Yamaha Lexi

Demokrasi Warganet Melalui Digitalisasi

  Sabtu, 10 November 2018   
Buku Kuasa Media di Indonesia: Kaum Oligarki Warga, dan Revolusi Digital. (marjin kiri)

Meski sejumlah buku berkenaan dengan kajian media telah banyak diterbitkan. Namun buku dengan judul Kuasa Media di Indonesia: Kaum Oligarki, Warga, dan Revolusi Digital ini punya kelebihan lain. Penulis selain membahas tema spesifik seperti media digital juga mampu menyampaikan tema-tema menarik lainnya yakni keterkaitan warganet dalam dunia politik bagi mahasiwa jurnalistik, nonjurnalistik, serta pengamat di Indonesia.

Selain aktif sebagai pengajar senior di College of Asia and Pacific, The Australian National University, Ross Tapsell juga terlibat dalam Indonesia Project di ANU dan situs berita atau analisis New Mandala. Pada 2017, ia juga pernah menjadi ko-editor Digital Indonesia: Connectivity and Divergency. Ross Tapsell juga adalah seorang dewan redaktur jurnal Asiascape: Digital Asia dan penulis artikel. Artikel-artikelnya antara lain terbit di The Canberra Times, The Guardian, The Conversation, Tempo, The Jakarta Post, Malay Mail.

Melihat latar belakang penulis sebagai pengajar yang biasanya mendapat stigma tidak menarik dalam membawakan sebuah materi, justru berhasil dipecahkan oleh Ross Tapsell. Bagi siapapun yang membaca tentu akan mudah memahaminya sebab buku ini dibawakan dengan santai. Uraian topik mengalir dalam sebuah paket cerita yang populis di masyarakat. Hal itu seolah menandakan penguasaan pengetahuan dan kemampuan menulis yang baik dari penulisnya. Melalui cerita yang dipaparkan di bagian awal pendahuluan, pembaca diajak berwisata terlebih dahulu seputar dunia politik di Indonesia.

Kemunculan media digital di Indonesia digambarkan penulis dalam buku ini melalui perjalanan Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok. Meski Ahok dikatakan sebagai anomali dalam politik Indonesia dengan melihat sifatnya yang blak-blakan, terbiasa mengumpat, dan mudah marah ia mampu menjadi Gubernur Jakarta namun berhasil memperoleh kemenangan. Hal itu berkat bantuan anak-anak muda urban melalui akses internet dengan teknologi digital sebagai bagian dari kampanyenya. Pola demikian yang juga akhirnya mendorong posisi Jokowi maju dalam kursi kepresidenan.

Namun di balik itu, pengunduran dirinya dari Gerindra pada 2014 telah mendatangkan kecaman dari perusahaan media milik elite politik yang memberitakan dirinya sebagai sosok yang negatif seperti labil, kasar, dan tidak bisa dipercaya. Pemberitaan tersebutlah yang kemudian mendorong Ahok untuk kemudian mengunggah rekaman mentah video yang menunjukkan aktivitas kerjanya sebagai Gubernur Jakarta yang akhirnya dalam buku ini dengan mengutip gambaran Ahok dalam New York Times sebagai seorang yang menyasar sistem politik yang dijalankkan oleh kaum oligarki.

Dengan kebijakan-kebijakannya yang semakin transparan dan reformis, Ahok semakin mendapat tekanan dari para elite politik. Dengan posisi tanpa partai, Ahok mencoba bertahan, mengumpulkan dukungan secara digital dengan berbagai bantuan dari rekannya hingga memutuskan bergabung dengan PDI Perjuangan tak lantas memberikan kemenangan pada Ahok. Demontrasi oleh kaum oligarki dan partai politik serta meme, teori konspirasi, guyonan, dan berita bohong dilontarkan di berbagai platform media sosial untuk menjatuhkan Ahok. Melalui cerita karir politik Ahok di Jakarta ini, kemudian penulis menyelidiki dan menuliskan bagaimana media digital memengaruhi relasi-relasi kekuasaan. Di mana para pemilik media di Indonesia memiliki pertumbuhan finansial yang sangat baik dan mampu mengembangkan pasar yang lebih besar yang kemudian mendorong mereka menjadi lebih kuat secara politik.

Perkembangan demokrasi yang terjadi di sektor media, nyatanya tak cukup untuk merubah praktik tersebut menjadi nonpartisan justru malah menjadi ruang dominan para elite menggunakan kuasanya di era digital. Namun seiringan dengan hal itu, kekuatan media partisipatoris yang bergerak dari bawah mulai muncul melalui aktivitas penggunaan sosial media penduduk Indonesia baik dalam proses merumuskan maupun menyalurkan pesan-pesan reformis yang bersifat menantang kekuatan elite. Lebih dari 70 juta penduduk Indonesia mempunyai akun Facebook dan kicauan terbanyak di Twitter berlokasi di Jakarta.

Melihat fenomena tersebut Ross Tapsell dalam buku ini menjelaskan dengan menjawab dua pertanyaan umum, yakni terkait dampak revolusi digital dalam produksi berita dan informasi dan bagaimana perubahan media digital di Indonesia mempengaruhi cara kekuasaan digunakan.  

Baginya teknologi digital yang baru atau yang dikenal dengan revolusi digital ini telah membawa Indonesia ke dua arah, yaitu digitalisasi membuat kaum oligarki mengontrol ranah media arus utama dan mendorong struktur kekuasaan elite bergerak di sekitar politik dan media, digunakan oleh warga untuk tujuan-tujuan aktivisme dan pembebasan serta menantang struktur kekuatan elite melalui digitalisasi yang efektif.

Penelitian selama tujuh tahun yang dilakukan Ross Tapsell pada akhirnya telah membuka jendela pengetahuan dan berhasil menjawab tentang bagaimana digitalisasi di Indonesia mengalami pemusatan dan konglomerasi sehingga semakin memperkaya dan memperkuat para elite secara politik. Sebaliknya, digitalisasi telah membuka peluang bagi warga biasa dalam menyuarakan kepentingan dan memperjuangkan perubahan.

Kuasa Media di Indonesia: Kaum Oligarki Warga, dan Revolusi Digital
Pengarang: Ross Tapsell
Penerjemah: Wisnu Prasetya Utomo
Penerbit: CV. Marjin Kiri Serpong, Tangerang Selatan
Terbitan: Cetakan Pertama, Oktober 2018
Tebal: 298 halaman

Afiaty Fajriyah Ningrum
Mahasiswi Program Studi Jurnalistik Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran 

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar