Yamaha NMax

Degradasi Selera Humor di Balik Kasus Coki dan Muslim

  Kamis, 01 November 2018   Adi Ginanjar Maulana
Coki Pardede dan Tretan Muslim.(Net)

Rasanya Warkop DKI adalah peramal, ketika lelucon sarkasme ‘Tertawalah, sebelum tertawa itu dilarang’ yang pernah dilontarkan di medio tahun 80-an menjadi kenyataan di tempo hari ini.

Setidaknya itu yang menimpa Coki Pardede dan Tretan Muslim, yang menjadi buah bibir warganet setelah mengunggah video bertajuk The Last Hope Kitchen–Memasak Daging Babi Dicampur dengan Kurma di akun Youtube pribadi Tretan. Ya, memang Tretan Muslim mempunyai konten masak-masak dengan menggunakan bahan baku yang tidak lazim.

Setelah unggahan tersebut viral, Coki-Muslim mengaku hal tersebut ternyata berdampak sangat buruk kepada mereka. Mereka mendapat cacian, persekusi, ujaran menghalalkan darah mereka untuk dibunuh, hingga ancaman pembunuhan terhadap orang terdekat mereka.

Hal tersebut terkesan berlebihan hanya karena sebuah lelucon. Namun bagaimana lagi, saat ini kita seolah hidup di dunia yang penuh penghakiman. Setiap orang maupun kelompok merasa berhak untuk memvonis dan mengadili orang lain, dengan tuduhan-tuduhan yang berasal dari asumsi mereka. Asumsi itu biasanya berdasar politik hingga agama.

Hal tersebut berlebihan dan berpotensi terjerat hukum karena berujung pada persekusi dan ancaman pembunuhan.  Mungkin masih dalam batas kewajaran apabila hanya sebatas adu argumen maupun silang pendapat.

Tindakan vonis-memvonis pun bukan hal asing bagi Coki-Muslim sendiri, karena di Majelis Lucu pun mereka berperan sebagai hakim komedi yang memvonis tingkat kelucuan komedian lain. Namun, hal tersebut dapat dimaklumi, sebagai komedi. Ketidaksetujuan mereka disampaikan melalui argumen yang bersenjatakan komedi, bukan dengan persekusi.

Salah satu yang membuat ketersinggungan dari video tersebut adalah ketika Coki-Muslim mencampur sari kurma dan madu yang berlabel huruf arab sebagai bahan pelengkap dari babi yang dimasak. Padahal, jika kita melihat secara lebih terbuka, konten memasak ala Coki-Muslim lebih menyindir fenomena ‘kearab-araban’ yang kerap dikaitkan dengan agama Islam.

Secara personal, setelah melihat bagaimana reaktifnya orang-orang dalam memandang lelucon sekelas dark comedy ini membuat saya semakin yakin, bahwa memang negeri kita sedang terjadi degradasi selera humor. Orang-orang begitu tegang, terlebih menjelang tahun politik seperti ini.

Mungkin, itulah kenapa acara lawak yang garing dan tidak mendidik di televisi dapat tetap eksis hingga hari ini. Ya, karena memang orang-orang siapnya menerima yang seperti itu. Belum siap untuk menerima komedi yang beragam, yang berbeda dengan nilai-nilai yang dianut. Karena mungkin, mereka memaksakan bahwa komedi harus mempunyai standar keadaban yang sesuai dengan pemahaman mereka.

Kondisi yang suka menghakimi asumsi kebenaran yang dipaksakan, ditakutkan dapat menimbulkan kesan beragama yang galak dan menyerang. Orang-orang akan marah dan reaktif ketika ada bendera terbakar, tapi tak peduli untuk mereka yang tergusur. Murka terhadap komedi, tapi santai negerinya dikorupsi.

Apa yang menimpa Coki dan Muslim hanyalah pemanasan. Mungkin ada agenda besar di balik merosotnya degradasi humor bangsa ini. Terlebih sebentar lagi kita akan menyambut tahun politik. 

Terlepas dari itu, kini di tengah kabut asap potensi intoleransi yang menyesakkan dada, kita dipaksa untuk tetap tenang agar dapat bernapas lega, agar tidak terjebak dalam dunia yang penuh penghakiman.

Harisul Amal

Mahasiswa Jurnalistik UIN SGD Bandung

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar