Yamaha

Mengapa AS Cemaskan Ekspansi Utang Tiongkok?

  Kamis, 22 November 2018   Netizen
ayobandung.com

Amerika Serikat berulang kali memperingatkan negara-negara berkembang supaya mewaspadai tawaran pinjaman luar negeri Tiongkok. Dikatakan, pinjaman tersebut akan menjerat negara penerima utang dan tunduk kepada kemauan Beijing.

Sri Lanka yang berutang lebih dari US$1 miliar akhirnya harus menyerahkan pelabuhan Hambantonta kepada perusahaan swasta yang sahamnya dimiliki pemerintah Tiongkok. Djibouti kemungkinan akan menyerahkan satu pelabuhannya kepada Tiongkok. AS berkeberatan dengan langkah tersebut karena menyaingi basis militernya yang sudah lama berada di negara Afrika tersebut.

Disebutkan pula, Kyrgyzstan, Laos, Maldive, Djjibouti Mongolia, Montenegro, Pakistan, dan Tajikistan yang menerima Inisiatif Sabuk dan Jalan yang diprakarsai Tiongkok akan terjebak dalam kubangan utang. Jumlah utang diperkirakan antara 25%-75% dari Produk Domestik Bruto. Nepal dan Pakistan yang khawatir terjebak, menolak pinjaman Tiongkok bagi pembangunan infrastruktur.

Isu Lama Botol Baru

Sikap kritis atas pinjaman luar negeri marak sekitar 40 tahun lalu. Kalangan Lembaga Swadaya Masyarakat dan ekonom yang dijuluki berpaham kiri baru mempersoalkan pinjaman luar negeri yang diberikan AS dan negara-negara Barat. Pinjaman dinilai tidak memakmurkan negara penerima karena syarat-syaratnya tidak menguntungkan.

Bayangkan, andaikan mereka memberi pinjaman untuk proyek jalan kereta api maka sekitar 80% akan kembali ke negara pemberi pinjaman atau kreditur. Pelunasan utang berjangka panjang, bunganya rendah tapi syaratnya banyak.

Konsultan, perusahaan pembangun proyek, peralatan berat, sampai ubin stasiun dari negara kreditur. Jadi pemberian pinjaman menggerakkan perekonomian nasionalnya.  

Yang menarik, debitur terus-menerus berutang karena tidak mampu mengelola kekayaan negara. Banyak penyebab, di antaranya adalah debitur diharuskan memberi kemudahan seperti keringanan pajak dan sebagainya kepada perusahaan asing yang menanam modal. Umumnya perusahaan itu berasal dari negara kreditur.

Utang juga mengakibatkan ketergantungan debitur untuk mengikuti maunya AS seperti menerapkan sistem politik yang demokratis, menghormati hak-hak asasi manusia, turut serta dalam pasar bebas, dan rezim devisa bebas.

Pesaing Baru

Cadangan devisa Tiongkok pada Desember 2017 tercatat US$3,23 triliun, pada pertengahan tahun 2018 turun menjadi Rp3,112 triliun karena dolar AS menguat serta pengaruh perang dagang dengan Washington. Jumlah pasti tidak diketahui sebab merupakan rahasia negara, tetapi masih merupakan pemilik cadangan devisa terbesar di dunia. Devisa itu disimpan dalam bentuk emas, Valas, sebagai cadangan di IMF, yuan dan lainnya.

Lebih dari 4.500 proyek di hampir 150 negara yang didanai pinjaman Tiongkok. Jumlah pendanaan melampaui US$360 miliar, sedikit di bawah AS. Tiga BUMN Indonesia dikabarkan menerima pinjaman 6.500 triliun yuan.

Dalam pemberian pinjaman, Tiongkok tidak memberlakukan syarat-syarat sebagaimana yang diberlakukan kreditur Barat karena yang penting mendapatkan pijakan, meningkatkan volume perdagangan dan memperoleh bahan tambang berbasis mineral.

Ekspansi Tiongkok selain menyusutkan pengaruh Amerika Serikat cs juga meluruhkan peran US$. Sebanyak 14 bank sentral di Afrika sudah menggunakan yuan, mengikuti banyak negara lain yang sudah menerapkan hal serupa secara terbuka maupun diam-diam. Alasannya, relatif lebih stabil.

Farid Khalidi

Netizen :

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar