Yamaha Aerox

Menjelajahi Jembatan Cirahong Karya Legendaris Belanda

  Minggu, 04 November 2018   Adi Ginanjar Maulana
Jembatan Cirahong di Kabupaten Tasikmalaya.(Kuncara Catur)

Penjajahan kolonial Belanda di nusantara merupakan salah satu episode terkelam dalam sejarah perjalanan bangsa Indonesia. Pendudukan bangsa asing yang mengeruk kekayaan bumi pertiwi ini mampu meninggalkan jejak kengerian luar biasa bagi bangsa.

Di balik jejak kelam kolonial, ada beberapa aspek yang diwariskan bagi bangsa kita, antara lain ilmu pengetahuan dan peninggalan berupa infrastruktur yang mereka bangun. Salah satu peninggalan bangsa kolonial Belanda yang masih bermanfaat sampai saat ini yakni alat transportasi kereta api.

Sistem transportasi ini sebagai sarana distribusi kekayaan alam serta mobilitas penduduk saat itu. Di Pulau Jawa sistem transportasi kereta api yang dipakai saat ini sebagian besar merupakan warisan Belanda. Dengan topografi alam yang sangat luar biasa dibutuhkan pengetahun tinggi agar sistem transportasi ini berjalan sebagaimana mestinya

Salah satu karya bangsa Belanda dalam sistem transportasi kereta api yakni sistem jembatan yang menghubungkan dua daerah dengan kontur alam cukup ekstrem. Sebagai contoh sistem jembatan yang menghubungkan dua daerah akibat terbelah oleh bukit atau sungai.

Bangsa Belanda membangun jembatan yang bisa dilalui oleh kereta api berbobot ratusan ton, jembatan tersebut masih dilalui hingga saat ini. Salah satunya Jembatan Cirahong letaknya di Desa Manonjaya, Tasikmalaya. Di perbatasan Kabupaten Tasikmalaya dengan Ciamis, Jawa Barat.

Jembatan ini dibangun pada zaman penjajahan Belanda, atau tepatnya pada 1893. Panjangnya mencapai 200 meter. Lebarnya tak lebih dari 2 meter. Dua penyanga beton setinggi 46 meter terlihat kokoh menopangnya.

Di bagian atas, besi-besi terlihat saling bersilang, menjaga bentang Cirahong, dari ujung ke ujung. Sepintas, tampak kokoh, perkasa.

Di atas jembatan, terdapat rel kereta api jurusan Bandung- Yogyakarta-Surabaya. Hingga kini, jalur tersebut masih aktif.

Karena jembatan ini tak cukup lebar, kendaraan roda dua ataupun roda empat yang akan melintas terpaksa harus bergantian. Warga sekitar pun bergotong-royong untuk mengatur lalu lintas dari kedua arahnya.

Koordinasinya sampai kendaraan terakhir yang lewat dari sana, Meski penuh rasa was-was, masyarakat sekitar lebih memilih menggunakan Jembatan Cirahong ini. Khususnya mereka yang beraktivitas dari Ciamis ke Tasikmalaya ataupun sebaliknya.

Uniknya jembatan ini berfungsi ganda yaitu di atas sebagai jalur kereta api dan di bawah untuk dilalui kendaraan bermotor dan mobil. Satu-satunya yang memiliki fungsi dual mode alias 2 in 1.

Pada saat malam, jembatan tersebut tetap dibuka. Sejumlah petugas berjaga, mengatur arus kendaraan yang akan melintas di atas Jembatan Cirahong.

Jembatan Cirahong juga menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung, karena pesona keindahannya. Penduduk lokal daerah Ciamis juga sangat ramah tamah terhadap wisatawan lokal maupun wisatawan asing.

Jembatan Cirahong tersebut sudah lama dikait-kaitkan dengan cerita aneh berbau mistis dan menyeramkan. Selalu ada cerita baru, dan mitos baru yang menyebar dari mulut ke mulut tentang kejadian-kejadian aneh yang menyeramkan di Jembatan Cirahong.

Di balik semua cerita seram itu, justru Jembatan Cirahong yang merupakan peninggalan penjajah Belanda menyimpan pesona alam yang indah. Tak sedikit orang-orang sengaja datang bukan sekadar menyebrang, tetapi hendak menikmati pemandangan, sekadar duduk-duduk di warung-warung kecil di pinggiran mulut jembatan.

Jembatan yang meghubungkan Tasik dan Ciamis tersebut memiliki panorama yang indah dan unsur sejarah yang bisa ditelusuri lebih dalam sebagai peninggalan leluhur. Namun dengan panorama yang indah, keragaman cerita rakyat, dan sejarah turun temurun yang ada, Jembatan Cirahong dapat dijadikan sebagai tempat wisata sejarah yang refresentatif untuk warga Ciamis maupun Tasikmalaya.

Kuncara Catur Pamungkas
Mahasiswa Jurnalistik UIN SGD Bandung

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar