Yamaha Lexi

Kota Bandung yang Hijaunya Kian Memudar

  Sabtu, 03 November 2018   Adi Ginanjar Maulana
Seorang warga berjalan di pematang sawah dengan latar belakang perumahan di kawasan Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, Kamis (5/4/2018). Maraknya alih fungsi lahan pertanian menjadi kawasan perumahan dan industri adalah salah satu penghambat swasembada pangan nasional. (Irfan Alfaritsi/ayobandung)

Kota Bandung identik dengan julukannya sebagai Kota Kembang. Beberapa ahli sejarah mengungkapkan alasan Bandung disebut sebagai kota kembang karena wilayahnya yang asri. 

Kota dipenuhi dengan tanaman. Sawah dan rupa-rupa perkebunan menghampar luas di ibu kota Jawa Barat ini. Namun dewasa ini Bandung sepertinya telah kehilangan pesonanya sebagai kota kembang. 

Keasrian Bandung disebutkan beberapa pihak tidak seperti dulu. Tanaman, pesawahan, dan perkebunan di kota kembang ini perlahan-lahan menyusut. Benarkah dugaan tersebut?

Kondisi pertanian di Kota Bandung ada pada taraf yang memprihatinkan. Meskipun kota kembang ini bukan penghasil produk pertanian. Hal ini tidak bisa dijadikan alasan.

Menurunnya jumlah itu tentu bukan tanpa alasan. Alih fungsi lahan pertanian yang ada di Kota Bandung bahkan ada di taraf yang sangat memprihatinkan. Padahal secara geografis, Bandung dikelilingi oleh pegunungan yang menjadi keuntungan sektor agraris. 

Berdasarkan data dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Dispertapa) Kota Bandung, mulai dari tahun 2015 hingga 2017 terjadi penyusutan lebih dari 300 hektare lahan pertanian. Lahan pertanian tersebut beralih fungsi menjadi perumahan, properti, hingga industri. 

Pada 2009 total lahan sawah yang berada di Kota Bandung sekitar 1.300 hektare. Namun, di akhir 2014 luas lahan sawah yang terdapat di Kota Bandung menyusut di kisaran 1.100 hektare.  Lalu pada 2015, lahan pertanian mencapai sebesar 988 hektare dan pada 2016 ada penyusutan sekitar 252 hektare, menjadi 736 hektare. 

Penyusutan lahan pertanian tersebut, beralih fungsi menjadi perumahan, properti hingga industri, bertambahnya jumlah penduduk pun membuat beberapa lahan pertanian harus dihilangkan. Hanya sekitar 9% lahan sawah yang masih tersisa di Kota Bandung. Jumlah itu berarti tinggal 1.474 hektare sawah yang tersisa dari total 16.000 hektare luas tanah Kota Bandung kini.

Lahan sawah di Kota Bandung semakin berkurang dikarenakan harga jual tanah yang cukup tinggi. Pemerintah Kota Bandung tidak bisa melarang pemilik lahan sawah untuk menjual tanah miliknya. 

Perlu ada kebijakan strategis dari pemerintah untuk mengatasi penyusutan lahan produktif di perkotaan sebagai upaya menjaga keseimbangan lingkungan. Perlu ada pengendalian konversi lahan yang biasanya lahan produktif untuk pembangunan.

Kondisi pertanian dan hortikultura yang memprihatinkan juga diperparah dengan kondisi RTH (ruang terbuka hijau) di Kota Bandung. Jumlah ruang RTH Kota Bandung hanya berjumlah sekitar 7%-8% dari total luas Kota Bandung. Sangat menyayangkan jumlah RTH Kota Bandung yang disampaikan pemerintah, yakni sebesar 12,15% tidak tepat. 

Hal tersebut dikarenakan beberapa ruang turut dikategorikan sebagai RTH, seperti pepohonan di sepanjang jalanan Kota Bandung. Tidak semua pepohonan di sepanjang jalan termasuk ke dalam RTH, sehingga membuat perbedaan jumlah persentase yang cukup lebar. Jika pepohonan dipinggir jalan itu tidak termasuk dalam perhitungan RTH, jumlah RTH di Kota Bandung hanya sebesar 7%-8% saja.

Permasalahan pelik ini tentu tidak bisa dibiarkan begitu saja. Lingkungan hidup bukanlah permasalahan yang bisa dikesampingkan dan urgensinya sama dengan permasalahan lain. 

Permasalahan ini jika dibiarkan terus menerus tentu akan berdampak sangat besar bagi Kota Bandung. Bukan tidak mungkin lahan pertanian di Kota Bandung beberapa tahun ke belakang akan habis dan digantikan oleh besi dan aspal. Bukan tidak mungkin RTH Kota Bandung akan terus menipis dan semuanya berganti menjadi gedung-gedung tinggi. Maka dari itu perlu perhatian serius dari semua pihak untuk mengatasi masalah ini.

Dari pertanian, sungguh tidak mungkin untuk mengandalkan perluasan lahan atau yang lebih populer disebut sebagai ekstensifikasi. Lahan yang sudah teralih fungsi tidak mungkin dikembalikan kembali menjadi lahan pertanian. Opsi pembebasan lahan untuk pertanian pasti sama sekali tidak mungkin dilaksanakan oleh pemerintah karena pertanian bukanlah produk unggulan di Kota Bandung. 

Salah satu cara paling ampuh meningkatkan kualitas agrarian di Kota Bandung adalah lewat pengoptimalan lahan atau intensifikasi. Opsi tersebut sangat cocok untuk kota yang sekarang kekurangan lahan ini. 

Dilakukannya intensifikasi ini juga ikut mengakomodasi kepentingan petani dalam menafkahi keluarga. Dalam intensifikasi ini jelas peran dinas-dinas terkait sangat diperlukan. Pemerintah perlu menggodok program intensifikasi yang tepat bagi Kota Bandung dan mensosialisasikannya mulai dari unit terkecil di masyarakat petani.

Selain itu peran institusi-institusi pendidikan yang berhubungan langsung dengan pertanian sangatlah dibutuhkan untuk mengedukasi khalayak petani secara langsung. 

Para akademisi di bidang pertanian harus down to earth dan menjalankan skema jemput bola ke petani. Sudah bukan waktunya lagi meneliti, membuat, dan merilis jurnal-jurnal ilmiah yang tidak akan mungkin dibaca dan dipelajari oleh petani. Sudah waktunya akademisi berkasi secara nyata.

Perhatian khusus juga kita perlukan di pengelolaan lingkungan hidup yang baik. Sudah waktunya untuk menumbuhkan kesadaran di masyarakat akan pentingnya lingkungan hidup. 

Masyarakat selama ini beranggapan bahwa pengelolaan lingkungan hidup adalah tugas pemerintah. Padahal dalam pengelolaan lingkungan hidup dibutuhkan kesadaran bersama dari masyarakat terutama untuk menjaganya, sehingga pada akhirnya kita mampu bersama-sama menjaga predikat Bandung sebagai kota kembang yang asri, lestari, dan dipenuhi tanaman-tanaman yang teduh.

Ihsan Hibatul Arvie
Netizen yang tinggal di Kota Bandung

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar