Yamaha Aerox

Darurat Mitigasi Bencana dalam Jurnalisme

  Minggu, 11 November 2018   Adi Ginanjar Maulana
Reruntuhan gempa di Palu akhir September lalu.(Straitstimes)

Bencana gempa bumi berkekuatan 6,4 SR yang terjadi di Lombok pada tanggal 29 Juli 2018 masih belum terbuang dari ingatan masyarakat Indonesia. Pada 28 September 2018 gempa bumi berkekuatan 7,4 SR yang disertai tsunami kembali terjadi menimpa daerah Palu-Donggala di Sulawesi Tengah. 

Menurut data BNPB, ada sekitar seribu orang menjadi korban dalam bencana tersebut. Baru-baru ini, tepatnya pada tanggal 29 Oktober kemarin, Indonesia kembali berduka. Pesawat Lion Air dengan nomor pesawat JT610 rute Jakarta-Pangkal Pinang mengalami kecelakaan di Tanjung Karawang. Lebih dari 180 orang beserta awak pesawat menjadi korban dalam kecelakaan tersebut. 

Sebagai jurnalis, tentunya peristiwa seperti ini tidak akan bisa terlewatkan. Bagi jurnalis yang dikhususkan untuk meliput bencana, maka itu adalah sebuah tanggung jawabnya untuk memberikan informasi kepada masyarakat. 

Layaknya jurnalis pada umumnya, mencari informasi tentang apapun dan mewawancarai sumber berita yang valid adalah hal yang sangat dicari. Biasanya, dalam konteks berita bencana, jurnalis mengambil sudut pandang human interest karena dapat menarik banyak perhatian. 

Tak jarang banyak jurnalis yang bertindak tidak sepantasnya kepada korban bencana. Seperti menyudutkan korban untuk terus menjawab semua pertanyaan yang diajukan. 

Berpikirkah mereka para jurnalis jika dengan bersikap seperti itu, maka korban bisa mengalami goyah dalam psikologinya. Pantaskah seorang jurnalis bertanya “Bagaimana perasaan Anda ketika peristiwa ini terjadi?” Bukankah raut wajah para korban atau keluarga korban sudah dapat menggambarkan atas pertanyaannya tersebut? Hal ini yang masih sering terjadi dan terlihat di beberapa media. Karena keegoisan sang jurnalis, maka korban seakan semakin terancam.

Tujuan media saat ini adalah menjual atas dasar kesedihan korban. Sebuah sorot tangisan akan menjadi sesuatu yang bernilai jual untuk dikonsumsi kepada masyarakat. Dengan mengeksploitasi korban bencana, bukanlah suatu ketidaktahuan para jurnalis dalam hal etika, atau memang sebenarnya sudah dalam daftar perencanaan mereka.

Media mementingkan keuntungan mereka sendiri, rating misalnya. Untuk mengejar rating tersebut, maka pemberitaan dalam jurnalisme bencana adalah dengan memelankolis dan mendramatisir peristiwa. 

Menurut Sekretaris Jenderal (Sekjen) PWI Pusat Mirza Julhadi, media ketika mengekspos bencana, banyak yang hanya melihat dari nilai berita dibanding efek yang ditimbulkan. Sebagian besar media terlalu mengekspos berdarah-darah atau hal mistis yang terjadi saat bencana. Padahal hal seperti itu dapat menimbulkan efek negatif.
 
Sedangkan menurut Ahmad Arif seorang Pengamat Media di Remotivi, mengatakan bahwa jurnalisme bencana di Indonesia nyatanya bisa menjadi bencana baru. Adanya kekeliruan dalam peliputan, seperti bekal yang tidak memadai, baik disengaja atau tidak, harus tetap dikontrol. 

Ada hal yang lebih penting dibandingkan memuat informasi yang berasal dari eksploitasi korban. Mitigasi bencana misalnya. Hal itu masih minim disajikan oleh media kepada khalayak. Mereka (khalayak) lebih banyak disuguhkan berita-berita mistis dari sebuah kejadian yang kenyataannya masih diawang-awang. 

Dengan banyaknya bencana yang terjadi di Indonesia, seharusnya seluruh warga khususnya jurnalis dapat mengambil pelajaran atas setiap peristiwa yang terjadi. Bukan lagi hanya mengekspos kesedihan para korban maupun keluarga yang ditinggalkan. Berempati memang dirasa perlu, namun tidak untuk dilebih-lebihkan. 

Sudah kita ketahui Indonesia berada dalam kawasan Ring of Fire atau cincin api pasifik yang aktif. Sebagian besar wilayah di Indonesia, berpotensi mengalami banyak kejadian bencana alam seperti gempa bumi. Tidak ada yang tahu kapan sebuah bencana terjadi, mengharuskan masyarakat Indonesia sejak dini memahami akan siaga terhadap bencana. 

Pemahaman seperti ini, haruslah pemerintah terus sosialisasikan mengingat banyaknya bencana yang kian terjadi. Darurat mitigasi bencana, layaknya dapat menjadi sebutan di masyarakat Indonesia kita pada saat ini. Upaya pemerintah harus terus berjalan mensosialisasikan siaga terhadap bencana.

Dilansir dari idntimes.com, ada empat hal upaya mitigasi bencana yang dapat dilakukan. Pertama, pemetaan bangunan. Dengan adanya pemetaan bangunan yang baik, maka ketika gempa bumi terjadi dapat meminimalisir korban akibat bangunan roboh yang menimpanya. Kedua, pemetaan lapisan tanah. Ketiga, pemberdayaan manusia.

Misalnya, di Jepang, sejak usia dini sudah diajarkan pengenalan tentang gempa, tsunami, dan tindakan apa yang harus dilakukan. Keempat, penelitian lebih lanjut. Keempat hal tersebut dapat disosialisasikan kepada seluruh masyarakat Indonesia agar selalu siap siaga ketika terjadi peristiwa bencana alam. 

Deira Triyanti Putri
Mahasiswi Jurnalistik Fikom Unpad

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar