Yamaha NMax

Cinta Tak Sampai Versi Ashadi Siregar

  Senin, 12 November 2018   Adi Ginanjar Maulana
Sampul Buku Gadisku di Masa Lalu (Gramedia)

Ashadi Siregar berhasil menyajikan romantisme kisah cinta yang tidak tergolong kekanak-kanakan. Unsur budaya sangat kental dengan adat batak terlihat dari beberapa  pengunaan bahasa daerah. Cerita yang disajikan sangat berbeda dengan buku-buku yang beredar saat ini. Saat ini kebanyakan novel diterbitkan hanya karena banyak dibaca pada aplikasi tertentu.

Ashadi Siregar  lahir pada tanggal 3 Juli 1945 di Pematang Siatar, Sumatra Utara. Kemudian ia melanjutkan pendidikannya di Fakultas Sosial Politik Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Pada tahun 1970 ia berhasil mendapatkan gelar sarjananya. Karyanya kental dengan unsur klasik era 70an.  Beberapa novel yang telah ia tulis Marini ,Cintaku di Kampus Biru, dan Kugapai cintamu.

Buku ini menceritakan kisah cinta sepasang manusia yang bertemu dalam ketidaksengajaan. Budi anak seorang pegawai pemerintahan dikotanya dan Sylvani  anak dari seorang pemborong besar. Pada masa Sekolah Menengah Atas (SMA) Budi dikenal sebagai anak yang usil dan sering berkelahi. Hingga ia sering kali mendapatkan hukuman  dari pihak sekolah. Sedangkan Sylvani merupakan anak berbeda 180 derajat dengan Budi. Suatu saat Budi dan teman baiknya Hotma bertemu Vani ketika akan kabur dari sekolah. 

Vani mengalami kesulitan masuk ke sekolah lewat jalan belakang karena tasnya tersangkut pada salah satu  kawat pagar. Vani berniat sekolah namun ia kesiangan hingga ia masuk lewat jalan belakang. Budi dan Hotma kala itu memberi tahu pada Vani guru piket yang bertugas merupakan guru yang lumayan galak sehingga Budi dan Hotma menawarkan Vani untuk ikut dengan keduanya.

Seiring berjalannya waktu Budi, Hotma dan Vani sering jalan bersama, ia sendiri tak paham mengapa ia jadi sering bermain dengan Vani. Budi sempat masuk rumah sakit karena tyfus selama beberapa hari ada beberapa temannya yang datang menjenguknya. Namun  ketika Vani menjenguknya ada sesuatu yang berbeda yang ia rasakan terebih yang dibawakannya adalah bunga. Budi bingung atas apa yang dibawa Vani. 

Ketika orang lain membawakannya kue, Vani membawakannya bunga. Vani merupakan orang yang ceria, ia banyak bercerita  saat itu pada Budi, tapi waktu seolah tak berdamai pada keduanya jam besuk ternyata sudah berakhir sehingga Vani harus pulang. Vani mencium kening Budi hal yang tak pernah Budi lupakan.

Permasalahan bermula ketika orang tua Vani  harus kehilangan semuanya, kehilangan kemewahannya, fasilitasnya sehingga harus pindah ke rumah petak. Ayahnya tak mau kehilangan  segala fasilitas yang ia miliki. Ibu Vani yang tadinya orang terpandangpun harus rela berjualan di pasar, amun ibunya tak menganggap  ini beban ketika ia pulang ke rumah petak selalu ada senyuman kepada dua putrinya Vani dan Vita. 

Ayahnya menjodohkan Vani kepada seseorang yang jelas bisa mengembalikan kejayaannya. Vani menangis  tak mau perjodohan ini terjadi begitu pula dengan ibunya. Selang tak lama pernikahan Vani sang ibupun meninggal karena tak kuat melihat anaknya diperlakukan tak baik oleh suaminya.

“Jika kehormatan dipandang melekat pada kesucian seorang perawan, nista apalagi bandingannya yang dapat ditangguhkan seorang suami yang merasa tertipu pada malam pertamanya?”

Budi dan Vani berbeda angkatan, sejak kejadian  sore itu, budi menganggap Vani merupakan semangatnya, hidupnya,  dan bagian dari hidupnya. Budi berharap wanita mungil ini kelak akan menjadi  istrinya. Dalam adat Batak yang mereka tekuni, kehormatan merupakan hal yang penting bagi seorang perempuan, Budi sangat memikirkan nasib pujaan hatinya itu sebelum ia pergi menuju Yogyakarta untuk melanjutkan  kuliahnya.

Medan bukan kota yang pas untu ia belajar, ia tak mau dikenali dengan kehebatan sang ayah, ia ingin dapat berdiri sendiri dengan kemampuannya di kota seberang.  Setelah kepergiannya ke Yogyakarta ia tak pernah bisa melupakan gadis pujaannya, ia terus berharap suatu hari akan dapat bersama. Sayang seribu sayang gadis pujaannya akan dinikahkan dengan orang lain oleh ayahnya.

Betapa terkejutnya ia  ketika tau gadis pujaanya akan dipersunting laki-laki lain. Ia memikirkan segala kemungkinan, bahkan betapa malunya keluarga Vani ketika ia dipulangkan kerumah orang tuanya karena Vani tak bisa menjaga kehormatan dirinya. Rasanya ia ingin sekali menggagalkan pernikahan pujaannya ini.

Di masa sekarang  pergaulan bebas bukanlah hal yang tabu, namun buku ini dapat memberikan gambaran akibat pergaulan bebas yang sering dilakukan remaja. Bahasa yang digunakan pun sangat mudah untuk dimengerti. Walaupun dibalut dengan kisah cinta era 70an buku ini masih relevan dibaca pada masa kini. Namun terdapat beberapa kesalahan cetak seperti kurangnya spasi atau kesalahan penulisan namun masih bisa dimengerti.

Gadisku di Masa Lalu 
Pengarang : Ashadi Siregar
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama anggota IKAPI, Jakarta
Terbitan : Cetakan Pertama, September 2018
Tebal: 152 halaman

Novia Listiyani
Mahasiswa Jurnalistik Unpad

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar