Yamaha Aerox

Bohemian Rhapsody, Freddie yang Melawan Cemas Melawan Batas

  Rabu, 07 November 2018   Adi Ginanjar Maulana
Bohemian Rhapsody

Freddie, kau harus mendengarku.

Kukira, aku tak harus minta maaf karena tak mengenalmu. Terlebih tak mau tahu banyak tentangmu. Tapi kau harus tahu, “Bohemian Rhapsody” yang kau ciptakan 43 tahun lalu masih kuputar malam ini: saat menulis catatan ini.

Kau tahu, Freddie, aku selalu merasakan daya, rindu, dan sakit yang ngilu kala mendengar bagian lirik dari lagumu itu. Tepatnya bagian lirik ini,

Mama, hidup baru dimulai. Namun aku telah pergi dan menyia-nyiakannya. Mama, Aku tak pernah berniat membuatmu menangis. Jika besok aku tak kembali, tegarlah! Tegarlah seolah segalanya tak ada artinya!

Maaf aku mengubahnya ke dalam bahasa negeriku, tak ada alasan khusus, hanya ingin saja.

Freddie, film biopik tentangmu dan Queen, band-mu itu, akhirnya tayang di negeriku. Film yang berjudul sama dengan lagumu di atas itu dikritik pedas oleh orang banyak, baik dari luar negeri dan negeriku sendiri. Terutama karena film itu tak mencerminkan kisah hidup Queen sebenarnya.

Entahlah, Freddie. Aku hanya pendengar, bukan penggemar fanatikmu. Aku tak terlalu tahu kisah hidupmu dan Queen.

Sebelum menonton pun aku tak berniat mengetahui sejarah dan kisah-kisah di balik lagu yang kalian nyanyikan.

Aku datang ke bioskop hanya untuk menonton "Bohemian Rhapsody", bukan untuk menonton buku biografi yang pernah memuat kisahmu. Lantas membandingkan kebenaran yang ada di buku biografi dan film biopikmu ini, lalu mendebatkannya. Sudah jelas buku biografi dan film adalah medium yang berbeda.

Film adalah fiksi. Dalam fiksi, ada beberapa pertimbangan yang harus dipilih untuk disajikan kepada penonton. That’s just a show, right?

Namun, kupikir perlu juga mendengarkan perkataan Sheila O’Mailey yang mengulas film ini di RogerEbert.com. Dia menolak queerness-mu sebagai seniman yang ditunjukkan dari film ini. “Jenius tidak datang dari ruang hampa,” tulis O’Malley. “Freddie Mercury tercipta dari semua kekacauan dan gairah yang hadir di hidupnya: dia mencintai Elvis, opera, music hall, kostum, Inggris era Victorian… dan, ya, seks. Banyak sekali seks.

“Ekspresi seksual adalah kemerdekaan, dan kau akan merasakan kegembiraan itu dalam suara Freddie yang cuma muncul sekali dalam satu generasi itu. Kau tak akan bisa membahas Freddie Mercury tanpa membahas sensibilitas queer yang menggiring (hidupnya), konteks queer yang dijalaninya. Atau, kau bisa mencoba begitu, seperti film ini, dan gagal.”

AYO BACA : Bohemian Project, Aksesori Buatan Tangan Zaman Now

Kupikir perkataannya benar. Latar belakang “kegilaanmu” bahkan tidak ditunjukkan di film ini. Seolah hadir tiba-tiba sebagai mukjizat.

Eh, Freddie. Aku baru buka KBBI. Biopik artinya film yang menceritakan biografi tokoh. Aku pikir, 2 jam 15 menit memang tidak cukup mengisahkan karier band-mu. Apalagi kisah-kisah menarik di baliknya.

Anthony McCarten si penulis naskah dan Bryan Singer si sutradara pada akhirnya harus memilih, kukira. Dan pilihan mereka adalah mengotak-atik potongan kisah hidupmu, lalu merangkainya menjadi struktur dramatik cerita yang klise: memulai karier, konflik saat di puncak, lalu mengakhirinya dengan haru dan penuh daya.

Fred, aku panggil kau Fred saja. Dua suku kata terlalu panjang dan tidak terlalu akrab bagiku.

Kau tahu, Fred, lelaki bernama Rami Malek yang di film memerankan dirimu, kupikir dia menunjukkan kemampuan beraktingnya yang sangat baik. Sangat baik, Fred. Kau harus bangga kepadanya. Daya dari setiap dialog dan lagumu yang dia lontarkan dan nyanyikan selalu sampai kepadaku.

Daya itu benar-benar terasa nyata, Fred. Terlebih kisah pilu di balik lagu yang kau ciptakan. Apalagi kisahmu dengan Mary Austin dengan latar lagu “Love of My Life” yang kau ciptakan untuknya.

Aku masih mengingat adegan kau—yang diperankan Malek—dan Mary saat kalian sudah pisah rumah. Rumah Mary tepat berada di seberang rumahmu. Suatu malam kau menelepon Mary. Dia menjawab dari kamarnya di lantai atas. Kau meminta Mary melihatmu dari jendela kamarnya. Saat itu kau di lantai bawah rumah, depan jendela.

Setelah itu, kau meminta Mary mengikuti apa yang kau lakukan. Kau menyala-matikan lampu meja. Mary mengikuti apa yang kau inginkan. Kau tersenyum dan tertawa sendiri. Mary tidak tersenyum dan tidak tertawa. Lalu kau mengucapkan, “Selamat malam, Sayang”. Mary hanya mengucapkan, “Selamat malam”. Kau menutup telepon. Kau kembali tersenyum dan tertawa. Seolah-olah bahagia. Tapi harus mengakui kenyataan bahwa kau tak bisa lagi memiliki Mary. Kau tahu dia tak mengucapkan kata sayang seperti saat dia masih bersamamu.

Bagian itu bagiku terasa ngilu.

Ah, Fred. Terlalu banyak kugunakan kata daya. Mungkin daya pemberontakan hidupmu yang memang ditonjolkan McCarten dan Singer di film ini.

Setidaknya, yang aku ingat, daya pemberontakkan itu muncul di setiap lingkup kau berada. Di lingkungan keluarga kau secara pribadi mengganti namamu sendiri, di lingkup dunia musik kau “merancang” musik yang berbeda pada zamannya. Kau pun menolak struktur formal yang berlaku di setiap rapat. Dan yang selalu aku suka, kau selalu memikirkan hal fenomenal—yang saat itu dianggap tidak masuk akal. Kau tak hanya melawan kecemasan dirimu. Kau melawan kecemasan banyak orang, Fred!

Setelah kau terkenal, konflik mulai menyerangmu dari segala arah. Kecemasan kembali melanda. Kali ini lebih gila. Kau bahkan sempat berpisah dengan Queen yang kau anggap keluarga.

AYO BACA : Ini Dia Sederet Aktor yang Bakal Bermain dalam Film Biopik Queen

Namun keputusanmu melawan kesendirian, kecemasan, narkotika, AIDS dan kembali bermain untuk Queen di konser amal LIVE AID dalam film ini menjadi akhir yang manis untuk menunjukkan daya yang kau punya. Kau Bohemian Rhapsody, Fred!

Dan lagi-lagi, Malek dan semua personel Queen di konser itu benar-benar menghidupkan lagu yang kalian ciptakan. Sekali lagi, kau harus bangga padanya, Fred!

Oh, iya, Fred. Bukankah di bioskop dilarang bersuara, Fred? Namun, ketika Malek menyanyikan lagumu, semua orang di bioskop ikut bernyanyi. Lagumu masih menggema, Fred. Tidak hanya di radio, Youtube, dan media lainnya. Namun juga di bioskop. Itu dilarang, Fred! Kau harus bertanggung jawab.

Fred, apa kau masih di sana? Masih mendengarkanku?

Tiba-tiba aku ingin menyanyikan lagumu

"Bohemian Rhapsody"

Is this the real life?   
Is this just fantasy?   
Caught in a landslide   
No escape from reality   
Open your eyes   
Look up to the skies and see   

I’m just a poor boy (Poor boy)   
I need no sympathy   
Because I’m easy come, easy go   
Little high, little low   

Any way the wind blows   
Doesn’t really matter to me, to me   

Too late, my time has come   
Sends shivers down my spine   
Body’s aching all the time   
Goodbye, everybody   
I’ve got to go   
Gotta leave you all behind and face the truth   
Mama, oooooooh (Anyway the wind blows)   
I don’t want to die   
Sometimes wish I’d never been born at all

Fred, apa kau benar-benar masih di sana?

 

Ihsani Afni

Penikmat film dan seblak.

AYO BACA : Film Biopik Queen Bakal Hadir Buat Penggemar

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar