Yamaha Mio S

2030 Target Penanggulangan ODHA Tanpa Diskriminasi dan Penularan

  Minggu, 18 November 2018   Ananda Muhammad Firdaus
Peserta dalam kegiatan diksusi tentang ODHA di RM Margajaya, Bekasi Selatan, Kota Bekasi, Sabtu (17/11/2018). (ayobandung.com/Ananada MF)

BEKASI, AYOBANDUNG.COM--Yayasan Rumah Sebaya bekerja sama dengan Jaringan Indonesia Positif (JIP) menyelenggarakan diskusi terkait penanggulangan orang dengan HIV/Aids atau ODHA di Indonesia masih jauh dari kata layak.

Fokal Point JIP Kota Bekasi, Festika Rosani, mengatakan bahwa secara global, hampir tiap negara ingin mengakhiri epidemi pengidap Aids pada tahun 2030. Adapun target yang inggin dicapai adalah tidak ada lagi penularan HIV, tidak ada lagi kematian akibat Aids, dan tidak ada lagi stigma yang menjurus diskriminasi pada ODHA. 

"Nol diskriminasi dalam penanggulangan HIV masih menjadi tantangan kita hingga saat ini," ujar Festika dalam diskusi di RM Margajaya, Bekasi Selatan, Kota Bekasi, Sabtu (17/11/2018). 

Dijelaskannya, nol diskriminasi bukan hanya meliputi ODHA. Lebih jauh, individu atau kelompok tertentu yang selalu dikaitkan sebagai penyebab ODHA. Contohnya kelompok dengan orientasi seks bebas, mesti dipandang tanpa stigma negatif sehingga penanggulangan Indonesia bebas dari ODHA dapat seiring dengan program-program yang telah dicanangkan pemerintah atau penggiat. 

Dia bahkan mendata di Indonesia, setidaknya Jawa Barat menempati urutan keempat ODHA. Diurutan ketiga yakni Jawa Timur, kedua oleh Papua, dan kesatu ditempati oleh DKI Jakarta. Masing-masing provinsi tersebut mencatat pengidap HIV/Aids di atas 3.000 kasus. Yang miris, tidak ada keselarasan antara penanggulangan dengan kepedulian orang-orang di sekitar pengidap. 

"Persoalan diskriminasi yang terjadi justru kemudian melemahkan berbagai upaya penanggulangan HIV yang sudah dilakukan. Diskriminasi tidak akan hilang tanpa peran dan tindakan dari semua orang untuk mengakhirinya," katanya. 

Implikasi dari adanya diskriminasi tersebut, antara lain terjadi saat pengidap virus mengankses layanan kesehatan. Pelayanan kesehatan cenderung kurang karena stigma negatif didahulukan. Padahal untuk penularan tidak semudah seperti yang dibayangkan. 

AYO BACA : Emil Sampaikan Program Keislaman Jabar di Hadapan Wapres JK

"Situasi diskriminasi sering terjadi karena didasarkan pada informasi yang salah atau takut karena ketidaktahuan. Untuk mengakhirinya, tiap orang memiliki peran penting untuk menciptakan lingkungan aman, sehingga mereka dapat mengakses layanan kesehatan dan merasa dihormati," katanya. 

Direktur Yayasan Rumah Sebaya, Darmawan, mengatakan dalam penanggulangan HIV/Aids upaya pencegahan lebih bagus ketimbang mengobati lantaran fakta lapangan memperlihatkan sikap diskriminasi belum bisa dikendalikan. 

Pihaknya dari dua tahun kebelakang konsen melakukan sosialisasi terkait penanggulangan HIV/Aids di lingkungan masyarakat. Fungsinya agar masyarakat tersadarkan bahwa target terbebas dari ODHA merupakan peran bersama. 

Dia menilai terdapat korelasi antara peningkatan angka pengidap HIV/Aids dengan pemahaman masyarakat yang masih kurang. Menurutnya, semakin tinggi kepedulian masyarakat, maka forum-forum sosialisasi semacam ini akan terlihat dari antusiasme yang hadir. 

"Misalnya sewaktu kami mengadakan lomba cerdas cermat dengan materi HIV/Aids dan narkoba dengan mengundang peserta sekolah menengah atas. Dari 290 sekolah yang diundang, hanya 32 sekolah berpartisipasi. Artinya kegiatan menyinggung HIV/Aids kurang mendapat tempat," katanya. 

Selain itu, tambahnya, pemerintah harus lebih serius dalam menanggulangi ODHA maupun melangsungkan program-program pencegahan HIV/Aids. Pasalnya hingga sekarang, pengidap HIV/Aids kian bertambah. Dalam satu hari misalnya, rata-rata 5 orang baru mengetahui telah terjangkit ketika keluar dari rumah sakit. 

"Melihat fenomena yang tertular itu dari resiko rendah, misalnya ibu rumah tangga yang melahirkan bayi masih ada. Artinya ada program yang tidak maksimal dijalankan," pungkasnya.

AYO BACA : Pahlawan Kreatif Lapangan: Apresiasi Dinas Koperasi UMKM Bandung untuk PKL

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar