Yamaha Aerox

Ekih, Kegilaan yang Menghasilkan Prestasi

  Jumat, 09 November 2018   Rizma Riyandi
Hendra Gunawan pebalap sepeda yang dulunya berjaya pada era 60-an dan membawa nama Indonesia di kancah internasional, di kediaman Hendra, Sukabumi, Minggu 20 Mei 2018. (Wulan Nurapipah)

Mantan atlet balap sepeda nasional, Hendra Gunawan, yang mengukir prestasi di kancah nasional dan internasional kini bergantung pada tongkat dan rabaan tangan.

Ketergantungan tersebut disebabkan mata sang pembalap terkena penyakit Glaukoma pada 2006 dan berakhir dengan kebutaan.

Meski sudah menjalani operasi mata sebanyak dua kali, mata sang pembalap tetap tidak bisa melihat sehingga membuat dirinya tidak ingin melakukan pengobatan lebih lanjut lagi.

Meski demikian, kondisi seperti itu tidak membuat sang pembalap kehilangan minat terhadap sepeda. Itu terlihat dari semangat sang pembalap menceritakan pengalaman dirinya kala masih aktif dalam dunia balap sepeda.

Hendar Gunawan atau yang sering dipanggil Ekih ini menceritakan "kegilaan"-nya terhadap sepeda hingga membuatnya lupa akan segala-galanya, salah satu contoh yang dilupakannya adalah sekolah. Akibat kegilaannya itu, Hendra hanya bersekolah sampai tingkat SMP.

“Kegilaan terhadap sepeda ini membuat saya lupa akan segala-galanya, yang saya inginkan hanyalah naik sepeda saja. Sekolah sering bolos, jika orang tua menyuruh sekolah, saya titipkan buku di rumah teman dan saya naik sepeda,” ujar pria kelahiran 1941.

Menurutnya, menjadi pebalap sepeda merupakan keinginan dirinya sendiri, tidak ada dorongan ataupun larangan dari orang tua untuk menjadi atlet. Namun, ketika kecil pria yang lahir dari ayah yang bekerja di bengkel ini sering sembunyi-sembunyi ketika bermain sepeda karena membolos sekolah.

Awal menngikuti perlombaan sepeda pada 1958 di Sukabumi. Saat itu dirinya belum memiliki sepeda, tapi kegilaannya terhadap sepeda tidak bisa dibendung.

AYO BACA : Sufisme Jeihan dan "Kegilaan"

Dengan bermodalkan sepeda pinjaman dari temannya, ia mengikuti perlombaan tersebut dan dapat memenangkan perlombaan.

“Teman yang tahu kegilaan saya akan sepeda menyarankan untuk mengikuti perlombaan itu. Tapi ketika itu saya belum memiliki sepeda. Tapi mereka terus menyuruh saya untuk mengikuti dan meminjamkan saya sepeda,” ujar pria asal Sukabumi ini.

Sebelum perlombaan berlangsung, orang tua sang pembalap menjanjikan hadiah sepeda jika menang dalam perlombaan tersebut. Begitu menang Hendra kecil langsung menangih hadiah yang dijanjikan sang ayah. Akhirnya sang ayah mendukung penuh Hendra menjadi atlet ketika dapat memenangkan perlombaan.

“Dahulu sepeda belum seperti sekarang ini gampang dicari, dulu mencari sepeda susah. Saya dan abah keliling-keliling mencari sepeda sampai ke Bandug. Namun akhirnya saya mendapatkan sepeda dari rongsokan. Sebelum punya sepeda saya gila akan sepeda. Setelah memiliki sepeda kegilaan akan sepeda makin menjadi,” kata Hendra tersenyum ketika menceritakan kembali kisahnya.

Setelah perlombaan tersebut, Hendra menjadi kenal dengan orang-orang yang tergabung dengan klub-klub sepeda dari berbagai daerah. Kemampuan bersepedanya pun meningkat. Hendra sendiri banyak ditawari untuk masuk klub sepeda oleh temannya yang sudah masuk klub.

“Teman-teman dari Jakarta dan Bandung menawari saya untuk masuk klub. Tapi saya dekat dengan anak-anak Jakarta jadinya saya memilih klub Jakarta,” ujar suami Yati Suryati.

Hendra mengaku dirinya makin gila lagi terhadap sepeda ketika masuk klub. Kegilaan yang dilakukannya adalah terus mengikuti perlombaan-perlombaan.

Pada awal tahun 1960, dirinya mengikuti seleksi tim nasional di Jakarta. Dia masuk 16 besar untuk tim nasional. Mereka yang terpilih mulai berlatih di daerahnya masing-masing.

“Ketika ada pemberitaan akan ada Olimpiade XVII di Roma barulah 16 atlet yang terpilih dipanggil untuk berlatih,” ujar Hendra.

Pada saat olimpiade tersebut, umur Hendra baru 19 tahun. Di ajang itu, Indonesia mendapatkan hasil terbaik di Asia.

“Waktu itu pak menteri memastikan untuk balap sepeda termasuk cabang olahraga yang masuk nominasi untuk memberikan medali pada Asian Games IV 1962 di Jakarta,” kata Hendra.

Setelah selesai Olimpiade, selang satu bulan Hendra kembali dipanggil untuk Pemusatan Latihan Nasional demi mempersiapkan Asian Games IV 1962.

Sebelum berlangsungnya Asian Games IV, Hendra mewakili Jawa Barat dalam Pekan Olahraga Nasional ke-V 1961 di Bandung. Dirinya memenangkan sepuluh medali emas dan tiga perak dari kategori-kategori lomba sepeda yang berbeda.

“Selesai PON, (Atlet Pelatnas) kembali ke daerah masing-masing. Selang satu minggu kemudian sudah harus kumpul di Jakarta untuk berlatih,” ujar Hendra.

Pelatih untuk Asian Games langsung didatangkan dari Jerman Timur. Program latihannya pun terbilang berat. Hendra dan kawan-kawan setiap harinya harus bangun pagi untuk berlatih.

Enam bulan sebelum berlangsungnya Asian Games, Tim Nasional Indonesia berlatih di Jerman selama tiga bulan. Selama berada di Jerman itu, timnas satu asrama dengan timnas Jerman Timur.

Memang benar usaha tidak menghianati hasil. Hendra berhasil menyumbangkan tiga medali emas untuk Indonesia di ajang Asian Games IV 1962 dari kategori yang berbeda. Hasil tersebut didapatkan dari persiapan dan latihan yang lebih dari satu tahun.

Setelah Asian Games IV 1962, Hendra terus mengikuti perlombaan di kancah nasional dan internasional.

AYO BACA : Si Cantik Defia Rosmaniar yang Memiliki Segudang Prestasi

Negara-negara yang pernah didatanginya untuk perlombaan yaitu Italia, Jepang, Kamboja, dan Meksiko.

Ketika mengikuti perlombaan, Hendra selalu memenangkan medali, baik itu medali emas, perak, atau perunggu. Karena merajalela menjadi juara, Hendra diberi julukan Macan Asia.

Pada 1969, Hendra pensiun menjadi atlet balap sepeda. Dirinya memilih melanjutkan karier sebagai pelatih balap sepeda dan mengikuti oraganisasi-organisasi seputar dunia balap sepeda.

“Pada tahun itu, saya sudah malas-malasan untuk lomba. Jadi, saya memilih untuk menjadi pelatih saja,” ujar Hendra.

Hendra benar-benar keluar dari dunia balap sepeda pada 2006 karena sakit di matanya. Padahal pada tahun yang sama, dirinya masih menjadi Official Porda X di Karawang.

Setelah berhenti dari dunia balap sepeda, sekarang Hendra hanya diam di rumah. Meski begitu, dirinya tetap memantau perkembangan olahraga sepeda Indonesia dari televisi.

Di akhir wawancara, Hendra mengatakan harapan agar pemerintah memperhatikan mantan-mantan atlet berprestasi. Hal ini karena banyak atlet yang hidupnya memprihatinkan.

“Apapun bentuk kebijaksanaannya yang penting pemerintah memperhatikan kami-kami, mantan atlet, agar mendapatkan hidup yang layak,” kata Hendra.

 

Wulan Nurapipah

Mahasiswa Unpad

AYO BACA : Kegalauan dan Kegilaan Taylor Swift dalam Video "Delicate"

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar