Yamaha Aerox

Ayo Pahlawan: Deswita Misnar, Guru yang Menginspirasi Lewat Media Sosial

  Jumat, 09 November 2018   Fathia Uqimul Haq
Deswita Misnar (48) mengajar murid-muridnya. (ayobandung.com/Fathia Uqimul Haq)

AYO BACA : Ayo Pahlawan: Perjalanan Deswita Misnar sebagai Pendidik dan Penulis

AYO BACA : Ayo Pahlawan: Kayamata, Pejuang Visual Pembuka Cakrawala (Bag. 1)

MAJALAYA, AYOBANDUNG.COM--Berkecimpung di dunia pendidikan adalah jalannya mengarungi hidup. Mengajar adalah proses dan cara supaya Deswita Misnar (48) bisa mendapatkan bekal yang tak putus-putus setelah ia tiada. Proses kegiatan belajar mengajar selama 20 tahun itu menuai hasil yang tak disangka-sangka.

Alumni IKIP Padang ini berhasil masuk menjadi nomine Anugerah Guru Inspiratif Jawa Barat Een Sukaesih Award (ESA) 2018. Dia berhasil menginspirasi banyak orang. Dia memanfaatkan media sosial sebagai alat menyeru manusia.

Di ajang ESA, Deswita tak mendaftarkan diri. Orang lainlah yang mendaftarkannya.

"Saya sebenarnya enggak terlalu (sering) ke ajang-ajang gitu. Ternyata pas tahu kepala sekolah yang mendaftarkan. Alhamdulillah ternyata saya bisa menginspirasi orang-orang. Banyak yang suka inbox di Facebook, katanya postingan saya menginspirasi," kata Deswita, kepada Ayobandung.com, Jumat (9/11/2018).

Deswita masuk ke dalam penerima penghargaan kategori SMA. Guru SMAN 2 Majalaya ini menjadi satu dari tujuh nomine lainnya yang akan diumumkan pada 22 November 2018 di Gedung Sate. Setelah melakukan proses dan tahapan untuk lolos di ajang ESA Award, Deswita merasa sudah menjadi pemenang.

"Jadi hanya 7 orang se-Jabar. Kalau dari Disdik Jabar itu ada beberapa tahapan, dari administrasi, seleksi tahap satu, verifikasi ke lapangan, wawancara, seleksi tahap dua, sampai ada 7 nomine," jelas dia.

Ibu dari empat anak ini selalu mengunggah setiap proses pembelajaran di sekolah melalui Facebook. Menurutnya, media sosial adalah wadah untuk menyeru kebaikan, bukan hanya melalui jalan ceramah. Dari sana, dia mampu memberikan cahaya dan inspirasi kepada pengikutnya di Facebook.

Deswita memiliki cara ajar yang membuat muridnya tertarik untuk mengikuti pembelajaran biologi. Dia memberikan semacam tugas untuk membaca bahan pelajaran yang akan dituangkan melalui peta konsep atau dikenal mindmapping. Pembelajaran pun tak melulu dilakukan di kelas.

"Karena untuk belajar biologi ada proses membaca, proses membaca enggak harus di kelas. Setelah baca, tuangkan poin penting ke dalam mind map," tuturnya.

Mind Map tersebut diimbangi dengan kemampuan siswa untuk berkreasi. Menurutnya, sebuah mind map tak selalu garis panah. Sesuai keinginan siswa, belajar sains dan seni dapat disatukan supaya belajar lebih senang dan nyaman.

Dijelaskannya, terdapat tiga komponen dalam literasi sains, yakni bekerjanya otak kiri dan kanan karena kolaborasi seni dan sains, membentuk pendidikan karakter, dan menanamkan kedipsilinan dalam arti kerja keras serta sungguh-sungguh. Semua itu dilakukan supaya meningkatkan kinerja otak kiri dan kanan.

Ketika siswa tidak mengerjakan tugas, ada hukuman yang harus dijalani. Mereka disuruh untuk membuat karya kembali sesuai minat dan bakatnya. Semua karya yang terkumpul akan diperlihatkan ke teman-temannya lalu ditempel di mading.

"Karya diperlihatkan untuk membangkitkan motivasi dan apresiasi, kita pasang di mading supaya ada asas manfaat dan mading enggak kekurangan bahan. Karya anak dirangsang melalui punishment," ungkapnya.

Setiap hari selama pembelajaran, Deswita aktif membagikannya di sosial media. Tak jarang komentar bermunculan sebab aksinya yang mampu memikat hati para pemain Facebook. Bahkan teman dunia mayanya dari Malaysia sengaja ke Indonesia hanya untuk berbagi soal pendidikan antar negara untuk mengunjungi Deswita.

Wanita 48 tahun ini pun pernah mendapatkan kesempatan mengunjungi Adelaide, Australia pada tahun 2015. Proses seleksi tingkat Jawa Barat ini memunculkan nama Deswita untuk melihat proses pendidikan dan tingginya literasi dalam membaca di negeri kangguru.

Pelatihan selama 21 hari di Adelaide membuat dia semakin semangat mengembangkan pendidikan di Indonesia terhadap anak-anak didiknya. Lantaran seorang guru adalah pemupuk generasi setiap manusia.

"Prestasi lainnya juga, Alhamdulillah saya menjadi guru teladan aktualisasi literasi West Java Leader Reading Challenge (WJLRC) Jabar pada tahun 2017," katanya.

Melihat berbagai macam karya siswa, menangani pelbagai karakter, dan bagaimana melihat siswa berkreasi membuat Deswita menemukan cara belajar terbaik. Dia sangat terkesan ketika mulai membangkitkan gerakan literasi di sekolah sebab perjuangannya yang cukup berat untuk membiasakan siswa membaca.

Menurutnya, minat baca warga Indonesia rendah akibat ketidakpahaman. Tantangannya adalah bagaimana seorang guru menemukan cara baru untuk menghadapi itu semua.

"Melalui sebuah tantangan akan ada solusi baru. Pesannya untuk para pendidik jangan menyerah membimbing anaknya untuk menghantarkan anak ke masa depan. Karena guru adalah orang kedua setelah orang tua di rumah yang mengisi karakter dan sikap anak-anak," pesannya.

AYO BACA : Ayo Pahlawan: Kejadian Unik Layanan Telepon 113

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar