunan drastis dari pesentase sebelumnya. 

Adanya masyarakat buta aksara adalah salah satu bentuk acuh terhadap pendidikan. Sehingga kesadaran peserta didik dan orangtua sebagai pendukung sangatlah penting agar terlaksananya pendidikan di Indonesia. Kesadaran sedikit banyaknya orangtua terhadap pendidikan anak perempuannya terbilang rendah. 

Tradisi di perkampungan menganggap anak perempuan tidak perlu sekolah tinggi-tinggi. Hal tersebut yang harus diluruskan, setiap individu baik laki-laki maupun perempuan berhak mendapat pendidikan setinggi-tingginya.

Dalam pembahasan kesetaraan gander, disebutkan bahwa perempuan pun berhak mendapatkan apa yang laki-laki dapatkan termasuk berpendidikan tinggi.

Keempat, sarana prasarana yang ada. Seperti telah disinggung sebelumnya bahwa salah satu akibat adanya masyarakat yang buta aksara adalah kurangnya fasilitasi yang disediakan pemerintahan. Di bagian timur negara kita, Papua memiliki angka buta aksara mencapai 28,75 persen dari keseluruhan jumlah penduduk di Papua. 

Di pelosok-pelosok negeri masih banyak sekolah-sekolah yang belum memadai dalam hal fasilitas pendidikan. Minimnya buku-buku yang tersedia, atap sekolah bocor dan sebagainya adalah PR bagi pemerintahan untuk menyelesaikan itu semua. Agar proses pembelajaran sekolah-sekolah di Indonesia berjalan dengan tertib dan efisien.

Faktor-faktor di atas adalah evaluasi penting bagi kita selaku anak bangsa dan pemerintahan selaku yang menjalankan sistem negara Indonesia. Bagaimana dalam evaluasi ini memberi dampak positif bagi pendidikan Indonesia.

Dengan demikian, dengan meminimalisir keempat faktor penyebab rendahnya mutu pendidikan Indonesia di atas merupakan langkah awal agar pendidikan Indonesia menjadi salah satu negara dengan pendidikan terbaik di dunia. 

Mengambil pelajaran dari negara-negara maju, kemudian menerapkannya sebagai hasil dari pengolahan untuk Indonesia. Bagi para pendidik lulusan S1 merupakan syarat minimal untuk bisa mendidik siswa di sekolah. 

Setidaknya dalam dunia mendidik,  pendidik tersebut tau apa yang semestinya dilakukan, juga kaitanya dengan psikologi pendidikan yang penting dikuasai oleh seorang pendidik. Untuk membangkitkan minat peserta didik dan orang tua terhadap pendidikan perlu adanya motivasi dan perubahan mental atau mindset yang diberikan kepada bangsa Indonesia sehingga berangapan bahwa pendidikan sangatlah penting dalam kehidupan.

Hakikatnya, negara maju bukanlah mereka yang megah dalam pembangunan negaranya namun mereka yang maju dalam dunia pendidikannya. 

Riki Baehaki

Mahasiswa Jurnalistik UIN Bandung

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar