Yamaha NMax

Peran Boeing dalam Jatuhnya Lion JT-610

  Kamis, 15 November 2018   Rizma Riyandi
Pesawat Lion Air

AYO BACA : Maukah Boeing Bersikap Jujur?

Belum usai penyelidikan penyebab jatuhnya Lion Air JT-610, muncul informasi bahwa Boeing Commercial Airplanes tidak memberitahukan kepada para operator tentang kerawanan sistem kendali. Fungsi sistem ini, bila pilot in command terlalu tinggi mengangkat hidung pesawat, maka sistem secara otomatis akan menurunkan hidung pesawat. Risikonya penurunan itu terlalu tajam hingga pesawat menukik.

Berbagai data tentang JT-610 Boeing 737-Max 8 menunjukkan, pesawat tinggal landas dengan sudut terlalu besar, kemudian selama 13 menit turun naik dengan kecepatan tinggi. Ketika ketinggian hampir mencapai 5.000 kaki dari permukaan laut, pesawat menukik dan menghantam perairan Tanjung Karawang, dengan kecepatan sekitar 600 km per jam. Struktur pesawat hancur berkeping-keping saat menerabas air laut.

Kecelakaan tersebut terjadi pada 29 Oktober 2018, Boeing Airplanes baru memberitahukan kerawanan  sistem kendali kepada para operator seminggu kemudian. Kalangan penerbangan berandai-andai bila diberitahu sebelumnya, nahas itu tak akan terjadi.

Pada artikel terdahulu di Ayobandung.com tentang Boeing, dikemukakan sejumlah airlines enggan membeli pesawat baru sekalipun mempunyai berbagai keunggulan. Mereka ragu karena pesawat model atau seri terbaru kerap mempunyai masalah yang baru diketahui ketika dioperasionalkan. Kalangan penerbangan menyebutnya baby sick.

Pesawat Boeing 787 Dreamliner yang dibangga-banggakan ternyata mempunyai masalah pada baterainya. Hal ini menyebabkan All Nippon Airways (ANA) mengkandangkan seluruh 787, padahal penyerahan perdana sudah terlambat dua tahun.

Pemberitahuan yang terlambat itu membuat para operator was-was dan mengkaji ulang. Dilakukan peningkatan intensitas pelatihan kepada pilot dan teknisi, karena Boeing 737 Max-8 memiliki karakteristik yang berbeda dari seri 737 sebelumnya. Lebih hemat bahan bakar dan lebih canggih tetapi mengandung risiko yang berasal dari instrumen maupun ketidakmengertian pilot terhadap perilaku instrumen tersebut.

JT-610 merupakan pesawat pertama seri Max. Sejumlah 189 penumpang dan awak pesawat meninggal dunia. Para penyelam menemukan hanya beberapa bagian pesawat yang masih berbentuk, ini menunjukkan betapa kerasnya benturan.

Baik Lion Air maupun Boeing seharusnya menanggung beban moral yang teramat berat. Musibah itu meluluhlantakkan ikatan keluarga dan perkawanan. Seorang yang mengandung harus menghadapi kenyataan anaknya tak akan melihat ayahnya selama-lamanya.

Kementerian Keuangan RI misalnya,  kehilangan 21 pegawai. Mereka adalah orang-orang terpilih yang lulus setelah melalui seleksi CPNS yang ketat. Mereka juga merupakan lulusan universitas dan sekolah tinggi terbaik. Keluarga rugi, pemerintah pun demikian.      

Boeing Commercial Airplanes akan berusaha menghindar dari tudingan menjadi penyebab utama untuk menghindari tuntutan hukum dan bisnis, serta memudarnya imej. Sebagai tahap pertama, Boeing menyodorkan tambahan materi baru untuk pelatihan penerbang hingga lebih memahami perilaku pesawat dan sekalian sistemnya.

Sikap Boeing itu sejalan dengan pernyataan Menhub Budi Karya Sumadi yang menyatakan, peningkatan pelatihan bagi para pilot Boeing 737-Max 8. Juga seiring dengan pertanyaan, berapa jumlah jam terbang kedua pilot yang nahas itu khusus pada Max-8?

Pabrik pesawat bila terjadi kecelakaan lazimnya akan menyalahkan cuaca dan manusia. Dalam kasus JT-610, cuaca cerah hingga jelas-jelas tidak dapat ditetapkan sebagai penyebab. Peluang ada pada unsur manusia yang mengawakinya, tetapi ini pun tidak bisa dituduh karena pilot merupakan bagian dari perusahaan penerbangan. Boeing juga memberitahukan informasi baru setelah kejadian.

Kesimpulan biasanya berujung kepada tidak ada penyebab tunggal dalam suatu kecelakaan pesawat. Para pihak terkait harus melakukan introspeksi agar peristiwa ini tak terulang lagi.

Memproduksi dan mengoperasikan bisnis jasa, sudah seharusnya tidak melulu meraih laba secara maksimal. Lantaran di sana ada aspek-aspek moral dan pertanggungjawaban.
 
Farid Khalidi

AYO BACA : Ada Apa Dengan Lion JT-610?

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar