Yamaha Mio S

Ada Apa Dengan Lion JT-610?

  Senin, 29 Oktober 2018   Dadi Haryadi
(Ilustrasi Pixabay)

Pesawat Lion Airlines Boeing 737-800-MAX seharusnya tiba di Bandara Udara Depati Amir pada sekitar pukul 7.20 pagi, namun nahas ia jatuh di kawasan perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat sekitar jam 6.32 pagi, 13 menit setelah tinggal landas. Kenapa jatuh?

Walaupun saat mendarat merupakan fase yang paling berbahaya, namun tahap tinggal landas atau take off tidak kurang gentingnya. Berbagai kemungkinan bisa terjadi ketika pesawat mulai mengangkasa dengan kecepatan penuh.

Sebelum pesawat beranjak dari lahan parkir, selalu terjadi percakapan antara awak cockpit dengan pengawas lalu lintas udara (ATC) tentang arah, rute, kecepatan dan ketinggian pesawat. Pilot juga wajib meminta izin ATC bila akan menuju ujung landas pacu (runway) untuk tinggal landas.

Beberapa saat setelah pesawat mengudara, kapten pilot meminta ko pilot menarik tuas roda pendarat ke atas. Lalu menaikkan flap hingga posisi nol. Setelah itu ko pilot membacakan check list after take off, yakni daftar urut-urutan pengendalian instrumen yang harus dilakukan setelah tinggal landas.

AYO BACA : Lion Air Jatuh: Basarnas Sebut ELT Pesawat Tidak Terdeteksi

Pada fase ini, kapten pilot secara manual masih terus mengemudikan pesawat berpedoman kepada indikator arah, ketinggian, kecepatan yang tertera pada layar digital di hadapannya. Sementara kopilot selain turut mengawasi instrumen dan siap menerima perintah kapten, juga menjaga hubungan komunikasi dengan ATC.

Biasanya pada saat itu, lampu tanda menggunakan sabuk kursi masih menyala belum dipadamkan. Para penumpang masih terikat dalam keadaan terkantuk-kantuk karena bangun terlalu pagi atau alasan lain.

Menurut ketentuan, pesawat setelah berada di atas perairan Tanjung Karawang akan belok ke kiri seraya menambah ketinggian langsung menuju Pangkal Pinang, pulau Bangka. Awak cockpit akan meminta izin ATC sebelum menambah ketinggian.

Ketinggian pesawat bila ke arah Barat lazimnya genap, seperti 24.000, 26.000, 28.000 kaki di atas permukaan laut (mdl) dan seterusnya.

AYO BACA : Lion Air Jatuh: Tim Temukan Serpihan Pesawat dan Potongan Tubuh

Pada data laman flightradar24, Lion PK-LQP dengan nomor penerbangan JT-610  telah mencapai ketinggian 5.450 kaki mdl dengan kecepatan 324 knot perjam, dalam waktu sebelas menit setelah take off. Setelah itu pesawat menurun dengan kecepatan 322 knot/jam atau sekitar 596,344 km per jam. Satu knot sama dengan 1,852 km.

Persoalannya adalah mengapa pesawat menurun? Ada masalah apa? Terkait aliran bahan bakar? Kegagalan mesin atau lainnya?

Kalangan instansi terkait masih mencari sebab-sebab kecelakaan pesawat yang baru diserahkan ke Lion Airlines pada Agustus lalu itu. Bahkan musibah ini disebutkan merupakan pertama seri MAX di dunia, pesawat yang dimaksudkan untuk menyaingi A-321 neo yang hemat bakar bakar.

Ada baiknya menunggu kesimpulan hasil temuan. Kita turut berduka atas musibah yang menimpa 181 penumpang dan delapan awak pesawat. Semoga keluarga yang ditinggalkan tabah menghadapinya.

Farid Khalidi

AYO BACA : Lion Air Jatuh: Perjalanan Terakhir JT610

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar