Yamaha Aerox

Peran Media dalam Upaya Pencegahan Narkotika

  Kamis, 08 November 2018   Fathia Uqimul Haq
Kepala BNNP Jabar, Sufyan Syarif dalam audiensi bersama media terkait pencegahan narkotika, di RM Ponyo Jalan Malabar, Kamis (8/11/2018) . (ayobandung.com/Fathia Uqimul Haq)

AYO BACA : PWI Akan Tularkan Jurnalisme Bencana Kepada Media

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM--Badan Narkotika Nasional Provinsi Jawa Barat melakukan tiga tahapan dalam membasmi narkotika. Tiga tahapan itu terdiri atas pencegahan, pemberantasan, dan rehabilitasi.  

Kepala BNNP Jabar Sufyan Syarif menilai Indonesia masih fokus memberantas. Padahal tahapan pencegahan sangat penting untuk menahan puluhan juta penduduk terhadap peredaran dan penyalahgunaan narkotika.

"Narkotika dimulai dari ingin coba-coba. Kita mencoba menahan 60 persen jumlah korban. Upaya penahanan melalui empat lingkungan," katanya dalam audiensi bersama media di RM Ponyo Jalan Malabar, Kamis (8/11/2018).

Empat lingkungan itu, kata Sufyan, yaitu pertama pemerintah sebagai regulator. Kedua melalui lingkungan pendidikan lantaran rawannya korban dari usia produktif. Ketiga di lingkungan masyarakat sebab pengguna tersebar melalui masyarakat seperti tetangga atau teman-teman sekitar. Keempat adalah lingkungan swasta seperti pekerja atau buruh.

"Kami tidak mungkin satu per satu mengobrol pencegahan kepada 48 juta masyarakat Jawa Barat. Peran medialah yang menjadi mulut untuk menyebarkan kepada masyarakat itu sendiri. Sehingga upaya pencegahan melalui lingkungan swasta itu penting," ujarnya.  

Pemutusan supply dan demand juga dilakukan sebagai pencegahan agar peredaran tidak lagi menyeluruh. Supaya peredaran kebutuhan tidak lagi terkoneksi dengan satu dan lainnya. Karena satu pengedar dapat memiliki puluhan pengguna yang bisa disebarkan lagi ke teman-temannya.

"Kita pun ingin memberi tahu kepada masyarakat kalau rehabilitasi itu gratis. Banyak orang yang malu atau takut bayar untuk rehab. Padahal rehab adalah upaya pembenahan secara profesional," paparnya.

Negara telah menyiapkan biaya kepada masyarakat untuk rehabilitasi. Kenyataannya, masyarakat masih malu untuk disembuhkan lantaran menjadi aib keluarga. Akhirnya, dana rehabilitasi pun tidak digunakan seluruhnya dan kembali lagi ke negara.

Sufyan menuturkan, ada tahapan asesmen terhadap korban sebelum rehabilitasi. Setelah diketahui kecanduannya hingga mana, petugas akan memandu untuk melakukan rehabilitasi. Setelah itu, mereka akan disalurkan ke beberapa pekerjaan.

"Kita juga berkoordinasi dengan Dinas Ketenagakerjaan, Dinas Sosia, dan Penanggulangan Kemiskinan,  juga Dinas Kesehatan," ujarnya.  

Menurutnya, kejahatan di Indonesia adalah narkotika. Karena satu pengedar bisa menyebarkan ke ratusan pengguna.

"Kalau jumlah kejahatan sesuai KUHP, puluhan bahkan ratusan yang dikuasai narkotika. Pembunuhan pemerkosaan mungkin 30 persen dari keseluruhan kriminal, sisanya ya narkotika,"  kata dia.

AYO BACA : Media Garda Terdepan Berantas Hoaks

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar