Yamaha Lexi

Worden Coffee, Menyeruput Kopi Sambil 'Curi' Ilmu dari Barista

  Sabtu, 10 November 2018   Adi Ginanjar Maulana
Seorang barista di Wonder Coffee.

Hujan rintik menyambut kedatangan saya ke sini. Kepul uap air panas yang tersiram di atas bubuk kopi turut menguar ke setiap sudut ruangan. Aroma arabika yang harum menggoda, ditambah riuh tawa canda pengunjung, menambah hangat suasana di Worden Coffee.

Worden Coffee terletak di Jalan Ciwastra nomer 94, Kecamatan Rancasari, Bandung, Jawa Barat.

Kafe ini telah buka dari 2 tahun yang lalu. Di kafe mungil berukuran 3 x 6 meter itu, Anhari Mufti, Fahmi Bintang dan Ferry dengan lihai meramu biji kopi yang sudah di-roasting kemarin malam. Dengan takaran yang presisi, biji kopi tersebut dimasukannya sampai tandas ke dalam mesin grinder.

"Awalnya kita bertiga cuma jual cold brew kemasan, belum kepikiran untuk buat kafé kaya gini,” ujar Anhari bercerita, sembari menyiapkan arabica drip Cikajang yang dipesan saya saat berkunjung, Sabtu (3/11/2018).

Sembari menunggu racikan kopi drip menetes hingga habis dari dalam kertas penyaring, Anhari dengan tekun melayani diskusi kecil di kafenya sore itu.

“Worden saya ambil dari bahasa Belanda yang artinya berkembang, yang sesuai dengan harapan kita bertiga di sini, kita semua disini ingin berkembang menjadi yang lebih baik,” jelas Anhari.

Di sini Anhari mengonsep kafenya sebagai ajang edukasi dan medan diskusi. Dengan itu, dia ingin setiap pengunjung kafenya sedikit demi sedikit memiliki pengetahuan yang sama tentang ilmu kopi.

Dari kafenya, Anhari tak pelit berbagi ilmu dengan para pengunjung yang didominasi generasi milenial. Dengan kopi, Anhari bisa berbagi pengetahuan, tak hanya sekadar menyeruput kopi.

"Selain menikmati kopi, kita mengonsep Worden Coffee untuk jadi ajang diskusi juga sebagai pecinta kopi. Untuk itu di sini kita bikin open bar biar yang ingin tahu proses pembuatan kopi bisa lihat langsung, bahkan kalau ada pengunjung yang ingin buat kopi sendiri kita persilahkan banget, biar bisa sambil sharing juga," ujar Anhari.

*Worden Coffee sebenarnya berawal dari ketertarikan saya terhadap kopi. Dulu, saya, Fahmi dan Ferry datangi satu-satu temen yang tertarik dengan kopi, ya ngobrol, sharing, tanya jawab. Bahkan sampai sekarang, saya pasti coffee trip setiap hari minggu, ya saya ingin tahu juga rasa kopi dari café yang sudah terkenal di Bandung, biar saya juga bisa lebih explore lagi,” katanya.

Tekad Anhari untuk menularkan pengetahuan kepada pelanggan kafenya tidak terlepas dari keprihatinannya akan kurangnya kesadaran masyarakat umum akan potensi kopi lokal Jawa Barat.

Naluri Anhari dalam menilai kopi memang belum bisa disebut begitu ahli, Namun dengan dibantu oleh Fahmi yang lebih berpengalaman dalam mengenal kopi, Anhari tidak kesulitan untuk menilai kopi. Sebelum era film ‘Filosofi Kopi’ yang membuat tren kopi di masyarakat, Fahmi sudah berkenalan dengan mesin-mesin pengolahan kopi dan kebun kopi.

Kini, Anhari, Fahmi, dan Ferry mencurahkan segala passion-nya terhadap kopi. “Segetir apa pun hidup, pasti selalu ada cara untuk tetap menikmatinya. Serupa kopi, nikmatnya justru bisa dicecap setiap akhir tegukan,” kelakar Anhari.

 

Mohammad Irsan

Mahasiswa Jurnalistik UIN Bandung

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar