Yamaha Mio S

Dhani Sayang Putri, Tapi Allah Lebih Sayang

  Jumat, 16 November 2018   
Dhani Dwi Raharjo bersama istrinya Putri Yuniarsi yang menjadi salah satu korban jatuhnya Lion Air JT610 di Perairan Tanjung Karawang, Senin (29/10).

Dhani Dwi Raharjo adalah teman saya sekantor di KPP Penanaman Modal Asing Enam, Pancoran Jakarta. 

Senin (29/10/2018) menjelang subuh, seperti biasanya ia mengantar istrinya Putri Yuniarsi ke pangkalan bus Damri. Istrinya kemudian melanjutkan perjalanannya menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta menggunakan bus. Putri mengejar jadwal penerbangan Lion Air pukul 06.10 WIB menuju Pangkalpinang. Dia adalah pegawai BPKP-Bangka Belitung. 

Tanpa firasat apa-apa, setelah mencium hangat istrinya, Dhani lantas pulang ke rumah kontrakannya di daerah Rawamangun. 

Di kamarnya, sekira pukul 06.30 WIB, tiba-tiba tercium oleh Dhani bau parfum yang biasa dipakai Putri. Menyengat. Tapi tetap tak ada firasat apa-apa. Tak berapa lama, pria kelahiran Bojonegoro 32 tahun silam itu berangkat ke kantor di kawasan Kalibata.

Jam 7 lewat sekian puluh menit, Dhani menghubungi Putri lewat WA. Jam segitu biasanya Putri sudah memberi kabar, bahwa dirinya sudah landing dengan selamat. Namun pagi itu tidak ada kabar.

Maka Dhani bertanya, bagaimana di sana? Pesan satu cheklist, terkirim tapi belum diterima. Dhani masih berpikir positif, mungkin belum sempat mengaktifkan jaringan internet pada gawainya. Ia tetap menunggu. 

Beberapa saat kemudian ada pesan WA masuk. Tapi bukan dari istrinya. Dari teman satu kost istrinya. Temannya itu mengabarkan pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan JT-610 hilang kontak. Itu adalah pesawat yang dinaiki Putri! Dhani cemas.

Ia lalu mencari informasi lewat televisi. Kabar itu sedang menjadi breaking news. Dhani makin cemas. Bersama kepala seksinya, Soniman, Dhani bergegas ke bandara mencari informasi lebih detil.

Kabar makin buruk. Dalam berita sela di televisi, ditemukan puing-puing pesawat di perairan Tanjung Karawang. Ditambah kesaksian nelayan, ada pesawat jatuh di daerah itu. Dipastikan yang jatuh adalah Lion Air dengan nomor penerbangan JT-610. 

Putri ada di pesawat itu, Dhani shock!

Tapi ia masih berharap ada keajaiban, ada mukjizat, istrinya selamat. Apa yang tidak mungkin bagi Allah?, begitu ia berpikir. 

Seharian itu Dhani menunggu kabar baik. Ia belum percaya bahwa sang belahan jiwanya telah pergi. Ia belum mau menerima ucapan belasungkawa dari teman-temannya. Pun besok siangnya, Dhani bergeming. 

Sore harinya, Dhani mulai realistis. Ia menerima kenyataan, ia ikhlas, bahwa gadis cantik yang dinikahi empat tahun lalu itu mungkin telah "diambil" oleh Yang Berhak Mengambil. Ia pasrah. Meskipun berat, Dhani tampak berusaha tegar.

Kerabatnya berkumpul. Teman-temannya secara bergantian datang menengok memberikan semangat, menghibur hatinya, dan menguatkan jiwanya. 

Hari ini, saat jam istirahat kantor, bersama teman-teman kantor giliran saya menengok. Dhani sedang di masjid rumah sakit untuk salat Dzhuhur. 

Bersama Pak Soniman, yang selalu mendampinginya Dhani menyambut kami. Wajahnya tampak kelelahan. Matanya sembab. Tapi tetap dengan senyum ramah. Lalu kami diajak ke posko tempat berkumpul kerabat korban. Di sana ia bercerita hari-hari terakhir bersama istrinya. 

Seminggu sebelumnya, Putri menyampaikan keinginannya untuk pergi umrah. Dhani setuju. Malahan berniat mengajak orangtua dan mertuanya. Lalu mereka bersepakat untuk mulai menabung. 

Minggu depan, rencananya mereka menengok orangtua Dhani di Bojonegoro. Tiket pun sudah dibeli. 

Putri adalah adik kelas Dhani 2 tahun di STAN. Setelah empat tahun menikah mereka belum juga dikarunia momongan. Maka mereka sedang menjalankan program agar segera punya anak. 

Putri baru tiga bulan dimutasi ke BPKP Bangka Belitung setelah lulus S1 di UNS. Sebelumnya ia ditempatkan di BPKP Pusat di Jakarta. Maka selama tiga bulan itulah, rutinitas Senin pagi naik pesawat Jakarta - Pangkalpinang dan Jumat sore arah sebaliknya.

Hari Sabtu-Minggu sebelum kejadian tragis tersebut adalah momen terindah sekaligus terakhir bagi pasangan muda itu.

Hari Minggu sebelum-sebelumnya, Dhani biasanya ikut les bahasa Inggris. Tapi tidak pada hari Minggu itu, karena pengajarnya berhalangan. Maka dua hari penuh ia habiskan bersama istrinya. 

Hari Minggu, Putri mengajak berbelanja di mal. Dhani menurut. Putri membelikan pakaian buat keponakannya, baik dari Dhani maupun keponakan sendiri.

Lalu, mereka berkunjung ke orangtua Putri di Bekasi. Malamnya, Putri memaksa pulang ke kontrakan padahal sedang hujan besar. Dhani menurut. Mereka berdua naik motor berboncengan di tengah hujan besar. 

Di rumah mereka bercengkerama. Sesekali Dhani memainkan gawai tapi ditegur oleh Putri. Dhani menurut. Sepertinya Putri sedang sangat ingin diperhatikan, tak boleh ada apa pun yang menghalangi. 

Jam sebelasan baru mereka tidur. Jam tiga dini hari Senin, alarm weker berbunyi. Mereka bersiap. Dhani memeluk Putri, lalu mengantar ke pangkalan bus Damri. 

Di perjalanan, Putri baru sadar jika parfumnya ketinggalan. Putri memang pelupa. Biasanya Dhani kesal. Kali itu Dhani memaklumi. Lalu putar balik ke kontrakan mengambil parfum yang tertinggal. Lalu berangkat lagi.

Parfum itulah, yang baunya tercium oleh Dhani di kamarnya, pas detik-detik pesawat itu jatuh. Mungkin juga, detik-detik itu Putri sedang menghadap Rabb-nya. 

Dhani menceritakan itu semua dengan terbata-bata. Sesekali suaranya lindap. Tercekat. Saya mendengarkan. Tenggorokanku terasa kering. Tapi kelopak mataku terasa basah. Juga saat menulis ini. 

Dhani juga memperlihatkan percakapan-percakapan mesra di WA dengan Putri. Terakhir saat Putri sedang boarding. Dhani mengucapkan, "Aku sayang kamu". Lalu dijawab Putri, "Sayang kamu juga".

Sabar ya Dhan. Kamu memang sayang Putri, tapi Allah lebih sayang. Dia, Sang Pemilik Hati, sedang memeluk Putri dengan kasih sayangNya.

Ahmad Dahlan
Pegawai Ditjen Pajak

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar