Yamaha Mio S

Ayo Pahlawan: Perjalanan Deswita Misnar sebagai Pendidik dan Penulis

  Jumat, 09 November 2018   Fathia Uqimul Haq
Deswita Misnar bersama murid-muridnya di SMAN 2 Majalaya. (Fathia Uqim/ayobandung)

MAJALAYA, AYOBANDUNG.COM--Deswita Misnar adalah seorang guru yang lahir di Padang. Setelah menamatkan pendidikan sarjananya di IKIP Padang Jurusan Biologi, wanita 48 tahun itu terbang ke Bandung untuk mengajar di tahun 1998.

Sejak 1996, dia sudah praktik mengajar di Sumatera Barat. Menjadi guru honorer saat itu adalah titik awal keberangkatannya mendidik siswa-siswi di Ponpes Darul Ilmu, Cikalong Wetan, Kabupaten Bandung Barat. Di sana dia mengajar santri-santri SMP dan SMA. Kemudian peraih nominasi ESA Award 2018 itu sempat mengajar di SMA Gunadarma Bandung Timur. Tahun 2005, Deswita menjadi guru bantu di SMPN 1 Ciparay sampai adanya pemerataan guru. Ia akhirnya pindah ke SMAN 1 Kertasari. 

"Awal kiprah ibu lebih menjadi seorang guru yang hobi membaca, menggambar, melukis, dan seni. Berawal dari literasi akhirnya ibu terapkan ke anak-anak untuk belajar review buku, membuat  mind map. Kemudian, gerakan menjadi lebih terfokus dan variasi setelah mendapat pencerahan pendidikan didukung kebijakan provinsi dengan adopsi reading habit para alumni West Java Leader Reading Challenge," paparnya, Jumat (9/11/2018).

Ujung tombak gerakan literasi diletakkan oleh Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat. Saat itu, Kadisdik Jabar Asep Hilman adalah pembentuk gerakan literasi yang diikuti oleh peraturan Kemendikbud soal gerakan literasi sekolah. Akhirnya Anies Baswedan mewajibkan setiap sekolah untuk membaca buku selama 15 menit sebelum pembelajaran dimulai.

Aktivitas literasi wanita lulusan magister manajemen pendidikan Uninus ini menghantarkannya dalam pembuatan buku. Buku pertama yang berjudul "Ku Bersujud kepada-Mu" merupakan kumpulan puisi religi yang dibuat sejak 2010 hingga 2017. 

AYO BACA : Ayo Pahlawan: Deswita Misnar, Guru yang Menginspirasi Lewat Media Sosial

"Sekarang sedang proses buku kedua tentang perjalananku mencari-Mu. Itu berupa perjalanan kisah ibu sama dari 2010 sampai 2017 juga. Isinya tentang perenungan suatu keyakinan pasti dalam kehidupan ada kematian dan ujian," jelas guru biologi SMAN 2 Majalaya itu.

Deswita memaparkan, ujian seseorang itu beragam. Ada yang siap menerima dan tidak, ada yang tawadhu dan ada yang mengambil jalan pintas. Akhirnya, dari pemikiran panjang terbentuklah sebuah  karya yang diharapkan mengena di hati pembaca. Wanita asli Padang ini pun mengaku minat sesungguhnya selain menjadi guru adalah membuat karya religi non-fiksi.

Menjadi pegiat literasi bukan hanya soal  membaca, tetapi implementasi yang menyeluruh ke dalam setiap elemen kehidupan. Sebagai guru, ia hanya melakukan yang seharusnya dengan semaksimal mungkin. Lantas, menjadi sosok yang menginspirasi adalah nilai dari orang-orang sekitarnya. 

"Guru adalah agen perubahan. Menjadi tempat buat memenuhi kebutuhan anak-anak setelah orang tua di rumah. Kita enggak tahu kondisi setiap anak di rumah, ada yang mungkin sibuk karena memenuhi kebutuhan anak. Sehingga peran guru adalah mengisi apa yang tidak didapatkan di rumah. Misalnya jadi tempat curhat, atau minta solusi," paparnya.

Baginya, siswa-siswi tinggal memilih dan melaksanakan setiap solusi yang ditawarkan oleh guru. Sebab guru bukan sosok yang selalu menyuapi, mendorong, dan mendoktrin anak didik karena mereka punya kemampuan masing-masing. Akhirnya, tinggal mereka sanggup atau tidak untuk menerima apa yang telah ditawarkan guru sesuai kondisi permasalahan anak sendiri. 

"Amal yang tiada putusnya setelah tiada ya ilmu yang bermanfaat, yaitu menjadi guru. Jadi ibu selalu minta untuk didoakan oleh siswa-siswi ibu. Dengan mengajar dan menulis, seseorang akan tetap ada meski dia sudah tiada," katanya.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar