Yamaha Mio S

Kedai Kopi Berbalut Sastra

  Jumat, 02 November 2018   Rizma Riyandi
Kopi

Tuhan nu ngasih, jelema nu ngasuh, alam nu ngasah (Tuhan yang memberi, manusia yang mengayomi, dan alam yang menyediakan)

Sedikit pepatah yang diucapkan oleh Muhammad Arifurrahman ketika dikunjungi di sebuah kedai kopi.

Ia bercerita, dengan sastralah ia menemukan sentuhan Tuhan yang begitu dalam. Pepatah itulah yang ia tekadkan untuk menyatukan balutan sastra dengan sebuah kopi, dan terciptalah kedai kopi bernuansa sastra: Kopi Seduh.

Kedai Kopi Seduh awalnya bernama Nyastra Coffee karena bermula pada kegigihan seorang aktivis muda UIN Sunan Gunung Djati Bandung yang mengumpulkan mahasiswa untuk mengikuti kajian mingguan di sebuah kontrakan.

Awalnya hanya dalam lingkup jurusan saja, namun akhirnya menyebar luas, sehingga banyak yang minat untuk mengikuti kajian rutin tersebut. Tuan rumah pun menjamu mereka dengan kopi hasil racikan sendiri, tak disangka banyak sekali yang terpikat oleh kopi tersebut.

Kajian yang diadakan setaip malam Jumat bada Magrib ini sudah berjalan sekitar dua tahun. Kajian ini biasa mereka sebut dengan Sastra Angin yang menekankan pada semua aspek kehidupan melalui kajian sastra dan dibumbui oleh pembahasan keimanan kepada Allah SWT. Dengan begitu, diharapkan kajian ini membentuk kesadaran bahwa segala apa pun di dunia ini Allah-lah yang menciptakan.

Dari pengabdian itulah, mereka mulai beranjak untuk melebarkan sayap, hingga kedua perintis, Arifurrahman dan Cipta Mulgia, memulai bisnisnya dengan penuh keteguhan hati, “Jadi niatnya sih, kopi ini bukan jual beli, tetapi lebih kepada belajar mengabdi melalui kopi,” ujar Arif. 

AYO BACA : Empat Brand Kopi Legendaris Khas Bandung

Dengan semangat yang kuat, kajian ini berjalan dengan rutin dan semakin dikenal oleh beberapa kalangan mahasiswa, dari situlah titik awal mereka menyebut Nyastra Coffee.

Kedai ini baru diresmikan 16 Januari 2018. Usia yang masih terbilang muda.

Bagi mereka, jika kafe ini bermanfaat bagi orang lain sebagai tempat berteduh, atau sebagai tempat berbagi Ilmu, maka mereka sudah sangat mensyukuri hasil keringat mereka itu. “Uang itu memang harus dicari karena kebutuhan, tapi berbagi ilmu itu jauh lebih berarti,” ujar Cipta.

Awalnya kedai ini hanya ada di depan kontrakan saja. Namun sekarang sudah mulai merangkak dan mencari tempat yang lebih strategis dibanding sebelumnya. Sekarang juga mereka sudah bekerja sama dengan salah satu angkringan Jogja yang ada di Bandung. 

Perpindahan tempat itu bukan tanpa alasan. Alasannya, mereka ingin berbagi ilmu dengan lebih banyak orang lagi.

Selain balutan sastra, kedai ini menyediakan berbagai ragam kopi hasil racikan sendiri yang dirancang seperti ala-ala kopi Italian, Japanese, Vietnam, dan Americano.

Ada pula kopi bijian dalam bentuk kemasan yang siap digiling, yang berasal dari berbagai macam daerah di Jawa Barat, seperti Rancakalong, Pangalengan, Manglayang, dan sekitarnya.

AYO BACA : Javaco, Harta Karun Kopi dari Bandung

Adapun menu minuman yang disediakan di sini yaitu berbagai macam coffee based espresso, seperti coffee latte, capucino, caramel macchiato, boom coffee, es kopi susu, es kopi, affogato, americano, milk americano, dan long black. Adapun berbagai macam coffee single origin seperti tubruk, v60, cold brew, vietnamese drip, dan japanese coffee.

Bagi pecinta kopi pastinya sudah sangat tahu tentang ragam kopi yang familiar tersebut. Bagi bukan pecinta kopi jangan khawatir, di kedai ini juga menyediakan berbagai minuman nonkopi, seperti susu soda, beng-beng latte, choco latte, dan minuman segar lainnya.

Banyak sekali menu minuman yang kedai ini sediakan, tentunya dengan balutan sastra. Inilah yang membedakan kedai kopi ini dengan yang lainnya.

Selain kita bisa menikmati kopi yang enak, kita juga mendapatkan ilmu yang belum tentu kita dapatkan dari sekolah formal atau dari rumah.

Tempat yang nyaman juga menjadi salah satu alasan mengapa saya sangat menyukai kedai ini. Nuansa ruangan yang sederhana namun estetik menjadi daya tarik tersendiri sehingga tak jarang yang mengunjungi adalah kaum muda dan remaja.  Kebersihan yang selalu dijaga oleh yang membuat pengunjung semakin menikmati suasana kedai sastra ini.

Penasaran kan berapa bujet yang harus kita keluarkan untuk mengunjungi kedai yang satu ini? kalian jangan khawatir, karena kedai kopi ini memberi kocek harga yang begitu ramah di kantong. Kita hanya perlu mengeluarkan uang sekitar Rp5.000-Rp15.000, yang hebatnya lagi kajian mingguan di dalamnya sama sekali tidak memungut biaya sedikit pun alias gratis.

Bagi kalian yang berminat untuk gabung dalam kajiannya, atau hanya ingin sekadar mencicipi kopi hasil karya mahasiswa ini, bisa kunjungi Jalan Padasuka Nomor 71, Pasirlayung, Cibeunying kidul, Kota Bandung. 

Fida Ulya Syahida

Mahasiswa UIN Bandung

AYO BACA : Buku Halte Sastra, Refleksi Penantian di Setiap Halte

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar