Yamaha Mio S

Modus Anyar, Anak-Anak Jadi Kurir Narkotika

  Kamis, 08 November 2018   Fathia Uqimul Haq
Kepala BNNP Jabar, Sufyan Syarif dalam audiensi bersama media terkait pencegahan narkotika, di RM Ponyo Jalan Malabar, Kamis (8/11/2018) . (ayobandung.com/Fathia Uqimul Haq)

AYO BACA : 3 Manfaat Pineberry untuk Kesehatan

AYO BACA : Begini Cara Pakai Micellar Water yang Baik Menurut Ahli

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM--Modus kurir narkotika anak-anak seumuran SD dan SMP sedang marak terjadi. Tren baru itu dilakukan sebagai upaya pengelabuan petugas dan aparat.

Menurut Kepala BNNP Jabar, Sufyan Syarif, modus itu dilakukan supaya tidak mencurigakan lantaran narkotika dibawa oleh anak-anak. Mereka pun menghendakinya sebab diiming-imingi uang dan terjebak faktor pergaulan.
 
"Modus sindikat bukan lagi menyasar  kota tapi desa juga. Karena pangsa pasar yang  penduduknya banyak itu di desa. Apalagi pengedar di desa  juga ditawarkan paket hemat, seperti di Tasikmalaya misalnya tiga kali isapan 100 ribu," katanya, dalam audiensi bersama media, Kamis (8/11/2018).

Sasaran pengguna narkotika sudah mencapai perkampungan di Bekasi, Tangerang, Bogor, Sukabumi, Cirebon, bahkan Tasikmalaya. Masalah sosial ini mesti segera dicegah dan diputuskan suplainya supaya mereka tidak menyebar lebih luas.

Jika hal ini dibiarkan, maka dapat menjadi budaya di masyarakat pesisir dan pekerja buruh usia produktif. Karena pengedar tengah menyasar segmentasi tersebut.

Sufyan menyebutkan 57% orang mencoba pakai narkotika. Sebanyak 27% sebagai rekreasional dan 16% sudah menjadi pencandu. Kerugian sosial ekonominya pun telah mencapai 84,7 Triliun rupiah.

"Tiga hal yang jahat itu adalah terorisme, korupsi, dan narkoba. Akibat narkoba, setiap hari 40 sampai 50 orang meninggal. Jangan selalu ditekankan dalam kerugian materil saja, tapi kematian manusianya itu sendiri," paparnya.  

Sufyan menuturkan satu gram narkoba bisa mencapai Rp 1,5 juta. Tetapi kerugian jiwa bisa 5 orang terkena akibatnya. Karena satu gram narkoba bisa dibagi untuk beberapa orang.

Alasan penangkapan yang tidak habis-habis, katanya, sebab narkotika masih diproduksi di Taiwan, China, India, dan lain-lain. Di Taiwan, harga satu gram narkoba saja hanya dibanderol Rp 20.000. Datang ke Indonesia bisa dijual Rp 1,5 juta. Padahal shabu-shabu dan ekstasi adalah narkotika paling mematikan dan merusak organ manusia.

"Sekarang pemahamann narkotika bergerak ke obat-obatan terlarang. Tren baru yaitu komix beli 20 bungkus langsung ditenggak, akibatnya ya bisa mati karena dosis tak terkontrol. Kandungan dextro itulah yang disalahgunakan karena obat batuk itu dijual bebas. Jadi anak-anak SMP coba-coba lewat itu," jelasnya.

Disinggung soal pembalut yang direbus lalu diminum airnya, Sufyan menyebut hal itu jadi masalah baru dan membuat seseorang mabuk dengan indikasi lain yang menyertainya. Namun hal ini masih diteliti lebih lanjut terkait kandungan dan penyebabnya.

"Ini lagi dibicarakan sama Dinkes dan BNN. Sudah diumumkan juga dari BNN pusat bahwa ada modus baru merendam menggodok pembalut," katanya

AYO BACA : Peran Media dalam Upaya Pencegahan Narkotika

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar