Yamaha NMax

Jeratan UU ITE dalam Hari Halloween

  Kamis, 01 November 2018   Adi Ginanjar Maulana   Netizen
Ilustrasi Halloween.(www.history.com)

Siapa yang tidak tahu hari Halloween? Perayaan yang terkenal dengan hal-hal horor ini menjadi sebuah perayaan yang dapat dijumpai di sejumlah negara, termasuk di Indonesia.

Dalam sejarahnya, Halloween merupakan malam hari raya semua orang kudus di Kekristenan Barat. Perayaan ini mengawali peringatan Trihari Masa Para Kudus, yaitu suatu periode yang didedikasikan untuk mengenang orang yang telah meninggal dunia. Banyak bentuk perayaan dari Hari Halloween ini, di antaranya trick or treating, pesta kostum, sampai atraksi berhantu.

Walaupun tak seramai hari Valentine, perayaan hari Halloween dapat dijumpai dengan mudah. Tak hanya itu, ucapan selamat Hari Halloween pun dapat kita jumpai di media sosial dan disertai gambar-gambar menyeramkan. Mulai dari gambar labu yang identik dengan Halloween, tulisan-tulisan dengan font menyeramkan, sampai berdandan dan menggunakan kostum yang menyeramkan.

Mengunggah gambar-gambar menyeramkan tentunya tidak dilarang apabila sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Apalagi jika maksudnya untuk meramaikan Hari Halloween ini. Namun ternyata masih ada orang-orang yang belum mengetahui gambar menyeramkan seperti apa yang boleh diunggah.

Jika diteliti, pada hari Halloween ini kita dapat dengan mudah menjumpai orang-orang yang mengunggah gambar-gambar jenazah tanpa sensor, atau foto-foto yang termasuk kategori sadis sebagai foto yang bertema Halloween. Foto tersebut diunggah disertai keterangan "Selamat Hari Halloween" dan dihiasi berbagai emotikon.

Gambar-gambar tersebut seharusnya tidak beredar sembarangan, terlebih digunakan sebagai alat untuk mengucapkan suatu perayaan. Selain tidak etis, gambar seperti ini akan mengganggu pengguna media sosial lainnya. Hal seperti ini telah diatur dalam UU ITE, salah satunya pasal 27 ayat 1.

Larangan Mengunggah Gambar Dalam UU ITE

Pada pasal 27 ayat 1 UU ITE disebutkan bahwa melarang setiap orang dengan sengaja dan tanpa mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen elektronik yang memiliki muatan yang melanggar kesusilaan.

Dalam mengunggah gambar-gambar jenazah seperti ini termasuk ke dalam melanggar kesusilaan. Sebab konten yang ditampilkan menyangkut privasi seseorang sehingga tidak bisa disebar sembarangan. Garis etis ini tidak hanya berlaku pada gambar jenazah, gambar orang sakit atau korban kecelakaan pun tidak bisa diunggah sembarangan.

Kebebasan dalam mengunggah di media sosial dan kemudahan akses internet memiliki peranan besar dalam hal ini. Sebab hal apa pun yang diunggah ke dalam media sosial memiliki dampak yang sangat luas bagi keluarga korban ataupun masyarakat luas yang ikut melihat gambar tersebut. Inilah yang disebut sebagai mengganggu pengguna media sosial lainnya.

Bisa dibayangkan bagaimana perasaan keluarga korban apabila melihat gambar saudaranya yang menjadi korban dengan kondisi mengerikan dan mengenaskan tersebar tanpa ada sensor, apalagi jika ditambah dengan caption yang terkesan menjadikannya bahan lelucon. Hal ini akan menimbulkan efek yang besar.

Selain kemudahan dan kebebasan di dunia maya, tingkat pengetahuan masyarakat terhadap teknologi informasi pun menjadi salah satu faktor terjadinya fenomena ini. Apabila masyarakat memiliki pengetahuan mengenai teknologi informasi, maka akan banyak pengguna media sosial yang bijak dalam berselancar di dunia maya.

Oleh karena itu, tidak hanya hukum yang dibutuhkan dalam fenomena ini tetapi juga penyebaran informasi mengenai bagaimana menggunakan internet dengan baik juga dibutuhkan. Dengan begitu perayaan Halloween tidak lagi dicederai oleh  gambar-gambar yang tidak baik dikonsumsi publik.

Fantria Ayuning Dwinita Ramdhani

Mahasiswa Jurnalistik UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar