Yamaha Aerox

Pondok Al Basyariyah, Lembur Ilmu Wahana Disiplin Santri

  Senin, 05 November 2018   
Pondok Al Basyariyah

Pondok pesantren dikenal sebagai tempat untuk belajar pendidikan keagamaan. Jika mendengar nama pesantren maka teringat suasana tradisional atau nama-nama kitab kuning serta pelajaran keagamaan lain seperti fiqih, ushul fiqih, tafsir, hadis, nahwu, dan lainnya.

Berbeda dengan pesantren tradisional atau biasa disebut dengan salafi. Pesantren Al Basyariyah merupakan lembaga pendidikan formal yang memadukan mata pelajaran berbasis kurikulum dengan tidak meninggalkan mata pelajaran khas pondok pesantren.

Sistem tersebut disebut dengan TMI (Tarbiyatul Mu’allimin Wal Mu’allimat) yaitu perpaduan antara sistem pendidikan salafiyah (tradisional) dengan sistem pendidikan khalafiyah (modern).

Selain diajarkan ilmu-ilmu pengetahuan agama islam, di Al Basyariyah juga diajarkan tentang pengetahuan umum secara seimbang dalam rangka terciptanya kader-kader yang intelek dan khoirunnas.

Perkembangan pesantren saat ini sangat dipertimbangkan oleh masyarakat. Apalagi Al Basyariyah merupakan pondok pesantren yang menjungjung tinggi sifat kedisiplinan dalam mendidik santri-santrinya.

Nuansa pendidikannya banyak dihiasi oleh nilai-nilai disiplin, seperti salat berjamaah lima waktu, percakapan harian dengan menggunakan bahasa arab atau bahasa inggris, salat sunah, dan yang menarik adalah “money changer”.

Money changer adalah sistem penukaran uang rupiah dengan kupon. Di pondok pesantren Al Basyariyah uang rupiah tidak berlaku. Saat akan membeli sesuatu atau transaksi lainnya, santri harus menukarkannya terlebih dahulu ke tempat penukaran uang.

Hal ini diterapkan guna meminimalisasi kehilangan bahkan pencurian uang. jadi, jangan heran apabila melihat transaksi di pondok ini bukan menggunakan rupiah.

Santri pondok pesantren Al Basyariyah juga dididik untuk selalu menggunakan bahasa Arab dan Inggris dalam percakapan sehari-hari.

Biasanya dijadwalkan seminggu sekali bergantian antara bahasa Arab atau inggris. Selain itu, pendidikan bahasa juga diterapkan dalam kegiatan berpidato.

Jika ditemukan ada santri yang menggunakan bahasa Indonesia saat berbicara dengan temannya, santri tersebut akan kena teguran dari bagian bahasa dan bersiap mendapat hukuman.

Di samping itu, santri pondok Al Basyariyah tidak diperkenankan membawa alat elektronik apapun. Di saat anak-anak lain terpengaruh dan bergantung dengan gawai, santri pondok Al Basyariyah terus mengembangkan keterampilan dan keorganisasian melalui kegiatan positif lainnya.

Apabila terdapat santri yang diketahui membawa alat komunikasi seperti ponsel, hukuman yang didapat adalah berupa dibotak bagi santri putra dan memakai kerudung pelanggaran bagi santri putri.

Tak lupa ponsel yang telah dibawa tersebut dihancurkan di hadapan seluruh santri putra dan putri oleh santri pelanggar itu.

Para guru dan pembimbing tak segan untuk memberikan hukuman pada santri yang melanggar. “Disiplin tanpa hukuman bagai ular tak berbisa” itulah moto yang dipegang oleh pondok pesantren Al Basyariyah.

Hal itu menjadi tolak ukur para orang tua untuk memasukkan anaknya ke pondok ini. Pondok pesantren Al Basyariyah juga menjadi incaran pesantren lain untuk mengikuti jejak disiplin dan penerapan nilai-nilai kepesantrenan.

Anisa Nurul Arifah

Netizen yang tinggal di Bandung

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar