Yamaha Mio S

Lika-Liku Merawat Anak Berkebutuhan Khusus

  Minggu, 28 Oktober 2018   Rizma Riyandi
Anak Disabilitas. (Istimewa)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM--Sekilas tak ada yang berbeda dari Rendra. Bocah berusia lima tahun itu tampak sama dengan anak-anak lain. Senyumnya terus merekah, wajahnya pun terlihat gembira saat bermain mobil-mobilan di taman perumahan warga Kelurahan Maguwoharjo, Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Namun, jika diperhatikan semakin dekat, anak dari pasangan Asti (34) dan Nana (36) itu terlihat memakai alat bantu dengar di telinga sebelah kiri. Ya, Rendra memang mengalami gangguan audio sejak lahir. 

Kemampuan dengarnya sangat terbatas, sehingga ia kesulitan dalam belajar berbicara. Makanya sampai berumur tiga tahun, Rendra belum juga lancar berkata-kata.

Meski begitu, kondisi tersebut tak membuat Asti dan Nana putus asa. Demi kesehatan fisik anaknya, mereka berusaha sebisa mungkin memberi perawatan kesehatan terbaik bagi Rendra.

Mulai dari perawatan ke dokter spesialis THT (telinga, hidung, dan tenggorokan), sampai terapi wicara mereka jalani untuk memulihkan kondisi Rendra. Keduanya bahkan harus bergantian mengantarkan anak semata wayang untuk terapi di sela-sela waktu kerja mereka.

Asti mengaku tak mudah menjalani peran sebagai ibu dengan anak berkebutuhan khusus. Selain harus rajin mengikutkan anak ke berbagai perawatan, ia juga harus telaten dan super sabar dalam mendidik anak.

"Awalnya saya juga syok waktu tahu kondisi anak saya seperti ini (tunarungu). Tapi bagaimana pun, saya dan suami harus semangat untuk merawat anak," katanya pada Ayobandung.com belum lama ini.

Meski sempat sedih dengan kenyataan yang terjadi, Asti memiliki keyakinan bahwa sang anak punya hak untuk tumbuh-kembang seperti bocah lainnya. Keyakinan itulah yang membuatnya terus berikhtiar memulihkan pendengaran Rendra.

AYO BACA : Anak Autisme pun Punya Kesempatan yang Sama

Lambat-laun, usahanya dan suami membuahkan hasil. Saat ini, Rendra sudah mampu berbicara walau masih terbata-bata.

Asti mengatakan, pengasuhan terhadap anak disabilitas harus didasari oleh kesadaran yang kuat dari orang tua terlebih dulu. Hal ini karena tak jarang ada orang tua yang malu, sehingga mengabaikan kondisi anaknya.

"Saya juga terus menyemangati diri sendiri dan suami untuk merawat Rendra. Karena Rendra kan punya hak untuk mendapatkan perawatan kesehatan supaya bisa sama seperti anak lain," ujar Asti.

Hal yang sama juga diungkapkan Aam (54). Ibu asal Kecamatan Ciranjang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat ini terus berupaya merawat anak bungsunya yang tak mampu melihat (tunanetra).

"Dulu sempat sakit hati karena diejek orang, soalnya anak saya kan tidak bisa lihat. Berobat ke dokter juga tidak bisa disembuhkan. Tapi bagaimana pun, ini (anak) kan rezeki kami. Jadi kami harus merawatnya sebaik mungkin," ujar Aam.

Oleh karena itu, ia dan suami selalu berusaha memberikan pengasuhan terbaik pada Ujang dengan cara mengikutkannya dalam pendidikan agama yang mumpuni. Hingga di usia ke-15, Ujang sudah mampu menghapal sebagain besar juz Alquran dan banyak hadis.

Aam mengaku tak pernah membeda-bedakan Ujang dengan ketiga anaknya yang lain. Termasuk dari segi pemenuhan kebutuhan, baik sandang dan pangan. "Kalau saudara-saudaranya dapat baju baru, ya Ujang juga dapat baju baru," tutur Aam.

Ia dan suami percaya, jika dirawat dengan baik, anak berkebutuhan khusus juga bisa hidup mandiri. Hal tersebut rupanya terbukti. Saat ini Ujang sudah mampu membiayai kehidupannya sendiri melalui toko yang dikekola sang ibu.

AYO BACA : Kota Bandung Bakal Punya Perwal tentang Disabilitas

"Alhamdulillah ada yang percaya kasih modal dagang ke Ujang. Ini artinya kan setiap orang punya rezeki masing-masing. Jadi untuk orang tua yang punya anak berkebutuhan khusus jangan takut dan sedih. Yang penting kita harus merawat anak dengan baik," tutup Aam.

Sebelumnya, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Yohana Yambise mengatakan, para penyandang disabilitas sering menerima diskriminasi. Termasuk dalam hal perawatan pada anak-anak berkebutuhan khusus.

Akses para penyandang disabilitas terhadap berbagai layanan seperti kesehatan dan pendidikan pun masih kurang. Belum lagi dari aspek pemberdayaan mereka belum mendapatkan pemberdayaan yang maksimal. 

"Padahal bila diberdayakan, para penyandang disabilitas merupakan sumber daya potensial dan dapat memberikan sumbangan serta kontribusi di segala bidang pembangunan," paparnya.

Berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional Tahun 2012, penyandang disabilitas di Indonesia berjumlah 6.047.008 jiwa atau setara 2,54% dari keseluruhan penduduk. Angka itu lebih rendah dari angka perkiraan PBB yang memperkirakan jumlah Penyandang Disabilitas di setiap negara  diprediksi 15% dari jumlah penduduknya.

Adapun jumlah penyandang disabilitas berdasarkan data Kementerian Sosial pada tahun 2013 sekitar 1.436.890 orang. Dengan rincian jumlah penyandang disabilitas laki-laki sebesar 804.431 orang, sedangkan jumlah penyandang disabilitas perempuan sebesar 632.459 orang.

Yohana menjelaskan, perlindungan terhadap hak penyandang disabilitas telah ditetapkan dalam Undang-Undang 4 Tahun 1997 tentang Penyandang Cacat. Namun, UU tersebut belum secara khusus mengatur dan melindungi hak Perempuan dan anak penyandang disabilitas atau anak berkebutuhan khusus.

Pasalnya selama ini mereka telah mengalami diskriminasi ganda sebagai akibat dari konstruksi sosial yang menempatkan perempuan dan anak perempuan sebagai objek, serta kelompok yang rentan terhadap berbagai bentuk kekerasan dan pelanggaran HAM.  

"Selain itu, Undang Undang Nomor 4 tahun 1997 juga mengalami masalah dalam tataran implementasinya. Seperti belum memiliki data terpadu yang akurat tentang penyandang disabilitas,” jelas Yohana.

Selain UU No 4/1997, kesungguhan pemerintah RI dalam memenuhi hak para penyandang disabilitas juga diwujudkan dengan ratifikasi Konvensi Mengenai Hak-Hak Penyandang Disabilitas. 

Hal tersebut tertuang dalam Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2011 tentang Pengesahan Convention On The Rights Of Persons with Disabilities (Konvensi mengenai Hak-Hak Penyandang Disabilitas). Ratifikasi ini menunjukkan kesungguhan negara untuk menghormati, melindungi, memenuhi, dan memajukan hak-hak penyandang disabilitas, yang pada akhirnya diharapkan dapat memenuhi kesejahteraan para penyandang disabilitas.

AYO BACA : Semangat Belajar Seorang Disabilitas

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar