Yamaha Mio S

Maukah Boeing Bersikap Jujur?

  Selasa, 30 Oktober 2018   Dadi Haryadi
Boeing 737-Max. (Istimewa)

Tidak semua maskapai mau membeli pesawat seri terbaru karena khawatir ada masalah, sekalipun sudah disertifikasi Federal Aviation Federation (AFF) atau Dinas Penerbangan Federal. Kekhawatiran ini bisa disebut subyektif, tetapi terbukti pada Boeing 787 Dreamliner.

Pesawat ukuran sedang ini melakukan penerbangan perdana pada 2009 dan melayani penerbangan  komersial dua tahun kemudian. Sejumlah 742 unit sudah diproduksi hingga September 2018.

Pada tahap awal, penyerahan Dreamliner ke maskapai sempat tertunda, masalah muncul saat dioperasionalkan. Dreamliner All Nippon Airways (ANA) mendarat darurat karena kerusakan baterai ion-lithium. Problem yang sama melanda JAL dan United Airlines.

Bagaimana dengan B-737-Max 8, 9, 10?

AYO BACA : Lion Air Jatuh: 21 Pegawai Kemenkeu Jadi Korban JT610

Pesawat ini dimaksudkan untuk menyaingi Airbus seri A320neo yang diklaim lebih hemat bahan bakar. Dirancang sebagai pesawat yang hemat penggunaan avtur sebanyak 20 persen dibanding generasi Boeing-737 saat ini, termasuk seri NG.

Daya jelajah 3.500 mil laut (6.500 km). Dengan jumlah penumpang sebanyak 162 hingga maksimum 210. Kabin lebih senyap dan pencahayaannya dapat diatur untuk mengatasi jet lag.

Teknologi mutakhir sebuah pesawat dapat dikenali pada sayapnya. Boeing seri Max mempunyai ujung sayap yang terbelah menekuk ke atas dan ke bawah, Split Scimitar Winglet, tujuannya untuk mengatasi hambatan udara saat pesawat melaju dengan kecepatan tinggi. Ini berarti power mesin bisa dimanfaatkan secara maksimal.
Max melakukan penerbangan perdana dari pabriknya di Renton, AS pada 29 Januari 2011. Pada 2017, Boeing terpaksa menghentikan penerbangan percobaan karena pada turbin mesin pesawat ditemukan “quality problems”. Sejumlah 21 pesawat di-grounded.

Lion Air menerima pesawat ke sepuluh, PK-LQP, 15 Agustus 2018, dari total pesanan 218. Kini, Lion Air memiliki 120 pesawat, terdiri dari 10 Boeing 737 MAX 8 (180 kelas ekonomi), 70 Boeing 737-900ER (215 kelas ekonomi), 36 Boeing 737-800NG (189 kelas ekonomi), satu Boeing 747-400 (12 kursi kelas bisnis dan 492 kelas ekonomi) dan tiga Airbus A330-300 (440 kelas ekonomi).

AYO BACA : Ada Apa Dengan Lion JT-610?

Berkenaan dengan jumlah pesawat sebanyak itu, maka Lion Air sekurang-kurangnya mempunyai 720 awak cockpit, sebab menurut kelaziman, satu pesawat didukung minimal tiga set kapten pilot dan ko-pilot. Adapun para teknisi biasanya menunggu di kawasan apron dalam jumlah cukup banyak, mereka disertai teknisi yang sudah berpengalaman serta berhak menyatakan pesawat boleh terbang atau tidak. Kapten Pilot bekerja sama dengan release-man ini.

Selain black box, yang berisi data penerbangan dan rekaman pembicaraan pilot dengan ATC, penjelasan release man tentang kelaikan pesawat  pada Senin pagi, 29/10/2018 turut  membuka fakta penyebab musibah jatuhnya Boeing 737-Max 8 di Tanjung  Karawang, Jawa Barat.

Bagi Boeing Commercial Airplanes, unit bisnis The Boeing Company,  pengaruh musibah tidak bisa dianggap kecil, harga saham Boeing turun hampir tujuh persen pada perdagangan Senin pagi waktu New York atau Senin malam WIB.  Iapun akan turut mempengaruhi prospek penjualan dan operasional Max 8 yang sudah dipakai maskapai penerbangan.

Kelak, Boeing harus berbenah bila kemalangan disebabkan sistem yang tidak berfungsi bukan cuaca atau kesalahan manusia. Berita yang berkembang, pesawat dicurigai mengalami kegagalan dalam sistem pengendalian. Kepastiannya menunggu hasil pemeriksaan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). 

Farid Khalid

AYO BACA : Lion Air Jatuh: 3 Jaksa Jadi Korban

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar