Yamaha Lexi

Bahasa Ibu yang Mulai Terabaikan

  Selasa, 30 Oktober 2018   Adi Ginanjar Maulana   Netizen
Ilustrasi bahasa.(Pixabay)

Seiring perkembangan zaman, bahasa ibu mulai terabaikan. Bahasa ibu saat ini biasanya hanya menjadi bahasa pelengkap saja.

Jika ini terus berlanjut, bisa dipastikan bahasa ibu akan mengalami kepunahan. Padahal, bahasa ibu sangat penting untuk membangun citra suatu bangsa.

Saat ini orang-orang lebih memilih mempelajari bahasa luar atau menggunakan bahasa gaul dibandingkan bahasa daerah.

Faktanya, pada tahun 2018 ini sebelas bahasa daerah dinyatakan punah, sembilan belas terancam, dan dua kritis.

Bahasa yang punah tersebut berasal dari Maluku yaitu bahasa daerah Kajeli/Kayeli, Piru, Moksela, Palumata, Ternateno, Hukumina, Hoti, Serua, dan Nila, serta bahasa Papua yaitu Tandia dan Mawes.

Sementara itu, bahasa yang kritis adalah bahsa daerah Reta dari NTT, Saponi dari Papua, dan dari Maluku yaitu bahasa daerah Ibo dan Mehe.

Di era globalisasi ini, penggunaan bahasa ibu dalam berkomunikasi kurang diperhatikan, orang-orang lebih memilih bahasa asing untuk dipelajari dan digunakan.

Kurangnya pemakaian bahasa ibu memiliki beberapa alasan. Salah satunya adalah tuntutan agar kita dapat eksis di dunia internasional.

Alasan yang sangat kuat ini membuat masyarakat lebih memilih mempelajari bahasa asing dibanding bahasa daerah.

Kurangnya kesadaran generasi muda juga menjadi salah satu alasan pudarnya bahasa daerah.

Di zaman sekarang, penggunaan bahasa gaul lebih diminati, bahkan bahasa gaul kini telah meluas kepada anak-anak. Sungguh menyedihkan, saat para penerus bangsa ini lebih memilih menggunakan bahasa gaul dibandingkan bahasa daerah.  

Penggunaan bahasa gaul yang makin meluas bisa dibilang telah memaksa kita untuk mengikutinya. Seperti yang beberapa waktu ini sedang merebak yaitu kalimat “kids zaman now”, yang berarti anak-anak zaman sekarang.

Ada juga sebutan “generasi micin” yang berarti anak-anak berperilaku tidak seperti seharusnya.

Sungguh ironi ketika anak-anak zaman sekarang mengucapkan bahasa gaul tersebut, apalagi bahasa-bahasa itu malah seperti memojokkan seseorang.

Penggunaan kata-kata tersebut sebenarnya masih sah-sah saja jika diucapkan kepada teman sebaya, namun yang menjadi masalah adalah jika penggunaan kata-kata gaul tersebut dengan sengaja atau tidak sengaja diucapkan kepada yang lebih tua.

Penggunaan bahasa gaul yang digunakan kepada orang yang tidak tahu artinya bisa menimbulkan kesalahan presepsi.

Penggunaan bahasa gaul juga boleh saja digunakan jika berkomunikasi secara informal. Namun, jika seseorang sudah terbiasa berbicara dengan bahasa gaul, yang ditakutkan adalah ia juga berbicara bahasa gaul ketika sedang berkomunikasi secara formal. Maka inilah salah satu alasan mengapa kita harus menghindari bahasa gaul.

Sebenarnya penggunaan bahasa gaul sulit untuk dihindarkan, apalagi ada media massa yang bisa menyebarkan informasi secara cepat.

Saat ini yang bisa kita lakukan adalah meminimalisasi dengan meningkatkan eksistensi bahasa Indonesia, dan menggunakan bahasa ibu dalam komunikasi sehari-hari.

Jika bahasa gaul terus digunakan, maka dapat mengancam eksistensi bahasa Indonesia dan bahasa daerah di negeri Indonesia sendiri.

Banyak cara yang bisa dilakukan kita untuk mencegah punahnya bahasa daerah. Yang paling dasar adalah generasi muda harus berbangga dengan bahasa daerah masing-masing dan menggunakannya dalam berkomunikasi.

Harus juga selalu diimbau agar anak muda jangan merasa lebih bergengsi bila menggunakan bahasa asing, karena bahasa daerah pun adalah suatu yang harus  dilestarikan.

Keluarga, khususnya orang tua sebagai agen pertama dalam pembelajaran seorang anak, memiliki peranan penting untuk mengajari anaknya terhadap budaya, serta bahasa daerahnya.

Orang tua seharusnya menggunakan bahasa daerah dalam berkomunikasi untuk memberi contoh kepada anak-anaknya. Dengan cara itu, seorang anak pasti bisa atau minimal akan mengerti bahasa daerahnya sendiri.

Pemerintah juga harus turut andil untuk menjaga bahasa ibu ini. Misalnya dengan cara menjadikan pelajaran bahasa daerah sebagai pelajaran wajib yang ada di kurikulum sekolah.

Karena saat ini di Indonesia sendiri, kurikulum yang digunakan dalam dunia pendidikan banyak yang lebih memprioritaskan bahasa asing seperti bahasa Inggris, dibanding bahasa daerah.

Cara lain untuk menjaga bahasa agar tidak mengalami kepunahan yaitu harus adanya aturan dari pemerintah setempat.

Nyatanya, di Indonesia sendiri hanya ada satu peraturan daerah yang mengatur tentang pelindungan bahasa daerah dan sastra Indonesia yaitu Provinsi Sumatra Utara.

Sangat disayangkan jika daerah lain tidak memiliki peraturan daerah yang mengatur tentang perlindungan bahasa daerah ini.

Media juga memiliki peranan yang sangat penting dalam mengubah cara pandang masyarakat agar tidak meremehkan bahasa daerah.

Misalnya dengan memuat isu-isu yang terkait dengan pelestarian bahasa daerah, ataupun dengan menyiarkan tayangan yang menggunakan bahasa daerah.

Bahasa daerah harus dijaga karena mencerminkan identitas bangsa kita sebagai bangsa yang kaya akan budaya dan bahasa.

Oleh karena itu, sudah sepatutnya kita untuk menggunakan kembali bahasa daerah dalam komunikasi sehari-hari. Karena, jika bukan bangsa ini yang melestarikan, maka siapa yang akan melestarikannya.

Putri Indah Pratiwi

Mahasiswa Jurnalistik UIN Bandung

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar